• Tentang
  • Sumber
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
Rabu, April 29, 2026
  • Login
  • Home
  • BeritaMu

    PP ‘Aisyiyah Respons Kekerasan Anak di Daycare Yogyakarta

    ‘Aisyiyah Ingatkan Risiko Dunia Digital bagi Anak, Dorong Peran Orang Tua dan Regulasi

    Dari Rendang Qurban untuk Stunting: Pelajaran Berharga dari Talkshow Lazismu Brebes

    SDGs Center UMS Jadi Mitra Konsultasi Bapperida Pekalongan dalam Penyusunan RAD

    TK Surya Ceria ‘Aisyiyah Karanganyar Gelar Peringatan Hari Kartini

    Lanjutkan Estafet Digitalisasi Muhammadiyah, Tim SatuMu PWM Sumut Sosialisasi dan Implementasi di PDM Tanjung Bala

    Lanjutkan Estafet Digitalisasi Muhammadiyah, Tim SatuMu PWM Sumut Sosialisasi dan Implementasi di PDM Tanjung Bala

    Trending Tags

    • Kabar PTMA

      PP ‘Aisyiyah Respons Kekerasan Anak di Daycare Yogyakarta

      ‘Aisyiyah Ingatkan Risiko Dunia Digital bagi Anak, Dorong Peran Orang Tua dan Regulasi

      Dari Rendang Qurban untuk Stunting: Pelajaran Berharga dari Talkshow Lazismu Brebes

      SDGs Center UMS Jadi Mitra Konsultasi Bapperida Pekalongan dalam Penyusunan RAD

      TK Surya Ceria ‘Aisyiyah Karanganyar Gelar Peringatan Hari Kartini

      Lanjutkan Estafet Digitalisasi Muhammadiyah, Tim SatuMu PWM Sumut Sosialisasi dan Implementasi di PDM Tanjung Bala

      Lanjutkan Estafet Digitalisasi Muhammadiyah, Tim SatuMu PWM Sumut Sosialisasi dan Implementasi di PDM Tanjung Bala

      Trending Tags

      • Hukum Islam

        Mengalihkan Penyembelihan Dam ke Tanah Air, Bagaimana Hukumnya?

        Qiyamul Lail 4 Rakaat, Apakah Pakai Tahiyat Awal?

        Shalat Sunnah Rawatib Apa Saja?

        Shalat Dhuha Secara Berjamaah, Apakah Dituntunkan?

        Lafal Takbir Hari Raya Sesuai Tuntunan Rasulullah SAW

        Khutbah Idul Fitri dan Idul Adha 1 Kali atau 2 Kali, dan Haruskah Diawali Takbir?

      • SekolahMu
        SD Mugeb Menggelar Tasmik Tahfidh Excellent

        SD Mugeb Menggelar Tasmik Tahfidh Excellent

        Siswa SMK Muhlibat Mengikuti Sosialisasi Bahaya HIV/AIDS

        Siswa SMK Muhlibat Mengikuti Sosialisasi Bahaya HIV/AIDS

        Di SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen, Kemenko PMK Luncurkan Gerakan Tanam 10 Juta Pohon

        Kepala Sekolah Muhammadiyah Ikutilah Kaidah Persyarikatan, Jangan sak Karepe Dewe

        Kepala Sekolah Muhammadiyah Ikutilah Kaidah Persyarikatan, Jangan sak Karepe Dewe

        Sekolah Muhammadiyah Sosialisasikan Muktamar 48 Ke Para Siswa

        Sekolah Muhammadiyah Sosialisasikan Muktamar 48 Ke Para Siswa

        Serunya Lomba Tarik Tambang di Sekolah Ini

        Serunya Lomba Tarik Tambang di Sekolah Ini

        Trending Tags

        • Majelis Virtual
        No Result
        View All Result
        Virtumu - Muhammadiyah All Channel
        Advertisement
        • Home
        • BeritaMu

          PP ‘Aisyiyah Respons Kekerasan Anak di Daycare Yogyakarta

          ‘Aisyiyah Ingatkan Risiko Dunia Digital bagi Anak, Dorong Peran Orang Tua dan Regulasi

          Dari Rendang Qurban untuk Stunting: Pelajaran Berharga dari Talkshow Lazismu Brebes

