Belajar, Berjejaring, dan Berdaya: UMKM Muhammadiyah Menyongsong Muktamar di Sumatera Utara
Oleh: Jufri
Terkadang kita perlu pergi jauh, bukan semata-mata untuk melihat dunia yang berbeda, tetapi juga untuk belajar memahami mengapa suatu bangsa mampu berkembang dan produknya menguasai pasar dunia.
China menjadi salah satu contoh menarik. Di Indonesia, kita sudah akrab dengan berbagai produk buatan China, mulai dari peralatan rumah tangga hingga teknologi modern. Namun, menyaksikan langsung bagaimana industri berkembang, teknologi dimanfaatkan, dan kegiatan usaha dibangun tentu memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan sekadar menggunakan produknya.
Dalam konteks inilah, kegiatan *Kopdar Internasional dan *Business Trip to China** yang diselenggarakan oleh Lembaga Pengembang UMKM Pimpinan Pusat Muhammadiyah bersama Serikat Usaha Muhammadiyah (SUMU) menjadi perjalanan yang patut mendapatkan perhatian. Kegiatan yang berlangsung pada 14 Oktober hingga 2 November 2026 ini mencakup kunjungan ke Zhejiang, Guangzhou, dan Shantou.
Bersama Buya Anwar Abbas, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, rombongan membawa semangat untuk memperluas jejaring internasional dan mendorong kemajuan usaha Muhammadiyah. Salah satu peserta dari Sumatera Utara adalah Rektor Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), *Prof. Dr. Akrim, M.Pd.*, yang juga dipercaya sebagai Ketua Panitia Lokal Muktamar ke-49 Muhammadiyah dan Aisyiyah di Sumatera Utara.
Kehadiran Prof. Dr. Akrim, M.Pd. dalam perjalanan ini menarik untuk dicermati. Ada hubungan strategis antara pengembangan UMKM, peran perguruan tinggi, dan persiapan Muktamar. Ketiganya dapat saling menguatkan apabila pengalaman dan jejaring yang diperoleh dari perjalanan internasional diterjemahkan menjadi program nyata bagi masyarakat.
Perjalanan ini bukan sekadar agenda kunjungan ke luar negeri, melainkan kesempatan untuk belajar dari pengalaman negara lain dalam mengembangkan industri, membangun ekosistem usaha, dan memperkuat daya saing ekonomi.
Ada satu pemikiran Buya Anwar Abbas yang relevan untuk direnungkan dalam perjalanan ini. Beliau kerap mengingatkan bahwa jika ingin berkemajuan, ada tiga bidang utama yang harus dikuasai, yaitu *ekonomi, politik, dan pendidikan*.
Ketiganya saling berkaitan. Pendidikan membangun pengetahuan dan kualitas sumber daya manusia. Ekonomi memperkuat kemandirian serta kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan hidupnya. Sementara itu, politik berkaitan dengan proses pengambilan keputusan, kebijakan publik, dan arah pengelolaan kekuasaan yang memengaruhi kehidupan masyarakat.
Bagi Muhammadiyah sebagai gerakan Islam berkemajuan, ketiga bidang tersebut tidak cukup hanya dibicarakan dalam forum pengajian atau pertemuan organisasi. Semuanya perlu diwujudkan melalui kerja nyata. Pendidikan harus melahirkan manusia yang unggul, ekonomi harus memperkuat kemandirian umat, dan keterlibatan dalam kehidupan politik harus ikut mendorong kebijakan yang adil serta berpihak pada kepentingan masyarakat luas.
Dalam konteks ekonomi, pengembangan UMKM menjadi salah satu jalan penting untuk memperkuat kemandirian umat. Muhammadiyah telah memiliki jaringan organisasi, lembaga pendidikan, rumah sakit, serta berbagai amal usaha yang dapat menjadi kekuatan kolaborasi. Potensi tersebut akan semakin berarti apabila dihubungkan dengan pengembangan kewirausahaan, inovasi, dan perluasan pasar.
Bagi Sumatera Utara, perjalanan ini juga memiliki arti strategis. Sumatera Utara akan menjadi tuan rumah *Muktamar ke-49 Muhammadiyah dan Aisyiyah pada 18–21 November 2027*. Agenda besar persyarikatan ini bukan hanya membutuhkan kesiapan organisasi dan tempat penyelenggaraan, tetapi juga partisipasi masyarakat serta dukungan pelaku usaha, termasuk UMKM.
