• Tentang
  • Sumber
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
Rabu, April 29, 2026
  • Login
  • Home
  • BeritaMu

    PP ‘Aisyiyah Respons Kekerasan Anak di Daycare Yogyakarta

    ‘Aisyiyah Ingatkan Risiko Dunia Digital bagi Anak, Dorong Peran Orang Tua dan Regulasi

    Dari Rendang Qurban untuk Stunting: Pelajaran Berharga dari Talkshow Lazismu Brebes

    SDGs Center UMS Jadi Mitra Konsultasi Bapperida Pekalongan dalam Penyusunan RAD

    TK Surya Ceria ‘Aisyiyah Karanganyar Gelar Peringatan Hari Kartini

    Lanjutkan Estafet Digitalisasi Muhammadiyah, Tim SatuMu PWM Sumut Sosialisasi dan Implementasi di PDM Tanjung Bala

    Lanjutkan Estafet Digitalisasi Muhammadiyah, Tim SatuMu PWM Sumut Sosialisasi dan Implementasi di PDM Tanjung Bala

    Trending Tags

    • Kabar PTMA

      PP ‘Aisyiyah Respons Kekerasan Anak di Daycare Yogyakarta

      ‘Aisyiyah Ingatkan Risiko Dunia Digital bagi Anak, Dorong Peran Orang Tua dan Regulasi

      Dari Rendang Qurban untuk Stunting: Pelajaran Berharga dari Talkshow Lazismu Brebes

      SDGs Center UMS Jadi Mitra Konsultasi Bapperida Pekalongan dalam Penyusunan RAD

      TK Surya Ceria ‘Aisyiyah Karanganyar Gelar Peringatan Hari Kartini

      Lanjutkan Estafet Digitalisasi Muhammadiyah, Tim SatuMu PWM Sumut Sosialisasi dan Implementasi di PDM Tanjung Bala

      Lanjutkan Estafet Digitalisasi Muhammadiyah, Tim SatuMu PWM Sumut Sosialisasi dan Implementasi di PDM Tanjung Bala

      Trending Tags

      • Hukum Islam

        Mengalihkan Penyembelihan Dam ke Tanah Air, Bagaimana Hukumnya?

        Qiyamul Lail 4 Rakaat, Apakah Pakai Tahiyat Awal?

        Shalat Sunnah Rawatib Apa Saja?

        Shalat Dhuha Secara Berjamaah, Apakah Dituntunkan?

        Lafal Takbir Hari Raya Sesuai Tuntunan Rasulullah SAW

        Khutbah Idul Fitri dan Idul Adha 1 Kali atau 2 Kali, dan Haruskah Diawali Takbir?

      • SekolahMu
        SD Mugeb Menggelar Tasmik Tahfidh Excellent

        SD Mugeb Menggelar Tasmik Tahfidh Excellent

        Siswa SMK Muhlibat Mengikuti Sosialisasi Bahaya HIV/AIDS

        Siswa SMK Muhlibat Mengikuti Sosialisasi Bahaya HIV/AIDS

        Di SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen, Kemenko PMK Luncurkan Gerakan Tanam 10 Juta Pohon

        Kepala Sekolah Muhammadiyah Ikutilah Kaidah Persyarikatan, Jangan sak Karepe Dewe

        Kepala Sekolah Muhammadiyah Ikutilah Kaidah Persyarikatan, Jangan sak Karepe Dewe

        Sekolah Muhammadiyah Sosialisasikan Muktamar 48 Ke Para Siswa

        Sekolah Muhammadiyah Sosialisasikan Muktamar 48 Ke Para Siswa

        Serunya Lomba Tarik Tambang di Sekolah Ini

        Serunya Lomba Tarik Tambang di Sekolah Ini

        Trending Tags

        • Majelis Virtual
        No Result
        View All Result
        Virtumu - Muhammadiyah All Channel
        Advertisement
        • Home
        • BeritaMu

          PP ‘Aisyiyah Respons Kekerasan Anak di Daycare Yogyakarta

          ‘Aisyiyah Ingatkan Risiko Dunia Digital bagi Anak, Dorong Peran Orang Tua dan Regulasi

