Kabut Asap : Ketika Langit Gelap, Ekonomi dan Sosial Ikut Lumpuh
Oleh: Affan Al Quddus, S.Sos., M.Si.
Setiap tahun, cerita yang sama berulang. Langit Sumatera menguning. Mata perih. Napas sesak. Sekolah diliburkan. Penerbangan dibatalkan. Kita menyebutnya musim kabut asap, padahal ini bukan musim, ini adalah bencana buatan.
Kita sering menganggap kabut asap hanya masalah kesehatan dan lingkungan. Padahal dampaknya jauh lebih dalam: ia melumpuhkan ekonomi dan meretakkan kehidupan sosial kita.

Asap Mematikan Ekonomi Rakyat Kecil.
Bagi pekerja kantoran, kabut asap mungkin hanya soal memakai masker dan menyalakan air purifier. Tapi bagi ekonomi rakyat kecil, asap adalah pemutus rezeki.
Petani di berbagai tempat gagal panen karena fotosintesis terganggu dan buah tidak menjadi. Nelayan tidak melaut karena jarak pandang. Sopir, tukang bangunan, driver ojek online kehilangan orderan karena warga takut keluar rumah. Pasar tradisional sepi. Warung UMKM tutup lebih cepat.
Di sektor transportasi, kerugian miliaran rupiah terjadi dalam sehari. Satu penerbangan yang dibatalkan di Kuala Namu berarti ratusan penumpang terlantar, hotel kosong, logistik terlambat, dan harga barang naik.
Yang paling menyedihkan, kabut asap melahirkan kemiskinan baru. Seorang ibu yang anaknya ISPA harus mengeluarkan biaya berobat Rp 500 ribu, padahal pendapatan hariannya hanya Rp 50 ribu. Tabungannya habis untuk masker dan obat, bukan untuk modal usaha. Inilah yang dalam studi kemiskinan disebut “health-induced poverty” miskin karena sakit akibat lingkungan.
Asap Memutus Silaturahmi Sosial
Dampak sosialnya tidak kalah bahaya. Pendidikan lumpuh. Anak-anak kita di Riau, Jambi, dan Sumatera Utara pernah libur berminggu-minggu karena ISPU di atas 300. Mereka kehilangan hak belajar. Generasi yang tumbuh dengan asap adalah generasi yang kehilangan masa depannya.
Begitu juga aktivitas komunitas terhenti. Pengajian, karang taruna, gotong royong, dan arisan warga ditunda. Ketika ruang berkumpul hilang, kecemasan dan stres sosial meningkat.
Kabut asap yang merebak di seantero negeri melahirkan ketidakpercayaan sosial. Masyarakat curiga siapa yang membakar lahan. Konflik antara warga dengan korporasi meningkat. Kepercayaan kepada negara yang tidak mampu mencegah sumber asap yang masif menjadi luntur. Ini adalah krisis sosial yang paling berbahaya.
Di garis horizontal ketimpangan menjadi nyata. Yang kaya bisa mengungsi ke hotel berbintang dengan filter udara, membeli masker N95, dan menyekolahkan anak secara online dari luar kota. Yang miskin terpaksa bertahan, menghirup asap dengan masker kain, dan tetap bekerja di luar karena jika tidak bekerja, tidak makan.
Asap yang sama, tapi dampaknya tidak sama. Asap itu tidak adil.
Petaka Akibat Kezaliman
Allah SWT berfirman:
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah Allah memperbaikinya.” (QS. Al-A’raf: 56).
Karhutla dan kabut asap adalah bentuk “fasad fil ardh” kerusakan di muka bumi yang jelas dilarang. Membakar lahan untuk keuntungan segelintir orang, tetapi merugikan jutaan orang, adalah kezaliman ekologis.
Pemerintah tidak bisa hanya hadir saat memadamkan api. Negara harus hadir dengan tiga jaminan: jaminan kesehatan gratis bagi korban ISPA, jaminan pendidikan darurat agar anak tetap belajar, dan jaminan ekonomi bagi UMKM dan petani yang gagal panen akibat asap.
Penutup
Kabut asap mengajarkan kita satu hal: masalah lingkungan tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu menjelma menjadi masalah ekonomi dan masalah sosial.
Jika hari ini kita membiarkan langit terus gelap karena asap, maka besok ekonomi rakyat akan semakin gelap dan masa depan sosial kita pun akan semakin sesak.
Sudah saatnya kita tidak hanya memadamkan apinya, tetapi juga menindak dan mengkhukum para pelaku pembakaran dan disisi lain yang prioritas memulihkan napas ekonomi dan merajut kembali napas sosial kita yang terputus oleh asap. (***)
*** Penulis: Dosen Fisip UMSU, Pemerhati Kebijakan Publik & Pemberdayaan Masyarakat.