Bayangkan berapa banyak peserta, penggembira, tamu, dan warga Muhammadiyah dari berbagai penjuru Indonesia yang akan datang ke Sumatera Utara. Kehadiran mereka membuka peluang ekonomi yang tidak kecil, mulai dari penyediaan makanan dan minuman, kerajinan, produk lokal, pakaian, transportasi, hingga berbagai layanan pendukung kegiatan.
Peluang ini semestinya dibaca sejak sekarang. UMKM jangan hanya menjadi penonton ketika sebuah perhelatan besar berlangsung di daerahnya sendiri. Mereka perlu dipersiapkan agar mampu mengambil bagian, menawarkan produk berkualitas, memberikan pelayanan yang baik, dan membangun jejaring usaha yang berkelanjutan.
Karena itu, perjalanan ke China dapat menjadi sumber inspirasi untuk mempersiapkan UMKM Sumatera Utara menghadapi peluang tersebut. Belajar dari kemajuan industri dan perdagangan, memperluas jaringan pemasaran, meningkatkan kualitas produk, serta memanfaatkan teknologi digital merupakan beberapa langkah yang dapat mulai dilakukan.
Sebagai Ketua Panitia Lokal Muktamar, Prof. Dr. Akrim, M.Pd. memiliki posisi strategis untuk mendorong agar persiapan penyelenggaraan juga membuka peluang pemberdayaan ekonomi masyarakat. Muktamar hendaknya tidak hanya sukses dari sisi organisasi dan pelaksanaan acara, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi Sumatera Utara.
Pelaku UMKM perlu diberi ruang untuk berpartisipasi. Mereka dapat dilibatkan dalam penyediaan berbagai kebutuhan Muktamar, promosi produk unggulan daerah, pameran usaha, hingga pengembangan jejaring bisnis. Dengan demikian, UMKM bukan sekadar menjadi penyedia kebutuhan kegiatan, melainkan juga bagian dari gerakan ekonomi yang tumbuh bersama persyarikatan.
Di sinilah perguruan tinggi seperti UMSU dapat mengambil peran strategis. Kampus dapat membantu UMKM melalui riset, pelatihan, pendampingan manajemen, pengembangan pemasaran digital, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Pengalaman internasional juga dapat menjadi bahan pembelajaran untuk memperkuat kolaborasi antara kampus dan dunia usaha.
Tentu saja, China memiliki kondisi sosial, ekonomi, dan kebijakan yang tidak sepenuhnya sama dengan Indonesia. Belajar bukan berarti menyalin semua yang dilakukan negara tersebut. Yang lebih penting adalah memahami praktik baiknya, mengambil pelajaran yang relevan, kemudian menyesuaikannya dengan potensi dan karakter UMKM Indonesia.
Pada akhirnya, perjalanan jauh akan memiliki arti apabila menghasilkan perubahan ketika kita kembali. Jejaring internasional menjadi penting, tetapi manfaatnya akan lebih terasa jika sampai kepada pelaku usaha kecil di daerah.
Bagi UMKM Muhammadiyah Sumatera Utara, ada dua momentum yang patut berjalan beriringan: belajar dari pengalaman internasional dan mempersiapkan diri menyambut Muktamar ke-49 Muhammadiyah dan Aisyiyah. Yang satu memperluas wawasan, sedangkan yang lain menghadirkan kesempatan nyata untuk membuktikan kemampuan.
Keduanya juga bertemu dalam satu cita-cita besar Muhammadiyah: pendidikan yang mencerdaskan, ekonomi yang memandirikan, dan kehidupan politik yang mendorong kemaslahatan. Ketika ketiga bidang ini diperkuat secara seimbang, gerakan berkemajuan tidak hanya menjadi slogan, tetapi hadir sebagai kekuatan yang dirasakan masyarakat.
Muktamar hendaknya tidak hanya meninggalkan kenangan tentang suksesnya sebuah agenda besar persyarikatan, tetapi juga mewariskan manfaat ekonomi bagi masyarakat Sumatera Utara. Salah satu wujudnya adalah UMKM yang semakin berkembang, pelaku usaha yang semakin percaya diri, serta jejaring bisnis yang tetap terpelihara setelah Muktamar berakhir.
*Dari China kita belajar, melalui pendidikan kita membangun kualitas manusia, melalui ekonomi kita memperkuat kemandirian, dan melalui politik kita memperjuangkan kebijakan yang berpihak pada* kemaslahatan. Muktamar ke-49 Muhammadiyah dan Aisyiyah di Sumatera Utara semestinya menjadi momentum untuk menggerakkan UMKM agar lebih berperan, lebih strategis, dan semakin berdaya saing.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni





