WARTAPTM.ID, TANAH DATAR — Upaya penanganan stunting berbasis komunitas terus diperkuat oleh Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat (UMSB). Salah satu dosen Program Studi Kebidanan, Yuliza Anggraini, berhasil meraih pendanaan Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Program ini secara khusus menyasar pencegahan stunting di wilayah terdampak bencana hidrometeorologi, dengan pendekatan pelatihan kader Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di Kenagarian Padang Laweh Malalo sebagai ujung tombak intervensi.
Pelaksanaan program melibatkan sinergi berbagai pihak, mulai dari akademisi hingga mahasiswa. Tim pengabdian menggandeng dosen gizi dari Universitas Perintis Indonesia serta internal UMSB, termasuk dosen kebidanan dan mahasiswa.
Kolaborasi ini diharapkan mampu memperkuat kapasitas kader dalam menghadapi persoalan gizi, khususnya di situasi krisis yang kompleks.
Menjangkau Kelompok Rentan
Yuliza menjelaskan bahwa program PKM ini menargetkan kelompok masyarakat yang secara ekonomi tidak produktif—kelompok yang paling rentan terhadap risiko gizi buruk, terutama dalam kondisi pascabencana.
Ia menyoroti bahwa tantangan penanganan stunting semakin berat seiring meningkatnya angka prevalensi di Kabupaten Tanah Datar, yang kini berada di angka 13,3 persen, sementara target pemerintah daerah lebih rendah.
Kesenjangan ini menunjukkan perlunya pendekatan intervensi yang lebih kontekstual dan adaptif, terutama di wilayah yang baru saja terdampak bencana.
Situasi semakin kompleks setelah bencana hidrometeorologi yang dipicu oleh Siklon Tropis Seroja (dalam konteks kejadian serupa) melanda wilayah Sumatera Barat. Kerusakan infrastruktur, mulai dari jembatan putus hingga fasilitas umum yang tidak berfungsi, menyebabkan akses masyarakat terhadap layanan dasar menjadi terhambat.
Distribusi logistik terganggu, sementara kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan anak-anak harus menghadapi keterbatasan pangan dan layanan kesehatan.
Bahkan, sejumlah wilayah mengalami isolasi, memperparah kondisi kesehatan masyarakat di tengah situasi darurat.
Stunting dan Bencana: Dua Krisis Bertemu
Menurut Yuliza, kondisi ini menciptakan situasi “krisis ganda”. Di satu sisi, stunting merupakan persoalan gizi kronis yang membutuhkan penanganan jangka panjang. Di sisi lain, bencana menghadirkan krisis akut yang mempercepat memburuknya kondisi tersebut.
Dampaknya, upaya penurunan stunting yang selama ini dibangun berpotensi terhambat jika tidak direspons dengan strategi yang tepat.
Selain itu, kerusakan fasilitas kesehatan seperti posyandu serta keterbatasan alat pemantauan tumbuh kembang anak juga menjadi kendala serius di lapangan. Peningkatan kasus penyakit seperti ISPA dan diare turut memperburuk kondisi kesehatan masyarakat.
Dalam situasi ini, kader Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah yang selama ini menjadi garda terdepan pelayanan kesehatan masyarakat menghadapi tantangan baru. Pendekatan yang selama ini digunakan dinilai belum sepenuhnya relevan untuk kondisi pascabencana.
Melalui program PKM ini, tim UMSB menghadirkan pelatihan dengan pendekatan adaptif dan responsif terhadap kondisi ekstrem. Kader dibekali strategi baru dalam pencegahan stunting, mulai dari edukasi gizi darurat hingga penguatan sistem respons komunitas.
Program ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kapasitas kader, tetapi juga membangun sistem ketahanan kesehatan berbasis masyarakat di wilayah terdampak bencana.
Dengan pendekatan ini, intervensi stunting tidak lagi bersifat reaktif, tetapi mampu menjadi bagian dari respons cepat komunitas dalam menjaga kesehatan ibu dan anak.
Langkah ini sekaligus menegaskan peran perguruan tinggi Muhammadiyah dalam menghadirkan solusi nyata bagi persoalan kemanusiaan, terutama di wilayah rentan bencana.
The post Dosen Kebidanan UMSB Raih Pendanaan PKM, Fokus Cegah Stunting di Wilayah Pascabencana appeared first on Warta PTM.