          Dari Rendang Qurban untuk Stunting: Pelajaran Berharga dari Talkshow Lazismu Brebes

          SDGs Center UMS Jadi Mitra Konsultasi Bapperida Pekalongan dalam Penyusunan RAD

          TK Surya Ceria ‘Aisyiyah Karanganyar Gelar Peringatan Hari Kartini

          Lanjutkan Estafet Digitalisasi Muhammadiyah, Tim SatuMu PWM Sumut Sosialisasi dan Implementasi di PDM Tanjung Bala

          Lanjutkan Estafet Digitalisasi Muhammadiyah, Tim SatuMu PWM Sumut Sosialisasi dan Implementasi di PDM Tanjung Bala

          Trending Tags

          • Kabar PTMA

            PP ‘Aisyiyah Respons Kekerasan Anak di Daycare Yogyakarta

            ‘Aisyiyah Ingatkan Risiko Dunia Digital bagi Anak, Dorong Peran Orang Tua dan Regulasi

            Dari Rendang Qurban untuk Stunting: Pelajaran Berharga dari Talkshow Lazismu Brebes

            SDGs Center UMS Jadi Mitra Konsultasi Bapperida Pekalongan dalam Penyusunan RAD

            TK Surya Ceria ‘Aisyiyah Karanganyar Gelar Peringatan Hari Kartini

            Lanjutkan Estafet Digitalisasi Muhammadiyah, Tim SatuMu PWM Sumut Sosialisasi dan Implementasi di PDM Tanjung Bala

            Lanjutkan Estafet Digitalisasi Muhammadiyah, Tim SatuMu PWM Sumut Sosialisasi dan Implementasi di PDM Tanjung Bala

            Trending Tags

            • Hukum Islam

              Mengalihkan Penyembelihan Dam ke Tanah Air, Bagaimana Hukumnya?

              Qiyamul Lail 4 Rakaat, Apakah Pakai Tahiyat Awal?

              Shalat Sunnah Rawatib Apa Saja?

              Shalat Dhuha Secara Berjamaah, Apakah Dituntunkan?

              Lafal Takbir Hari Raya Sesuai Tuntunan Rasulullah SAW

              Khutbah Idul Fitri dan Idul Adha 1 Kali atau 2 Kali, dan Haruskah Diawali Takbir?

            • SekolahMu
              SD Mugeb Menggelar Tasmik Tahfidh Excellent

              SD Mugeb Menggelar Tasmik Tahfidh Excellent

              Siswa SMK Muhlibat Mengikuti Sosialisasi Bahaya HIV/AIDS

              Siswa SMK Muhlibat Mengikuti Sosialisasi Bahaya HIV/AIDS

              Di SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen, Kemenko PMK Luncurkan Gerakan Tanam 10 Juta Pohon

              Kepala Sekolah Muhammadiyah Ikutilah Kaidah Persyarikatan, Jangan sak Karepe Dewe

              Kepala Sekolah Muhammadiyah Ikutilah Kaidah Persyarikatan, Jangan sak Karepe Dewe

              Sekolah Muhammadiyah Sosialisasikan Muktamar 48 Ke Para Siswa

              Sekolah Muhammadiyah Sosialisasikan Muktamar 48 Ke Para Siswa

              Serunya Lomba Tarik Tambang di Sekolah Ini

              Serunya Lomba Tarik Tambang di Sekolah Ini

              Trending Tags

              • Majelis Virtual
              No Result
              View All Result
              Virtumu - Muhammadiyah All Channel
              No Result
              View All Result
              Home BeritaMu

              Milad 106 ‘Aisyiyah, Merefleksikan Kegigihan Ketua ‘Aisyiyah Pertama Siti Bariyah

              by
              22/05/2023
              in BeritaMu
              0
              Milad 106 ‘Aisyiyah, Merefleksikan Kegigihan Ketua ‘Aisyiyah Pertama Siti Bariyah
              744
              VIEWS
              Share di FacebookShare di TwitterShare di WA

              PWMJATENG.COM, Semarang – “Eyang Bariyah seorang wanita yang keras, sebagai juragan batik yang ulet.” (Mu’tasimbillah Al-Ghozi)

              Amin Masjid Besar Yogyakarta telah mendirikan sebuah perkumpulan pengajian perempuan pertama di kampung Kauman, bersama istrinya, pada tahun 1914.

