PWMJATENG.COM, BREBES – Ada satu hal menarik yang disampaikan Ikhwanusoffa saat menjawab pertanyaan tentang Qurbanmu:Rendangmu dalam talkshow Qurbanmu Lazismu Brebes di Pendopo Kabupaten Brebes, Ahad (26 April 2026).
Pertanyaan itu datang dari salah satu kader Muhammadiyah yang bekerja di dinas kesehatan. Ia memaparkan bahwa angka stunting di Brebes masih tinggi, hampir mencapai 6.000 anak.
Menurutnya, salah satu upaya pencegahan stunting adalah perbaikan gizi, terutama pemenuhan protein. Bahkan, untuk mendukung hal itu, ikatan dinas tempatnya bekerja mengadakan sedekah telur dari gaji para pegawai.
Pertanyaannya sederhana, tetapi sangat menantang: bagaimana Qurbanmu:Rendangmu bisa ikut serta dalam penanganan stunting di Brebes dengan jumlah kasus sebanyak itu?
Jawaban yang Tidak Sekadar Teori
Sebagai orang awam, saya yang mendengar pertanyaan itu sempat membayangkan jawaban seperti apa yang akan disampaikan. Apalagi, program Qurbanmu:Rendangmu belum sepenuhnya diterima oleh semua kalangan.
Tantangannya jelas. Jika belum semua pihak menerima konsep rendang kaleng dari daging qurban, maka suplai protein untuk mendukung pencegahan stunting tentu belum bisa langsung menjangkau semua sasaran.
Namun, jawaban Ikhwanusoffa ternyata tidak sekadar teoritis. Ia tidak memberikan jawaban penenang yang berhenti pada kalimat normatif.
Ia mengutip hikmah dari QS. Al-Maidah ayat 32:
وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَآ أَحْيَا ٱلنَّاسَ جَمِيعًا
“Barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.”
Ikhwanusoffa menegaskan bahwa pembahasan ini bukan dalam rangka menafsirkan ayat tersebut secara mendalam. Namun, ada nilai dan pelajaran yang dapat diambil.
Menurutnya, kita tidak diperintahkan untuk menyelamatkan semua orang sekaligus. Sebab, hal itu mustahil dilakukan oleh kemampuan manusia yang terbatas.
Namun, yang bisa dilakukan adalah menangani beberapa anak secara tuntas melalui Qurbanmu:Rendangmu.
“Tangani beberapa anak dengan Rendangmu sampai tuntas. Kalau sampai tuntas, orang-orang akan memberikan perhatian dan pengakuan bahwa Qurbanmu:Rendangmu itu berdampak, bukan hanya sekadar ritual pemotongan,” demikian inti jawaban yang ia sampaikan.
Program yang Perlu Dibuktikan Dampaknya
Setelah saya resapi, jawaban itu terasa sangat mengakomodasi banyak hal.
Pertama, Qurbanmu:Rendangmu adalah program qurban yang baik. Namun, program ini masih berhadapan dengan kultur masyarakat yang belum seluruhnya memahami atau merasakan manfaatnya.
Kedua, stunting adalah tantangan nyata yang membutuhkan kontribusi banyak pihak. Generasi yang akan meneruskan bangsa dan agama ini adalah anak-anak hari ini. Bagaimana mungkin mereka dapat tumbuh optimal jika kebutuhan gizinya tidak terpenuhi?
Ketiga, sebuah program tidak perlu terlalu ramai dengan janji dan garansi. Yang lebih penting adalah bukti.
Kerjakan sampai selesai. Dampingi sampai tuntas. Buat hasilnya benar-benar dirasakan. Dari sanalah perhatian dan partisipasi umat akan tumbuh dengan sendirinya.
Menyelamatkan Satu Jiwa
Ada pelajaran penting dari gagasan tersebut. Menyelamatkan semua manusia adalah hal yang mustahil bagi keterbatasan manusia. Namun, menyelamatkan satu jiwa adalah langkah besar yang nilainya sangat mulia.
Dalam konteks Qurbanmu:Rendangmu, pendekatan ini menjadi sangat relevan. Program tidak harus langsung menjawab semua angka stunting di Brebes. Namun, ia dapat memulai dari beberapa anak yang benar-benar didampingi sampai terlihat hasilnya.
Jika dampak itu nyata, maka kepercayaan masyarakat akan tumbuh. Dari kepercayaan itu, dukungan akan meluas.
Qurban yang Membuka Kemaslahatan Baru
Qurbanmu:Rendangmu membuka ruang kemaslahatan baru. Qurban tidak hanya berhenti pada seremoni penyembelihan dan pembagian daging secara lokal.
Melalui pengolahan menjadi rendang kaleng, daging qurban dapat memiliki daya simpan lebih panjang. Manfaatnya juga dapat diarahkan untuk kebutuhan ketahanan pangan, pencegahan stunting, dan tanggap kebencanaan.
Tentu, Qurbanmu:Rendangmu bukan berarti semua qurban harus dijadikan rendang kaleng. Qurban lokal tetap harus ada. Pembagian daging di lingkungan sekitar tetap penting sebagai bagian dari syiar dan kegembiraan Iduladha.
Namun, sebagian kecil dari qurban dapat dikelola lebih strategis. Di sinilah menariknya gagasan Muhammadiyah melalui Lazismu. Dua kaki gerakan berjalan seimbang: menjaga tradisi lokal sekaligus membuka manfaat yang lebih luas.
Tugas Kader Muhammadiyah
Karena itu, kader-kader Muhammadiyah di berbagai daerah perlu terus menyosialisasikan dan memahamkan masyarakat tentang qurban yang berdampak luas.
Qurban adalah ibadah. Namun, ibadah ini juga memiliki dimensi sosial yang sangat besar. Ketika pengelolaannya diperluas dengan pendekatan yang tepat, qurban dapat menjawab problem nyata umat.
Qurbanmu:Rendangmu bukan sekadar inovasi kemasan. Ia adalah ikhtiar agar daging qurban tidak hanya habis dalam satu-dua hari, tetapi dapat menjadi bagian dari solusi pangan, gizi, stunting, dan kemanusiaan.
Dari Brebes, saya belajar bahwa program besar tidak selalu harus dimulai dengan menjangkau semua orang. Kadang, ia cukup dimulai dari satu anak, satu keluarga, satu bukti yang dituntaskan.
Sebab, dari satu dampak yang nyata, kepercayaan umat dapat tumbuh. Dari kepercayaan itu, gerakan kebaikan akan menemukan jalannya.
Kontributor: M. Ilham Zulfa
Editor: Al-Afasy
The post Dari Rendang Qurban untuk Stunting: Pelajaran Berharga dari Talkshow Lazismu Brebes appeared first on Muhammadiyah Jateng.