          SDGs Center UMS Jadi Mitra Konsultasi Bapperida Pekalongan dalam Penyusunan RAD

          TK Surya Ceria ‘Aisyiyah Karanganyar Gelar Peringatan Hari Kartini

          Lanjutkan Estafet Digitalisasi Muhammadiyah, Tim SatuMu PWM Sumut Sosialisasi dan Implementasi di PDM Tanjung Bala

          Lanjutkan Estafet Digitalisasi Muhammadiyah, Tim SatuMu PWM Sumut Sosialisasi dan Implementasi di PDM Tanjung Bala

          Trending Tags

          • Kabar PTMA

            PP ‘Aisyiyah Respons Kekerasan Anak di Daycare Yogyakarta

            ‘Aisyiyah Ingatkan Risiko Dunia Digital bagi Anak, Dorong Peran Orang Tua dan Regulasi

            Dari Rendang Qurban untuk Stunting: Pelajaran Berharga dari Talkshow Lazismu Brebes

            SDGs Center UMS Jadi Mitra Konsultasi Bapperida Pekalongan dalam Penyusunan RAD

            TK Surya Ceria ‘Aisyiyah Karanganyar Gelar Peringatan Hari Kartini

            Lanjutkan Estafet Digitalisasi Muhammadiyah, Tim SatuMu PWM Sumut Sosialisasi dan Implementasi di PDM Tanjung Bala

            Lanjutkan Estafet Digitalisasi Muhammadiyah, Tim SatuMu PWM Sumut Sosialisasi dan Implementasi di PDM Tanjung Bala

            Trending Tags

            • Hukum Islam

              Mengalihkan Penyembelihan Dam ke Tanah Air, Bagaimana Hukumnya?

              Qiyamul Lail 4 Rakaat, Apakah Pakai Tahiyat Awal?

              Shalat Sunnah Rawatib Apa Saja?

              Shalat Dhuha Secara Berjamaah, Apakah Dituntunkan?

              Lafal Takbir Hari Raya Sesuai Tuntunan Rasulullah SAW

              Khutbah Idul Fitri dan Idul Adha 1 Kali atau 2 Kali, dan Haruskah Diawali Takbir?

            • SekolahMu
              SD Mugeb Menggelar Tasmik Tahfidh Excellent

              SD Mugeb Menggelar Tasmik Tahfidh Excellent

              Siswa SMK Muhlibat Mengikuti Sosialisasi Bahaya HIV/AIDS

              Siswa SMK Muhlibat Mengikuti Sosialisasi Bahaya HIV/AIDS

              Di SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen, Kemenko PMK Luncurkan Gerakan Tanam 10 Juta Pohon

              Kepala Sekolah Muhammadiyah Ikutilah Kaidah Persyarikatan, Jangan sak Karepe Dewe

              Kepala Sekolah Muhammadiyah Ikutilah Kaidah Persyarikatan, Jangan sak Karepe Dewe

              Sekolah Muhammadiyah Sosialisasikan Muktamar 48 Ke Para Siswa

              Sekolah Muhammadiyah Sosialisasikan Muktamar 48 Ke Para Siswa

              Serunya Lomba Tarik Tambang di Sekolah Ini

              Serunya Lomba Tarik Tambang di Sekolah Ini

              Trending Tags

              • Majelis Virtual
              No Result
              View All Result
              Virtumu - Muhammadiyah All Channel
              No Result
              View All Result
              Home BeritaMu

              Ketika Target Menjadi Beban, Dilema Kepling dalam Perluasan BPJS Ketenagakerjaan

              admin by admin
              01/04/2026
              in BeritaMu
              0
              744
              VIEWS
              Share di FacebookShare di TwitterShare di WA

              Ketika Target Menjadi Beban,  Dilema Kepling dalam Perluasan BPJS Ketenagakerjaan

              Oleh: Partaonan Harahap, ST,.MT

              WartaTerkait

              PP ‘Aisyiyah Respons Kekerasan Anak di Daycare Yogyakarta

              ‘Aisyiyah Ingatkan Risiko Dunia Digital bagi Anak, Dorong Peran Orang Tua dan Regulasi

              Dari Rendang Qurban untuk Stunting: Pelajaran Berharga dari Talkshow Lazismu Brebes

              SDGs Center UMS Jadi Mitra Konsultasi Bapperida Pekalongan dalam Penyusunan RAD

              Program jaminan sosial ketenagakerjaan merupakan salah satu pilar utama dalam upaya mewujudkan negara kesejahteraan di Indonesia. Melalui BPJS Ketenagakerjaan, negara berupaya memberikan perlindungan terhadap berbagai risiko yang dihadapi pekerja, mulai dari kecelakaan kerja, kematian, hingga jaminan hari tua. Dalam kerangka pembangunan nasional, perluasan kepesertaan menjadi agenda strategis yang terus didorong, terutama untuk menjangkau sektor informal yang selama ini relatif kurang terlindungi.