              WartaTerkait

              PP ‘Aisyiyah Respons Kekerasan Anak di Daycare Yogyakarta

              ‘Aisyiyah Ingatkan Risiko Dunia Digital bagi Anak, Dorong Peran Orang Tua dan Regulasi

              Dari Rendang Qurban untuk Stunting: Pelajaran Berharga dari Talkshow Lazismu Brebes

              SDGs Center UMS Jadi Mitra Konsultasi Bapperida Pekalongan dalam Penyusunan RAD

              Anggota perkumpulan pengajian ini terdiri dari murid-murid perempuan di Sekolah Netral (Neutrale Meisjes School) dan Sekolah Agama (Diniyah Ibtidaiyah). Perkumpulan pengajian khusus kaum perempuan ini didirikan bermula dari tiga gadis Kauman yang menuntut ilmu di sekolah Belanda atas anjuran Khatib Amin.

              Pada tahun 1913, tiga gadis Kauman pertama kali menuntut ilmu di Neutraal Meisjes School di Ngupasan. Mereka adalah Siti Bariyah, Siti Wadingah, dan Siti Dawimah. Selain memasukkan tiga gadis Kauman ke sekolah umum, dua gadis lainnya, Siti Umniyah dan Siti Munjiyah disekolahkan di Diniyah Ibtidaiyah.

              Langkah K.H. Ahmad Dahlan yang menganjurkan anak-anak perempuan di Kauman masuk sekolah umum merupakan gagasan baru yang sesungguhnya masih sangat sulit diterima oleh masyarakat setempat. Gagasan Kiai Ahmad Dahlan ini sempat dianggap sebagai langkah kontroversial, karena masyarakat setempat memang masih beranggapan bahwa perempuan tidak boleh keluar rumah. Apalagi jika seorang perempuan harus ke luar kampung untuk masuk sekolah yang dipimpin oleh orang Belanda. Langkah Kiai Dahlan tersebut jelas dianggap sebagai upaya menjerumuskan kaum perempuan dalam kekafiran.

              Meskipun mendapat kecaman dari masyarakat setempat, Khatib Amin tetap mendidik dan menjaga anak-anak gadis yang dianjurkannya menuntut ilmu di sekolah Belanda. Lewat perkumpulan pengajian Sapa Tresna, mereka dibina dan dididik dengan materi pelajaran agama Islam. Perkumpulan pengajian perempuan Islam pertama di kampung Kauman bernama Sapa Tresna inilah yang di kemudian hari menjadi cikal-bakal organisasi ‘Aisyiyah.

              Dalam tradisi Jawa, status perempuan diungkapkan lewat pepatah, “suwarga nunut, neraka katut.” Tradisi Jawa memang masih menganggap perempuan berada di bawah status pria. Pandangan yang demikian tidak hanya termanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga merambah pada arah pemahaman keagamaan.

              Kiai Ahmad Dahlan datang sebagai pembaru Islam yang berusaha mengubah paradigma status kaum perempuan di bawah kaum pria. Dengan menganjurkan para gadis di Kauman untuk menuntut ilmu di sekolah-sekolah Belanda, Kiai Dahlan sedang menunjukkan bahwa kaum perempuan pun mampu hidup setara dengan kaum pria. Siti Bariyah, putri Haji Hasyim Ismail, termasuk salah satu di antara gadis-gadis di Kauman yang menerima anjuran dari Khatib Amin untuk masuk ke Sekolah Netral.

