Menjelang Hari Raya Idul Adha, narasi tentang pengorbanan besar Nabi Ibrahim AS kembali menggema. Namun, pernahkah kita merenungkan bagaimana proses di balik layar seorang Ibrahim mendidik Ismail hingga ia menjadi anak yang begitu tegar saat ujian menyembelih tiba?
Di era modern, kita sering terjebak dalam ambisi mencetak anak jenius. Kita terobsesi pada akselerasi kognitif—ingin anak cepat baca-tulis, cepat kuliah, dan cepat meraih gelar. Namun, belajar dari sejarah manusia tercerdas William James Sidis yang berakhir tragis, atau kejayaan matematikawan Terence Tao, kita tersadar: kecerdasan tanpa kematangan fitrah adalah bom waktu.
Pelajaran dari Sidis dan Tao: Pentingnya Keutuhan Jiwa
Kisah Sidis menjadi peringatan pedas bagi orang tua. Ia cerdas secara intelektual namun “patah” secara sosial dan emosional karena fitrahnya dipacu secara sepihak. Sebaliknya, Terence Tao berhasil karena ia dibiarkan tumbuh sebagai manusia seutuhnya.
Dalam paradigma Fitrah Based Education yang digagas Ust. Harry Santosa, pendidikan bukanlah soal kecepatan, melainkan keselarasan. Jika fitrah belajar melesat namun fitrah iman dan sosial tertinggal, anak akan mengalami ketimpangan jiwa.
Parenting Nabi Ibrahim: Dialog sebagai Kunci Fitrah
Momentum Idul Adha membawa kita pada model parenting terbaik sepanjang masa. Perhatikan bagaimana Nabi Ibrahim AS menyampaikan perintah Allah untuk menyembelih Ismail dalam Surah As-Saffat ayat 102:
“Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!”
Ini adalah puncak dari keberhasilan pendidikan fitrah. Ibrahim tidak menggunakan otoritas sebagai orang tua untuk memaksa, melainkan menggunakan dialog. Di sini, Ibrahim telah selesai menuntaskan:
1. Fitrah Keimanan: Ismail mengenal Tuhannya sebelum ia mengenal perintah-Nya.
2. Fitrah Sosial & Komunikasi: Ada kedekatan emosional (bonding) yang luar biasa sehingga komunikasi dua arah terjalin mesra bahkan dalam situasi hidup dan mati.
3. Fitrah Belajar & Bernalar: Ismail tidak taat secara buta, ia diajak berpikir (“Pikirkanlah apa pendapatmu”).
Ismail mampu berkata, “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu,” bukan karena ia jenius secara akademik, tetapi karena fitrahnya tumbuh secara harmonis.
Idul Adha: Saatnya Menyembelih “Ego” Orang Tua
Banyak orang tua hari ini “menyembelih” masa kecil anaknya demi mengejar gelar dan prestasi duniawi. Kita memaksa anak menguasai kalkulus sebelum mereka menguasai empati. Kita mengejar akselerasi pendidikan, namun lupa menumbuhkan fitrah bakat dan kepemimpinan.
Pesan Idul Adha dalam konteks parenting adalah panggilan untuk menyembelih ego dan ambisi buta kita. Kita harus menyadari bahwa anak bukanlah aset untuk memegahkan diri orang tua, melainkan amanah yang harus dikembalikan kepada fitrahnya.
Penutup: Menyiapkan Ismail Masa Kini
Kesuksesan sejati seorang anak bukanlah tentang seberapa cepat ia meraih gelar akademik di usia muda. Kesuksesan sejati adalah saat ia mampu menyelaraskan kecerdasan intelektualnya dengan kematangan karakter, sebagaimana Ismail menyelaraskan nalar dan imannya.
Mari jadikan Idul Adha tahun ini sebagai momentum untuk kembali ke akar pendidikan fitrah. Mari mendidik dengan dialog, bukan tekanan. Karena pada akhirnya, kita tidak sedang menyiapkan anak untuk sekadar lulus ujian sekolah, melainkan menyiapkan mereka untuk lulus dalam ujian kehidupan yang sesungguhnya.
Muhammad Farhan Al Yuflih,
Ketua Yayasan Al Firdaus Academy & Alumni Sekolah Tabligh PWM Jateng
The post Mengejar Gelar atau Mengejar Fitrah? Refleksi Parenting Nabi Ibrahim dalam Menyiapkan Generasi Ismail appeared first on Muhammadiyah Jateng.



