WARTAPTM.ID, Sidoarjo — Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) menghadirkan tokoh nasional Anies Rasyid Baswedan dalam kuliah umum bertema “Kepemimpinan Transformasional dan Masa Depan Indonesia”. Kegiatan yang digelar di Auditorium KH Ahmad Dahlan Kampus 1 Umsida, Jumat (24/4), ini diikuti sekitar 1.700 peserta dari berbagai kalangan.
Mulai dari unsur Pimpinan Daerah Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, hingga pelajar turut memadati forum yang menjadi ruang refleksi bersama tentang kepemimpinan dan masa depan bangsa.
Dalam sambutan pembuka, Wakil Rektor III Umsida, Nurdyansyah, memaparkan perkembangan pesat institusi, baik dari sisi akademik maupun prestasi mahasiswa.
Ia menyebutkan bahwa Umsida saat ini memiliki 37 program studi dengan dominasi akreditasi unggul dan baik sekali. Bahkan, capaian akreditasi unggul institusi berhasil diraih lebih cepat dari target.
“Alhamdulillah pada tahun 2024 kemarin Umsida sudah terakreditasi unggul oleh BAN-PT. Capaian ini seharusnya tercapai tahun 2026, tetapi kami mengalami percepatan,” ujarnya.
Tak hanya itu, performa riset dan inovasi juga terus meningkat, ditandai dengan capaian Sinta Score serta penghargaan dalam Anugerah Dikti Saintek 2025. Prestasi mahasiswa pun menembus level internasional, salah satunya melalui kemenangan pada ajang Shell Eco Marathon Qatar 2026.
“Artinya Umsida ini sudah levelnya internasional,” tegasnya.
Anies: Mahasiswa Harus Aktif dan Memilih Kesibukan
Mengawali kuliah umumnya, Anies Baswedan menekankan pentingnya memanfaatkan masa kuliah sebagai fase pembentukan diri yang tidak bisa diulang.
“Masa kuliah tidak bisa diulang. Jadilah mahasiswa yang sibuk, sibuk di dalam kelas dan di luar kelas,” pesannya.
Menurutnya, pilihan untuk aktif merupakan investasi masa depan. Ia mengapresiasi peserta yang hadir sebagai individu yang memilih untuk bertumbuh dibanding sekadar menghabiskan waktu secara pasif.
“Ini adalah pilihan memilih kesibukan Anda,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa aktivitas di luar ruang kelas memiliki peran penting dalam membentuk kapasitas kepemimpinan dan pengalaman hidup mahasiswa.
Kepemimpinan Bukan Jabatan, tetapi Pengaruh
Memasuki pembahasan utama, Anies mengupas konsep kepemimpinan transformatif secara mendalam. Ia menegaskan bahwa esensi kepemimpinan tidak terletak pada jabatan, melainkan pada keberadaan pengikut.
“Bila tidak ada yang mengikuti, Anda bukan pemimpin,” tegasnya.
Ia membedakan secara jelas antara pemimpin dan pejabat. Menurutnya, pejabat memiliki kewenangan formal, tetapi belum tentu memiliki pengaruh kepemimpinan. Sebaliknya, seseorang bisa menjadi pemimpin tanpa jabatan jika gagasan dan tindakannya diikuti orang lain.
Lebih lanjut, ia memperkenalkan rumus kepercayaan dalam kepemimpinan:
T= C + I¹ + I² – SI
(Trust = Competency + Integrity + Intimacy – Self Interest)
“Begitu mendahulukan kepentingan pribadi, maka kepercayaan akan turun. Tiga komponen ini membuat kepercayaan meningkat, namun bisa dijatuhkan oleh satu hal saja,” jelasnya.
Dalam paparannya, Anies juga menekankan pentingnya narrative leadership sebagai fondasi kepemimpinan transformatif. Ia menyebut bahwa seorang pemimpin harus mampu melalui tiga tahapan utama: gagasan, narasi, dan karya.
“Jika ingin menjadi pemimpin yang transformatif maka harus bisa merumuskan gagasan dan menarasikannya dengan cara yang menggerakkan,” ujarnya.
Sebagai ilustrasi, ia menyinggung sosok Sutomo dalam peristiwa perjuangan di Surabaya, yang mampu menggerakkan massa melalui kekuatan narasi.
Menurutnya, kepemimpinan transformatif selalu ditopang oleh narasi yang kuat, berbeda dengan kepemimpinan transaksional yang cenderung berbasis kepentingan jangka pendek.
The post Kuliah Umum di Umsida, Anies Baswedan Kupas Kepemimpinan Transformatif dan Peran Mahasiswa appeared first on Warta PTM.