              Siti Bariyah

              Siti Bariyah binti Haji Hasyim Ismail, lahir di Kauman, Yogyakarta pada tahun 1325 H. Berdasarkan informasi dalam sebuah catatan pribadi peninggalan Haji Hasyim Ismail disebutkan: “Tatkala dhahiripun Bariyah amarengi ing dinten Jum’ah legi, kaping 21 wulan Shafar tahun Be Sanat 1325” (Ketika lahir anak perempuan Bariyah bersamaan dengan hari Jum’at legi, tanggal 21 bulan Shafar tahun Be sanat 1325).

              Perlu diketahui, Haji Hasyim Ismail memiliki tradisi unik. Dia selalu menuliskan sejarah keluarganya, baik berupa peristiwa pendirian rumahnya, kelahiran, bahkan sampai peristiwa meninggal anak-anaknya. Haji Hasyim Ismail mencatat peristiwa-peristiwa bersejarah dalam keluarganya di halaman marginalia pada kitab Fathul Muin. Di samping itu, Haji Hasyim Ismail juga menulis pada lembaran-lembaran khusus yang dijilid bersama dengan kitab tersebut. Catatan-catatan tersebut ditulis dengan tangan menggunakan huruf Arab berbahasa Jawa (Pegon).

              Mu’tasimbillah Al-Ghozi, salah satu cucu Haji Syuja’ (putra Haji Hasyim Ismail), telah menyusun silsilah Bani Hasyim berdasarkan sumber informasi dalam manuskrip peninggalan Haji Hasyim Ismail ini. Menurut keterangan Mu’tasimbillah, kelahiran Bariyah diperkirakan pada tahun 1325 H.

              Siti Bariyah adalah adik kandung Siti Munjiyah, aktivis Sapa Tresna cikal bakal ‘Aisyiyah. Dia gadis berparas ayu dengan kulit kuning langsat. Postur tubuhnya tidak terlalu tinggi, juga tidak terlalu pendek. Mata bulat lebar. Tatapan matanya tajam. Di antara santri-santri perempuan Kiai Dahlan, Bariyah paling sering diajak bertabligh di kantor-kantor pejabat pemerintahan dan di sekolah-sekolah umum. Santri perempuan lain yang sering diajak bertabligh oleh Khatib Amin adalah Siti Wasilah (istri K.R.H. Hadjid). Keduanya memang memiliki kemampuan dan wawasan yang melebihi santri-santri perempuan yang lain. Bariyah mahir berbahasa Belanda, juga bahasa Melayu, sedang Wasilah mahir melatunkan tilawatil Qur’an. Sebelum pengajian dimulai, Khatib Amin menyuruh Wasilah untuk membacakan ayat-ayat suci al-Qur’an sambil dilagukan dengan merdu. Bariyah mendapat giliran untuk menerjemahkan ayat- ayat al-Qur’an ke dalam bahasa Melayu dan Belanda. Konon, dengan model pengajian seperti ini, banyak orang yang senang dan berlomba-lomba mengikuti pengajian.

              Bariyah merupakan salah satu di antara putra-putri Lurah Kraton Yogyakarta, Haji Hasyim Ismail, yang menjadi motor penggerak reformasi Islam yang dirintis oleh Kiai Ahmad Dahlan. Sebagai putri Haji Hasyim Ismail, Bariyah bersaudara dengan Jasimah (Bu Jusak), H. Syuja’, H. Fachrodin, Ki Ba- gus H. Hadikusumo, H. Zaini HS, Munjiyah, dan Walidah. Mereka inilah yang kemudian dikenal sebagai “Bani Hasyim” (anak-anak Haji Hasyim Ismail).

              Ketua Aisyiyah Pertama

              Pada tahun 1917, setelah mendapatkan kader-kader perempuan yang dipandang memiliki kecakapan di bidang kepemimpinan, Hoofdbestuur (HB) Muhammadiyah menggelar rapat pembentukan Bahagian ‘Aisyiyah (Sapa Tresna). Pertemuan tersebut dihadiri oleh Kiai Ahmad Dahlan, H. Fachrodin, H. Mochtar, dan Ki Bagus Hadikusuma. Siti Dawimah, Siti Dalalah, Siti Busyro, Siti Wadingah, dan Siti Badilah yang masing-masing masih berusia belasan tahun hadir mewakili kelompok Sapa Tresna. Kiai Dahlan mendapat usulan agar Muhammadiyah membentuk organisasi yang secara khusus bertujuan untuk memajukan kaum perempuan.