              Namun, di balik semangat mulia tersebut, implementasi di lapangan tidak selalu berjalan sesuai harapan. Alih-alih menjadi instrumen perlindungan yang inklusif, kebijakan ini dalam beberapa kasus justru menghadirkan beban baru, khususnya bagi aparat di tingkat akar rumput. Fenomena yang mencuat di Kota Medan, di mana kepala lingkungan (kepling) mengaku terbebani oleh target kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan-menjadi cerminan nyata dari persoalan tersebut.

              Kasus ini membuka ruang refleksi yang lebih luas tentang bagaimana kebijakan publik dirancang dan diimplementasikan. Ia menunjukkan bahwa keberhasilan suatu program tidak hanya ditentukan oleh niat baik dan desain kebijakan di atas kertas, tetapi juga oleh kesesuaian antara target yang ditetapkan dengan kapasitas pelaksana di lapangan.

              Tidak dapat dipungkiri bahwa perluasan kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan merupakan langkah penting dan mendesak. Data menunjukkan bahwa sebagian besar pekerja di Indonesia masih berada di sektor informal, dengan tingkat perlindungan sosial yang minim. Tanpa intervensi negara, kelompok ini sangat rentan terhadap guncangan ekonomi dan risiko sosial.

              Dalam konteks tersebut, pemerintah mengadopsi pendekatan berbasis target untuk mempercepat peningkatan jumlah peserta. Target dianggap sebagai alat manajerial yang efektif untuk mengukur kinerja dan mendorong akselerasi. Dalam banyak kasus, pendekatan ini memang berhasil meningkatkan capaian kuantitatif dalam waktu relatif singkat.

              Namun, persoalan muncul ketika logika target diterapkan secara kaku tanpa mempertimbangkan kompleksitas sosial di lapangan. Target yang tinggi sering kali tidak diiringi dengan strategi implementasi yang memadai. Akibatnya, tekanan untuk mencapai angka tertentu justru menimbulkan berbagai distorsi.

              Di tingkat daerah, target tersebut kemudian diterjemahkan menjadi beban kerja bagi aparat lokal, termasuk kepling. Mereka diminta tidak hanya mensosialisasikan program, tetapi juga memastikan warga terdaftar sebagai peserta. Dalam praktiknya, hal ini sering kali melampaui kapasitas dan kewenangan yang mereka miliki. Lebih problematik lagi, target yang bersifat top-down ini cenderung mengabaikan variasi kondisi sosial-ekonomi masyarakat. Tidak semua wilayah memiliki karakteristik yang sama. Di kawasan dengan tingkat kemiskinan tinggi atau dominasi pekerja informal, kemampuan masyarakat untuk membayar iuran tentu menjadi tantangan tersendiri.

              Dalam situasi seperti ini, pendekatan berbasis target justru berpotensi kontraproduktif. Alih-alih meningkatkan partisipasi secara berkelanjutan, ia dapat memicu resistensi masyarakat dan menurunkan kepercayaan terhadap program.

              Kepling sebagai Ujung Tombak yang Tertekan

              Sebagai ujung tombak pemerintahan di tingkat lingkungan, kepling memiliki peran yang sangat strategis. Mereka adalah figur yang paling dekat dengan masyarakat, memahami kondisi sosial-ekonomi warga, serta menjadi penghubung antara kebijakan pemerintah dan realitas di lapangan. Namun, dalam implementasi perluasan BPJS Ketenagakerjaan, peran kepling mengalami pergeseran yang signifikan. Dari yang semula berfungsi sebagai fasilitator dan mediator, mereka kini dituntut menjadi “agen target” yang bertanggung jawab atas pencapaian angka kepesertaan.

