Kader Sontoloyo : Refleksi Kaderisasi Muhammadiyah
(Tulisan ke-39 dari Beberapa Tulisan Terkait Kaderisasi)
Oleh: Amrizal – Wakil Ketua MPKSDI PWM Sumut / Dosen Unimed
Ada satu kegelisahan yang kerap muncul di benak banyak kader Muhammadiyah, tetapi jarang diucapkan dengan jujur dan tenang. Kegelisahan itu lahir bukan dari kebencian, melainkan dari cinta yang lama dipendam. Cinta pada persyarikatan yang dibangun dengan keringat, doa, dan pengorbanan para pendahulu. Dari kegelisahan itulah, istilah “kader sontoloyo” sesekali terdengar—sebuah ungkapan yang kasar di telinga, namun sesungguhnya menyimpan jeritan nurani.
Muhammadiyah tidak dibesarkan oleh kader yang setengah-setengah. Ia tumbuh karena keberanian KH. Ahmad Dahlan melawan kemapanan, karena kesediaan murid-muridnya belajar, beramal, dan berkorban tanpa pamrih. Sejak awal, kaderisasi Muhammadiyah bukan sekadar proses administratif, apalagi ajang mencari legitimasi struktural. Kaderisasi adalah proses pembentukan manusia—manusia yang berpikir jernih, berhati bersih, dan bergerak untuk kemaslahatan umat.
Namun, di tengah perjalanan panjang itu, kita perlu jujur bercermin. Ada kader yang rajin hadir di forum, tetapi abai pada nilai. Ada yang fasih berbicara ideologi, tetapi gagap saat diminta memberi teladan. Ada pula yang menganggap persyarikatan sebagai tangga sosial, bukan ladang pengabdian. Pada titik inilah, ungkapan “kader sontoloyo” muncul sebagai metafora kegagalan—bukan untuk mencaci, melainkan untuk menyadarkan.
Istilah tersebut sejatinya bukan vonis personal. Ia adalah cermin. Ia memantulkan wajah kita ketika kaderisasi berhenti pada seremoni, ketika militansi digantikan oleh kepentingan, dan ketika ikhlas terpinggirkan oleh ambisi. Dalam bahasa yang lebih halus, ia menandai kader yang kehilangan ruh ideologisnya. Dalam bahasa yang lebih jujur, ia menegur kita yang lupa bahwa menjadi kader berarti siap ditempa, bukan sekadar diakui.
Kaderisasi Muhammadiyah bertumpu pada nilai Islam berkemajuan—Islam yang memadukan iman, ilmu, dan amal. Nilai ini menuntut kerja sunyi, kesabaran, dan konsistensi. Kader sejati tidak selalu tampil di panggung, tetapi hadir ketika umat membutuhkan. Ia tidak sibuk menghitung jasa, sebab ia paham bahwa amal tidak selalu bertepuk tangan. Di sinilah letak perbedaan antara kader yang matang dan kader yang sekadar ramai.
Sering kali, problem kaderisasi bukan pada kurangnya kegiatan, melainkan pada kedalaman makna. Pelatihan demi pelatihan berjalan, tetapi tidak selalu menyentuh kesadaran. Diskusi berlangsung hangat, tetapi tidak selalu berujung pada perubahan sikap. Kita lupa bahwa kaderisasi adalah proses panjang yang menuntut keteladanan. Nilai tidak cukup diajarkan; ia harus dihidupkan.
Muhammadiyah sejak awal menekankan pentingnya ilmu dan amal. KH. Ahmad Dahlan tidak hanya mengajarkan tafsir Al-Qur’an, tetapi juga menggerakkan murid-muridnya untuk memberi makan fakir miskin dan menyantuni yatim. Spirit Al-Ma’un bukan slogan, melainkan napas gerakan. Maka, kaderisasi yang tercerabut dari realitas umat sesungguhnya kehilangan orientasi. Kader yang sibuk dengan simbol, tetapi jauh dari problem masyarakat, pelan-pelan akan kehilangan legitimasi moral.
Di sinilah kritik menjadi penting. Kritik yang lahir dari cinta bukan untuk meruntuhkan, melainkan untuk menguatkan. Dalam tradisi Muhammadiyah, kritik adalah bagian dari tajdid—upaya terus-menerus memperbarui cara berpikir dan bertindak. Menyebut “kader sontoloyo” dalam kerangka refleksi adalah upaya menggugah kesadaran bahwa kita sedang tidak baik-baik saja, dan karena itu perlu berbenah.
Tentu, tidak adil jika kita menyamaratakan. Banyak kader Muhammadiyah yang bekerja tanpa sorotan, mengajar di pelosok, mengelola amal usaha dengan penuh integritas, dan mengabdikan diri tanpa pamrih. Mereka inilah wajah sejati persyarikatan. Namun, justru karena ada standar luhur itulah, kita perlu berani menegur ketika sebagian kader menyimpang dari nilai. Teguran yang jujur adalah bentuk tanggung jawab sejarah.
Kader Muhammadiyah bukan pewaris bangunan, melainkan pelanjut cita-cita. Ia mewarisi keberanian berpikir, keikhlasan beramal, dan kesediaan berkorban. Dalam Al-Qur’an, Allah mengingatkan agar manusia berkata benar dan menegakkan keadilan, meski terhadap diri sendiri. Prinsip inilah yang seharusnya menjadi landasan kaderisasi: keberanian mengoreksi diri sebelum mengoreksi orang lain.
Refleksi tentang “kader sontoloyo” semestinya berujung pada pertanyaan mendasar: untuk apa kita ber-Muhammadiyah? Jika jawabannya adalah jabatan, maka kita sedang salah jalan. Jika jawabannya adalah pengabdian, maka kritik adalah bagian dari perjalanan. Kaderisasi yang sehat melahirkan kader yang tahan uji, bukan mudah tersinggung. Ia siap dikritik karena sadar bahwa tujuan lebih besar daripada ego pribadi.
Ke depan, kaderisasi Muhammadiyah perlu kembali menekankan substansi. Bukan hanya memperbanyak forum, tetapi memperdalam makna. Bukan sekadar mencetak kader yang pandai berbicara, tetapi kader yang siap bekerja. Keteladanan pimpinan, kesederhanaan sikap, dan keberpihakan pada umat harus menjadi kurikulum hidup yang terus diajarkan.
Pada akhirnya, ungkapan “kader sontoloyo” seharusnya tidak berhenti sebagai label, apalagi stigma. Ia adalah alarm. Ia mengingatkan kita bahwa persyarikatan ini terlalu berharga untuk dikelola secara serampangan. Muhammadiyah dibangun dengan keringat dan air mata; ia tidak pantas diwarisi dengan sikap asal-asalan.
Semoga refleksi ini tidak dibaca sebagai kemarahan, melainkan sebagai ajakan pulang. Pulang pada nilai, pulang pada niat, dan pulang pada cita-cita awal Muhammadiyah. Sebab kader sejati bukan mereka yang paling keras bersuara, melainkan yang paling setia menjaga amanah. Dan di situlah, masa depan persyarikatan dipertaruhkan.
Wallahu a’lam Bish Shawab