              Dalam pertemuan ini, mula-mula nama yang diajukan untuk perkumpulan yang akan dibentuk adalah ‘Fatimah.” Tidak jelas apa argumentasi yang melandasi usulan nama ini. Siapa yang mengusulkan nama ini, di antara 10 tokoh yang hadir dalam pertemuan tersebut, pun tidak diketahui. Yang jelas, nama ini tidak disepakati dalam pertemuan tersebut. Lalu, Haji Fachrodin, kakak kandung Siti Bariyah, mengajukan nama “Aisyiyah.” Pemberian nama ini dinisbatkan kepada istri Nabi saw yang bernama Siti Aisyah. Para pengikut Siti Aisyah dinamakan ‘Aisyiyah. Nama ini- lah yang berhasil disepakati dalam pertemuan tersebut. Akhirnya, pertemuan tersebut berhasil memutuskan pembentukan Muhammadiyah Bahagian Istri (perempuan) yang diberi nama ‘Aisyiyah.

              Dalam proses pembentukan Muhammadiyah Bahagian ‘Aisyiyah, Siti Bariyah, lulusan Sekolah Netral, dipercaya sebagai ketua (president) pertama.’ Dia sebagai lulusan Neutraal Meisjes School dan aktivis pengajian Sapa Tresna dipandang memiliki kecakapan khusus dalam memimpin salah satu organ di Persyarikatan Muhammadiyah ini.

              Struktur pertama Hoofdbestuur (HB) Muhammadiyah bahagian ‘Aisyiyah adalah sebagai berikut:

              Ketua : Siti Bariyah
              Penulis : Siti Badilah
              Bendahari : Siti Aminah Harowi

              Pembantu :

              Nj. H. Abdullah
              Nj. Fatimah Wasool
              Siti Dalalah
              Siti Wadingah
              Siti Dawimah
              Siti Busyro

              Cukup menarik dalam proses pembentukan struktur pertama HB Muhammadiyah bahagian ‘Aisyiyah ini. Siti Bariyah tidak hadir dalam pertemuan pada tahun 1917 di kantor HB Muhammadiyah. Dia tidak tampak di antara empat gadis perwakilan dari perkumpulan Sapa Tresna yang mengajukan usul pembentukan organisasi perempuan pertama di Kauman. Tetapi, Siti Bariyah justru ditunjuk sebagai ketua pertama ‘Aisyiyah.

              Dalam pertemuan antara perwakilan Sapa Tresna yang diwakili empat gadis dengan pengurus HB Muhammadiyah pada tahun 1917 terdapat nama Siti Busyro. Gadis berumur belasan tahun ini tidak lain adalah putri Kiai Dahlan, pendiri dan president HB Muhammadiyah pada waktu itu. Sekalipun Siti Busyro putri pendiri Muhammadiyah, tetapi kecakapannya dalam memimpin organisasi tidak terlalu menonjol jika dibanding Bariyah. Di sinilah letak profesionalisme dan kemodernan Muhammadiyah dalam memilih pimpinan berdasarkan kualitas seseorang, bukan atas dasar nasab atau keturunan. Selain mengedepankan profesionalisme dan kemodernan, Muhammadiyah tidak menerapkan praktik nepotisme sebagaimana yang berlaku dalam perkumpulan-perkumpulan tradisional.

              Aktivis Sapa Tresna lulusan Neutraal Meisjes School di Ngupasan inilah yang pada tahun 1917 mendapat amanat sebagai pengurus pertama Muhammadiyah bahagian ‘Aisyiyah. Siti Bariyah, generasi pertama Sapa Tresna yang berhasil menamatkan pendidikan di Neutraal Meisjes School, dianggap lebih menguasai ilmu pengetahuan dan kecakapan dalam hal kepemimpinan modern sehingga dia dipercaya sebagai ketua pertama HB Muhammadiyah bahagian ‘Aisyiyah. Tampaknya, inilah alasan mengapa bukan Nyai Ahmad Dahlan atau anak-anaknya (Siti Aisyah dan Siti Busyro) yang ditunjuk sebagai ketua pertama HB Muhammadiyah bahagian ‘Aisyiyah, tetapi justru Bariyah yang tidak turut serta dalam pertemuan dengan pengurus HB Muhammadiyah pada tahun 1917.