              Perubahan peran ini tidak diikuti dengan peningkatan kapasitas maupun dukungan yang memadai. Banyak kepling yang tidak mendapatkan pelatihan khusus terkait BPJS Ketenagakerjaan, baik dari sisi substansi program maupun strategi komunikasi kepada masyarakat. Akibatnya, mereka harus bekerja dengan pemahaman yang terbatas, sementara ekspektasi yang dibebankan sangat tinggi. Lebih jauh, dalam beberapa kasus, kepling bahkan harus menalangi iuran warga demi memenuhi target. Praktik ini jelas tidak sehat, baik dari sisi administrasi maupun etika. Ia menunjukkan bahwa tekanan struktural telah mendorong aparat di lapangan untuk mengambil langkah-langkah di luar kewenangan mereka.

              Kondisi ini menciptakan dilema yang tidak sederhana. Di satu sisi, kepling dituntut untuk loyal terhadap kebijakan pemerintah dan memenuhi target yang telah ditetapkan. Di sisi lain, mereka harus berhadapan dengan realitas masyarakat yang tidak selalu siap, baik secara ekonomi maupun pemahaman.

              Dilema ini semakin kompleks ketika dikaitkan dengan sistem penilaian kinerja. Target yang tidak tercapai dapat berdampak pada evaluasi kinerja, bahkan berimplikasi pada posisi jabatan. Dalam situasi seperti ini, pilihan rasional bagi aparat sering kali bukanlah yang paling ideal secara etis, melainkan yang paling aman secara administratif.

              Distorsi Implementasi dan Risiko Jangka Panjang

              Fenomena beban target yang dialami kepling tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada kualitas implementasi kebijakan secara keseluruhan. Ketika fokus utama bergeser pada pencapaian angka, aspek-aspek penting seperti kualitas sosialisasi, pemahaman peserta, dan keberlanjutan kepesertaan cenderung terabaikan. Dalam literatur kebijakan publik, kondisi ini dikenal sebagai implementation gap, yaitu kesenjangan antara tujuan kebijakan dan realitas pelaksanaannya. Kebijakan yang secara normatif baik tidak selalu menghasilkan dampak yang diharapkan jika tidak didukung oleh strategi implementasi yang tepat.

              Salah satu risiko utama dari pendekatan berbasis target adalah munculnya perilaku adaptif yang menyimpang. Aparat di lapangan cenderung mencari cara tercepat untuk memenuhi target, meskipun harus mengorbankan prinsip transparansi dan akuntabilitas. Dalam konteks ini, praktik seperti pendaftaran “formalitas” atau pembayaran iuran sementara menjadi fenomena yang sulit dihindari. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat merusak kepercayaan publik terhadap program BPJS Ketenagakerjaan. Masyarakat yang merasa “dipaksa” untuk menjadi peserta tanpa pemahaman yang memadai cenderung tidak memiliki komitmen untuk membayar iuran secara berkelanjutan. Akibatnya, tingkat kepesertaan mungkin meningkat secara statistik, tetapi tidak diikuti oleh kualitas partisipasi yang baik.

              Lebih jauh lagi, distorsi implementasi juga dapat berdampak pada keberlanjutan sistem jaminan sosial itu sendiri. Program seperti BPJS Ketenagakerjaan sangat bergantung pada prinsip gotong royong dan kepatuhan peserta. Jika kepercayaan publik menurun, maka fondasi sistem ini akan ikut tergerus.

              Dimensi Etika dan Keadilan

              Persoalan yang dihadapi kepling dalam implementasi BPJS Ketenagakerjaan juga memiliki dimensi etika yang penting untuk diperhatikan. Dalam prinsip tata kelola pemerintahan yang baik (good governance), setiap kebijakan harus memenuhi aspek akuntabilitas, transparansi, partisipasi, dan keadilan. Namun, dalam kasus ini, tampak adanya ketimpangan dalam distribusi tanggung jawab. Beban implementasi yang seharusnya ditopang oleh sistem yang kuat justru dialihkan kepada individu di level bawah. Kepling menjadi pihak yang paling terbebani, sementara dukungan yang diberikan relatif minim.

