WARTAPTM.ID, YOGYAKARTA — Upaya membangun kesadaran kritis kader terus digencarkan oleh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Pimpinan Komisariat (PK) IMM Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta menggelar Studium Generale yang dirangkaikan dengan launching majalah “Bahlil”, Jumat (24/4).
Kegiatan yang berlangsung di lingkungan kampus ini mengusung tema “Membangun Kesadaran Kritis dan Kepekaan terhadap Isu Perempuan”. Selain menjadi ruang intelektual, agenda ini juga menjadi momentum lahirnya karya literasi kader melalui majalah yang diberi nama “Bahlil” (Majalah Polyphonia).
Majalah sebagai Ruang Gagasan Kader
Peluncuran majalah “Bahlil” menjadi salah satu sorotan utama dalam kegiatan ini. Majalah tersebut diposisikan sebagai wadah ekspresi pemikiran kritis kader IMM, khususnya dalam merespons isu-isu sosial keumatan.
Ketua Umum PK IMM FAI UMY periode 2025/2026, Agung Rezki, menegaskan pentingnya kesadaran kolektif dalam membaca isu perempuan secara lebih bijak.
“Kesadaran kolektif kader menjadi kunci dalam merespons isu-isu perempuan secara arif dan berkeadaban,” ujarnya.
Dalam sesi utama, pemateri Dyah Pikanthi Diwanti mengulas berbagai perspektif terkait perempuan dalam konteks sosial dan keislaman. Ia menekankan bahwa perempuan memiliki potensi besar sebagai agen perubahan, sekaligus sumber inspirasi dalam kehidupan sosial.
“Perempuan memiliki potensi besar sebagai sumber inspirasi. Namun, narasi tentang ‘independent woman’ seringkali disalahpahami dan perlu dilihat secara lebih bijak,” jelasnya.
Ia juga menyinggung pentingnya melihat kepemimpinan perempuan dalam perspektif Islam yang progresif, salah satunya melalui kisah Ratu Balqis yang mencerminkan kepemimpinan berbasis kebijaksanaan dan komunikasi.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa Islam memandang laki-laki dan perempuan sebagai makhluk yang setara, dengan ukuran utama terletak pada ketakwaan.
Diskusi Interaktif, Kader Didorong Lebih Peka
Berbeda dari forum formal pada umumnya, kegiatan ini berlangsung interaktif. Peserta aktif berdiskusi, mulai dari isu akses pendidikan perempuan di pedesaan hingga tantangan menjaga keseimbangan peran dalam kehidupan keluarga.
Menanggapi hal tersebut, Dyah menekankan pentingnya peran kader IMM sebagai agen perubahan di tengah masyarakat.
“Kader IMM perlu hadir sebagai mediator—memberikan akses informasi, membuka ruang belajar, dan melindungi perempuan dari ketidakadilan,” tuturnya.
Ia juga menambahkan bahwa relasi keluarga yang sehat—dibangun atas dasar saling menghormati dan komunikasi—menjadi fondasi penting dalam menciptakan ketahanan sosial.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya IMM dalam memperkuat tradisi intelektual kader, sekaligus menghadirkan wacana keislaman yang relevan dengan isu kontemporer.
Melalui forum seperti ini, kader tidak hanya didorong untuk memahami teori, tetapi juga mampu mengimplementasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari dan gerakan dakwah.
The post IMM FAI UMY Luncurkan Majalah “Bahlil”, Angkat Isu Perempuan Lewat Studium Generale appeared first on Warta PTM.