              Siti Bariyah menjabat sebagai ketua HB Muhammadiyah bagian ‘Aisyiyah sejak periode 1917-1920. Dalam Algemene Vergadering tahun 1917, Siti Bariyah dipilih dan ditetapkan sebagai ketua (president). Pada tahun 1923, pada masa kepemimpinan Nyai Ahmad Dahlan, peran Siti Bariyah tetap signifikan di jajaran HB ‘Aisyiyah sebagai vice voorzitter (wakil ketua). Kapasitas intelektual Bariyah tidak hanya dibutuhkan di HB ‘Aisyiyah, tetapi juga diperlukan di HB Muhammadiyah, pada masa kepemimpinan K.H. Ibrahim.

              Baca juga, Jadwal Musyda Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah se Jawa Tengah Periode Muktamar ke-48

              Dokumen Soewara Moehammadijah nomor 9 Th. Ke-4 September 1923 memuat sebuah artikel penting tentang “Tafsir Maksoed Moehammadijah” yang ditulis oleh Siti Bariyah, vice voorzitter ‘Aisyiyah.” HB Muhammadiyah telah memberikan otoritas penuh kepada sosok Bariyah, wakil ketua ‘Aisyiyah, untuk memberikan penafsiran terhadap rumusan Tujuan Muhammadiyah. Jika bukan karena kapasitas intelektual Bariyah, barangkali HB Muhammadiyah tidak akan semudah menyerahkan otoritas penafsiran tujuan organisasi kepada adik kandung Haji Fachrodin ini.

              Selain memegang pucuk pimpinan di ‘Aisyiyah, peran intelektual Siti Bariyah juga terlihat ketika dia terlibat dalam proses merintis penerbitan Soeara ‘Aisjijah tahun 1926. Bariyah adalah salah satu di antara empat redaktur Soeara ‘Aisjijah pertama setelah mengalami perubahan. Struktur redaksi pertama Soeara ‘Aisjijah hanya bertahan selama tiga nomor, setelah itu berubah dengan penambahan em- pat orang, Siti Wakirah, Siti Hayinah, Siti Wardiyah, dan Siti Bariyah.

              Dalam kongres Muhammadiyah ke-16 di Pekalongan (1927), Siti Bariyah kembali terpilih sebagai ketua HB ‘Aisyiyah. Permusyawaratan tertinggi di Muhammadiyah ini digelar di Pekalongan dalam situasi politik umat Islam yang kian memanas. Kongres ini digelar pada tahun yang sama ketika Centraal Sarekat Islam (CSI) menggelar kongres di Randublatung untuk menegaskan disiplin organisasi. Sekalipun kebijakan disiplin organisasi ini ditujukan pada pengurus Sarekat Islam (SI) yang aktif di Indische Sociaal De- mocratische Vereniging (ISDV), tetapi beberapa pengurus Muhammadiyah terkena dampaknya Mulai saat itulah hubungan antara Muhammadiyah dan SI makin renggang, bahkan kian meruncing sehingga memaksa Haji Fachrodin, penningmeester (bendahara) CSI mundur dari organisasi ini dan memilih untuk tetap aktif di Muhammadiyah.