              Kondisi ini tidak hanya tidak adil, tetapi juga berpotensi merusak integritas birokrasi. Ketika aparat dipaksa untuk mencapai target tanpa dukungan yang memadai, mereka cenderung mencari jalan pintas yang dapat menimbulkan pelanggaran administratif maupun etika. Selain itu, tekanan yang terus-menerus juga dapat menyebabkan kelelahan birokrasi (bureaucratic fatigue). Dalam jangka panjang, hal ini dapat menurunkan motivasi kerja dan kualitas pelayanan publik. Padahal, keberhasilan program pemerintah sangat bergantung pada kinerja aparat di lapangan.

              Dari perspektif keadilan sosial, kebijakan yang membebani kelompok tertentu tanpa mempertimbangkan kapasitasnya jelas bertentangan dengan prinsip inklusivitas. Program jaminan sosial seharusnya dirancang untuk melindungi kelompok rentan, bukan justru menambah beban bagi mereka maupun bagi aparat yang melayani mereka.

              Membangun Pendekatan yang Lebih Realistis

              Untuk mengatasi persoalan ini, diperlukan perubahan pendekatan dalam implementasi kebijakan. Pemerintah perlu menyadari bahwa perluasan kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan bukan sekadar persoalan angka, tetapi juga soal membangun kesadaran dan kepercayaan masyarakat.

              Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menggeser paradigma dari target-oriented menjadi impact-oriented. Keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah peserta, tetapi juga dari sejauh mana program tersebut memberikan manfaat nyata dan berkelanjutan.

              Kedua, strategi sosialisasi harus diperkuat dengan pendekatan yang lebih kontekstual dan partisipatif. Masyarakat perlu diajak memahami manfaat program secara utuh, bukan sekadar didorong untuk mendaftar. Dalam hal ini, peran komunitas lokal dan tokoh masyarakat menjadi sangat penting.

              Ketiga, pembagian peran antar lembaga perlu diperjelas. BPJS Ketenagakerjaan sebagai lembaga pelaksana harus mengambil peran lebih besar dalam proses akuisisi peserta, termasuk dalam hal edukasi dan pendampingan. Pemerintah daerah dapat berperan sebagai fasilitator, sementara kepling cukup menjadi penghubung.

              Keempat, sistem insentif bagi aparat di level bawah harus diperbaiki. Jika kepling dilibatkan dalam program strategis nasional, maka harus ada kompensasi yang adil serta dukungan pelatihan yang memadai. Hal ini penting untuk memastikan bahwa mereka dapat menjalankan perannya secara optimal tanpa merasa terbebani.

              Kelima, kebijakan harus berbasis data. Pemerintah perlu memahami kondisi sosial-ekonomi masyarakat secara lebih mendalam, sehingga pendekatan yang digunakan dapat disesuaikan dengan karakteristik masing-masing wilayah.

              Terakhir, mekanisme umpan balik dari lapangan harus diperkuat. Suara kepling dan masyarakat perlu didengar sebagai bagian dari proses evaluasi kebijakan. Dengan demikian, kebijakan yang dihasilkan dapat lebih adaptif dan responsif terhadap dinamika di lapangan. Program BPJS Ketenagakerjaan adalah langkah strategis dalam membangun sistem perlindungan sosial yang inklusif dan berkeadilan. Namun, keberhasilan program ini sangat ditentukan oleh bagaimana ia diimplementasikan di lapangan.

              Fenomena yang dialami kepling di Kota Medan menunjukkan bahwa pendekatan berbasis target yang tidak diimbangi dengan strategi yang tepat dapat menimbulkan beban baru bagi aparat di tingkat akar rumput. Jika tidak segera dievaluasi, kondisi ini berpotensi merusak kepercayaan publik dan menghambat pencapaian tujuan program.

              Sudah saatnya pemerintah menata ulang pendekatan implementasi dengan menempatkan manusia sebagai pusat kebijakan. Kepling harus dipandang sebagai mitra strategis, bukan sekadar alat pencapai target. Dengan pendekatan yang lebih adil, partisipatif, dan berbasis realitas, program BPJS Ketenagakerjaan dapat benar-benar menjadi instrumen perlindungan yang efektif. Pada akhirnya, keberhasilan kebijakan tidak diukur dari seberapa tinggi target yang ditetapkan, tetapi dari seberapa besar manfaat yang dirasakan oleh masyarakat. Jika prinsip ini dijadikan pijakan, maka BPJS Ketenagakerjaan tidak hanya akan berhasil secara administratif, tetapi juga bermakna secara sosial.