              Pengusaha Batik

              Sebagaimana tradisi masyarakat di Kauman, Siti Bariyah menikah dengan Muhammad Wasim, seorang anggota atau keturunan dari masyarakat Kauman. Masyarakat endogami yang terbentuk lewat perkawinan antar keluarga merupakan salah satu karakteristik masyarakat Kauman pada awal abad ke-20 Sebagai anggota masyarakat Kauman, Siti Bariyah juga menikah dengan seorang keturunan anggota masyarakat Kauman. Tahun pernikahan Bariyah memang tidak diketahui secara pasti. Tetapi, dalam catatan silsilah Bani Hasyim, Siti Bariyah diketahui menikah dengan Muhammad Wasim bin K.H. Ibrahim (President HB Muhammadiyah 1923-1932). K.H. Ibrahim putra Penghulu K.H. Muhammad Fadhil. Dia saudara kandung Siti Walidah atau adik ipar Kiai Ahmad Dahlan. Setelah menikah, K.H. Ibrahim menetap di kampung Ngadiwinatan dan menekuni profesi sebagai juragan batik. Dengan demikian, anak-anak K.H. Ibrahim termasuk keturunan warga Kauman.

              Sebelum menjabat sebagai President HB Muhammadiyah, K.H. Ibrahim adalah seorang ulama dan sekaligus pedagang batik di kampung Ngadiwinatan. Sebagai seorang ula- ma, dia menguasai bahasa Arab secara fasih. Sebagai seorang pedagang batik, dia memiliki rumah produksi dan jaringan pemasaran yang cukup luas. Anak-anak keturunan K.H. Ibrahim mewarisi profesi sebagai pedagang batik, termasuk Muhammad Wasim, suami Bariyah Dengan demikian, Siti Bariyah Wasim, selain menjabat sebagai ketua HB ‘Aisyiyah, juga dikenal sebagai pengusaha batik dan menetap di Jalan Gerjen (sekarang Jalan Nyai Ahmad Dahlan nomor 36).

              Sesungguhnya, sumber-sumber yang menyebutkan tentang profesi Bariyah sebagai pengusaha batik masih perlu dijernihkan kembali. Kauman, pada awal abad ke 20, memang menjadi sentra kerajinan batik. Namun demikian, tidak semua kategori pengusaha batik adalah pembuat batik. Jika K.H. Ibrahim adalah pengusaha batik dalam arti yang sesungguhnya, yakni pengusaha yang membuka pabrik pembuatan batik, maka Bariyah dan suaminya hanya menyediakan jasa mengetel atau menghaluskan kain dengan kanji sebelum diproses menjadi batik.

              Rumah Siti Bariyah yang menyediakan jasa pengetelan terletak di Jalan Gerjen. Bersama suaminya, Bariyah menjalankan roda bisnis ini. Pernikahan Bariyah dengan Muhammad Wasim menurunkan tiga anak: Siti Antaroh, Ichnaton, dan Fuad. Siti Antaroh menikah dengan Karnoto B.A. Keduanya menetap di Desa Jambu, Ambarawa, Jawa Tengah. Sedangkan Ichnaton menikah dengan Siti Chaerani. Setelah Siti Chaerani meninggal dunia, Ichnaton menikah lagi. Dia menetap di Kediri, Jawa Timur. Adapun Fuad mendapat tugas mengajar di Sumatra Utara. Dia menikah dengan Upik, seorang bidan. Fuad mendapat tugas belajar di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM) sampai selesai. Setelah lulus, dia bertugas sebagai Hakim di Kuningan Cirebon sampai wafatnya.

              Siti Bariyah meninggal dunia setelah melahirkan Fuad, anak ketiganya. Setelah meninggal dunia, anak-anak Bariyah yang masih kecil diasuh oleh Siti Munjiyah, kakak kandungnya. Dalam asuhan Munjiyah inilah anak-anak Bariyah tumbuh dewasa. Bariyah memang meninggal dunia dalam usia relatif muda, tetapi namanya telah tercatat dengan tinta emas bahwa dialah president (ketua) pertama HB Muhammadiyah bahagian ‘Aisyiyah.

              Editor : M Taufiq Ulinuha

              The post Milad 106 ‘Aisyiyah, Merefleksikan Kegigihan Ketua ‘Aisyiyah Pertama Siti Bariyah appeared first on PWM Jawa Tengah.

              muhammadiyah.or.id

              Share98Tweet62Send
              Previous Post

              Jelang Musyda, PDM Sukoharjo Gelar Apel Kesiapsiagaan AMM

              Next Post

              Lanjutkan Program Keberlangsungan Akses Oksigen, MDMC-PATH-Kemenkes RI Gelar Pelatihan untuk Dinkes dan RS

              InfoLain

              BeritaMu

              PP ‘Aisyiyah Respons Kekerasan Anak di Daycare Yogyakarta

              29/04/2026
              BeritaMu

              ‘Aisyiyah Ingatkan Risiko Dunia Digital bagi Anak, Dorong Peran Orang Tua dan Regulasi

              29/04/2026
              BeritaMu

              Dari Rendang Qurban untuk Stunting: Pelajaran Berharga dari Talkshow Lazismu Brebes

              29/04/2026
              Next Post
              Lanjutkan Program Keberlangsungan Akses Oksigen, MDMC-PATH-Kemenkes RI Gelar Pelatihan untuk Dinkes dan RS

              Lanjutkan Program Keberlangsungan Akses Oksigen, MDMC-PATH-Kemenkes RI Gelar Pelatihan untuk Dinkes dan RS

              Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

              Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

              Stay Connected

                • Trending
                • Comments
                • Latest

                Kaprodi MPI SPs UMJ Hadiri Muktamar Hidayatul Qur’an di Makkah

                05/09/2024

                Kepemimpinan IMM: Dari Nilai Hingga Transformasi Gerakan

                03/10/2025

                Gebrakan Baru! Nasyiatul Aisyiyah Luncurkan 10 Program Unggulan di Tanwir II

                05/09/2025

                MPI PWM Jateng Gelar Pesantren Digital Ramadan, Siapkan Jurnalis Muda Andal!

                18/03/2025

                Perkuat Internasionalisasi Muhammadiyah, PCIM Arab Saudi Kuatkan Kelembagaan

                0

                Cerita Perkembangan dan Corak Beragam Islam di Amerika

                0

                Ngaji on the Street Makin Asyik saat Belajar Qiroah

                0

                Kompak, Walikota Melton dan Orang tua Siswa Takjub dengan Muhammadiyah Australia College

                0

                LPM UMY Dorong Guru Adaptif, Pelatihan AI Perkuat Inovasi Bahan Ajar di Sekolah

                29/04/2026

                IMM FAI UMY Luncurkan Majalah “Bahlil”, Angkat Isu Perempuan Lewat Studium Generale

                29/04/2026

                Enam Mahasiswa UM Indonesia Antar LavAni Juara Proliga 2026, Boy Arnez Sabet MVP

                29/04/2026

                Unmuha Ambil Peran di HKBN 2026, Edukasi Masyarakat tentang Kesiapsiagaan Bencana

                29/04/2026
                Virtumu – Muhammadiyah All Channel

                Virtumu adalah kumpulan ragam informasi muhammadiyah dari berbagai kanal internet, dengan harapan akan menjadi wahana warta terpadu.

                Follow Us

                Kategori Info

                • BeritaMu (27,921)
                • Hukum Islam (1,416)
                • Kabar PTMA (3,584)
                • KesehatanMu (70)
                • Majelis Virtual (6)
                • Muktamar48 (7)
                • ortomMu (15)
                • sekolahMu (10)
                • Uncategorized (7,428)

                Info terbaru

                LPM UMY Dorong Guru Adaptif, Pelatihan AI Perkuat Inovasi Bahan Ajar di Sekolah

                29/04/2026

                IMM FAI UMY Luncurkan Majalah “Bahlil”, Angkat Isu Perempuan Lewat Studium Generale

                29/04/2026

                Enam Mahasiswa UM Indonesia Antar LavAni Juara Proliga 2026, Boy Arnez Sabet MVP

                29/04/2026
                • Tentang
                • Sumber
                • Advertise
                • Privacy & Policy
                • Contact

                © 2025 VM - Virtual Muhammadiyah by Virtumu1912.

                No Result
                View All Result

                © 2025 VM - Virtual Muhammadiyah by Virtumu1912.

                Welcome Back!

                Sign In with Facebook
                Sign In with Google
                OR

                Login to your account below

                Forgotten Password?

                Retrieve your password

                Please enter your username or email address to reset your password.

                Log In