              * Penulis, adalah Ketua Asosiasi Alumni Teknologi Teladan Medan (AATT), Sekretaris LPCR-PM Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Utara , Dosen Fakultas Teknik UMSU

              Share98Tweet62Send
              Previous Post

              177 Ribu Jemaah Risiko Tinggi, Wamenhaj Perketat Layanan Kesehatan Haji di Makkah

              Next Post

              Delapan Negara Mengutuk Israel Atas Penutupan Kompleks Al Aqsa, Termasuk Indonesia

              admin

              admin

              InfoLain

              BeritaMu

              PP ‘Aisyiyah Respons Kekerasan Anak di Daycare Yogyakarta

              29/04/2026
              BeritaMu

              ‘Aisyiyah Ingatkan Risiko Dunia Digital bagi Anak, Dorong Peran Orang Tua dan Regulasi

              29/04/2026
              BeritaMu

              Dari Rendang Qurban untuk Stunting: Pelajaran Berharga dari Talkshow Lazismu Brebes

              29/04/2026
              Next Post

              Delapan Negara Mengutuk Israel Atas Penutupan Kompleks Al Aqsa, Termasuk Indonesia

              Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

              Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

              Stay Connected

                • Trending
                • Comments
                • Latest

                Kaprodi MPI SPs UMJ Hadiri Muktamar Hidayatul Qur’an di Makkah

                05/09/2024

                Kepemimpinan IMM: Dari Nilai Hingga Transformasi Gerakan

                03/10/2025

                Gebrakan Baru! Nasyiatul Aisyiyah Luncurkan 10 Program Unggulan di Tanwir II

                05/09/2025

                MPI PWM Jateng Gelar Pesantren Digital Ramadan, Siapkan Jurnalis Muda Andal!

                18/03/2025

                Perkuat Internasionalisasi Muhammadiyah, PCIM Arab Saudi Kuatkan Kelembagaan

                0

                Cerita Perkembangan dan Corak Beragam Islam di Amerika

                0

                Ngaji on the Street Makin Asyik saat Belajar Qiroah

                0

                Kompak, Walikota Melton dan Orang tua Siswa Takjub dengan Muhammadiyah Australia College

                0

                LPM UMY Dorong Guru Adaptif, Pelatihan AI Perkuat Inovasi Bahan Ajar di Sekolah

                29/04/2026

                IMM FAI UMY Luncurkan Majalah “Bahlil”, Angkat Isu Perempuan Lewat Studium Generale

                29/04/2026

                Enam Mahasiswa UM Indonesia Antar LavAni Juara Proliga 2026, Boy Arnez Sabet MVP

                29/04/2026

                Unmuha Ambil Peran di HKBN 2026, Edukasi Masyarakat tentang Kesiapsiagaan Bencana

                29/04/2026
                Virtumu – Muhammadiyah All Channel

                Virtumu adalah kumpulan ragam informasi muhammadiyah dari berbagai kanal internet, dengan harapan akan menjadi wahana warta terpadu.

                Follow Us

                Kategori Info

                • BeritaMu (27,921)
                • Hukum Islam (1,416)
                • Kabar PTMA (3,584)
                • KesehatanMu (70)
                • Majelis Virtual (6)
                • Muktamar48 (7)
                • ortomMu (15)
                • sekolahMu (10)
                • Uncategorized (7,428)

                Info terbaru

                LPM UMY Dorong Guru Adaptif, Pelatihan AI Perkuat Inovasi Bahan Ajar di Sekolah

                29/04/2026

                IMM FAI UMY Luncurkan Majalah “Bahlil”, Angkat Isu Perempuan Lewat Studium Generale

                29/04/2026

                Enam Mahasiswa UM Indonesia Antar LavAni Juara Proliga 2026, Boy Arnez Sabet MVP

                29/04/2026
                • Tentang
                • Sumber
                • Advertise
                • Privacy & Policy
                • Contact

                © 2025 VM - Virtual Muhammadiyah by Virtumu1912.

                No Result
                View All Result

                © 2025 VM - Virtual Muhammadiyah by Virtumu1912.

                Welcome Back!

                Sign In with Facebook
                Sign In with Google
                OR

                Login to your account below

                Forgotten Password?

                Retrieve your password

                Please enter your username or email address to reset your password.

                Log In