Refleksi 81 Tahun Kemerdekaan RI (IV):
Merdeka Menjaga Indonesia
Oleh: Amrizal
Bulan Agustus selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah-rumah penduduk. Gapura kampung dihias dengan warna kebangsaan. Lagu-lagu perjuangan kembali diperdengarkan. Anak-anak mengikuti perlombaan, sementara orang tua mengenang kisah perjuangan para pendahulu.
Namun, di tengah semarak peringatan kemerdekaan itu, ada pertanyaan yang patut kita renungkan bersama: masihkah kita mewarisi semangat yang sama dengan para pendiri bangsa?
Pertanyaan ini penting diajukan karena kemerdekaan sesungguhnya bukan sekadar peristiwa sejarah yang diperingati setiap tanggal 17 Agustus. Kemerdekaan adalah amanah yang harus terus dijaga dan diperjuangkan oleh setiap generasi. Jika dahulu para pahlawan mempertaruhkan nyawa untuk merebut kemerdekaan, maka generasi hari ini dituntut untuk mempertahankan dan mengisinya dengan karya, ilmu pengetahuan, integritas, dan akhlak yang mulia.
Ironisnya, ketika bangsa ini memasuki usia kemerdekaan yang semakin matang, kita justru menyaksikan berbagai gejala yang mengkhawatirkan. Budaya membaca semakin melemah. Percakapan yang mendalam digantikan oleh informasi yang serba singkat. Silaturahim yang dahulu menjadi kekuatan sosial bangsa perlahan tergeser oleh hubungan digital yang dangkal. Rasa hormat kepada guru, orang tua, dan tokoh masyarakat tidak lagi sekuat dahulu. Nasionalisme sering kali berhenti pada simbol, belum sepenuhnya menjadi karakter dan perilaku.
Kita hidup di zaman yang sangat maju secara teknologi, tetapi belum tentu semakin maju secara moral.
Padahal para pendiri bangsa membangun Indonesia bukan hanya dengan kecerdasan, tetapi juga dengan karakter. Mereka memiliki keberanian, kejujuran, kesederhanaan, pengorbanan, dan ketulusan yang luar biasa. Mereka tidak bertanya apa yang akan mereka peroleh dari Indonesia. Mereka bertanya apa yang dapat mereka berikan untuk Indonesia.
Di sinilah kita perlu belajar dari sejarah.
Sejarah Indonesia menunjukkan bahwa kemerdekaan tidak lahir secara tiba-tiba. Kemerdekaan adalah buah dari perjuangan panjang yang melibatkan banyak tokoh, organisasi, dan gerakan kebangsaan. Sejarawan besar Indonesia, Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo dalam berbagai kajiannya tentang pergerakan nasional menjelaskan bahwa kebangkitan Indonesia tidak dapat dipisahkan dari lahirnya organisasi-organisasi modern yang membangkitkan kesadaran kebangsaan. Organisasi-organisasi tersebut menjadi sekolah politik, sekolah karakter, dan sekolah kepemimpinan bagi rakyat yang selama ratusan tahun hidup dalam penjajahan.
Muhammadiyah termasuk salah satu kekuatan yang turut menyiapkan fondasi kemerdekaan melalui pendidikan, pelayanan kesehatan, pemberdayaan masyarakat, dan pembangunan kesadaran kebangsaan sejak awal abad ke-20. Bahkan dari rahim Muhammadiyah lahir puluhan Pahlawan Nasional yang berkontribusi besar dalam perjuangan dan pembangunan bangsa.
Nama-nama seperti KH. Ahmad Dahlan, Nyai Ahmad Dahlan, Ki Bagus Hadikusumo, Jenderal Besar Soedirman, Kasman Singodimedjo, AR Baswedan, Mas Mansur, hingga Djuanda Kartawidjaja adalah bukti bahwa Muhammadiyah tidak hanya melahirkan ulama dan pendidik, tetapi juga negarawan, pejuang, dan pemimpin bangsa. Mereka menunjukkan bahwa keislaman dan keindonesiaan bukan dua hal yang bertentangan. Keduanya justru saling menguatkan.
Jenderal Besar Soedirman adalah contoh yang sangat relevan bagi generasi saat ini. Dalam keadaan sakit, beliau tetap memimpin perang gerilya demi mempertahankan kemerdekaan. Soedirman tidak menunggu kondisi ideal untuk berjuang. Ia berjuang dalam segala keterbatasan. Semangat inilah yang mulai langka pada generasi sekarang. Banyak orang ingin menikmati hasil, tetapi sedikit yang bersedia menjalani proses. Banyak yang ingin menjadi terkenal, tetapi enggan menjadi pejuang yang bekerja dalam kesunyian.
Padahal Al-Qur’an telah memberikan pesan yang sangat kuat tentang pentingnya perubahan dan perjuangan:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Ayat ini mengajarkan bahwa kemajuan bangsa tidak ditentukan oleh slogan, melainkan oleh kualitas manusianya. Indonesia tidak akan menjadi bangsa besar hanya karena memiliki sumber daya alam yang melimpah. Indonesia akan menjadi bangsa besar apabila memiliki sumber daya manusia yang unggul, berakhlak, dan berintegritas.
Rasulullah SAW juga mengingatkan:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad)
Hadis ini sesungguhnya merupakan fondasi bagi semangat mengisi kemerdekaan. Menjadi warga negara yang baik bukan sekadar mencintai tanah air dengan kata-kata, tetapi menghadirkan manfaat bagi sesama melalui profesi, ilmu, dan pengabdian yang dimiliki.
Tantangan kebangsaan hari ini memang berbeda dengan masa penjajahan. Musuh kita bukan lagi kolonialisme fisik. Tantangan terbesar justru datang dalam bentuk yang lebih halus: kemalasan berpikir, krisis keteladanan, korupsi, disinformasi, fanatisme sempit, individualisme, serta hilangnya budaya ilmu.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, berulang kali mengingatkan bahwa kebangkitan nasional harus dimaknai sebagai upaya membangun jiwa kebangsaan yang membawa Indonesia menjadi bangsa maju dan berdaulat. Ia juga menegaskan pentingnya meneladani moralitas para pahlawan yang berjuang tanpa pamrih dan mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi maupun golongan.
Pesan tersebut sangat relevan dengan kondisi Indonesia saat ini. Kita membutuhkan lebih banyak teladan daripada tontonan. Kita membutuhkan lebih banyak pemikir daripada pengeluh. Kita membutuhkan lebih banyak pembaca daripada penyebar informasi yang tidak jelas sumbernya. Kita membutuhkan lebih banyak pengabdi daripada pencari popularitas.
Bagi kader Muhammadiyah, memperingati kemerdekaan bukan sekadar memasang bendera atau mengikuti upacara. Memperingati kemerdekaan berarti memperbarui komitmen untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Menjadi guru yang mendidik dengan hati. Menjadi dokter yang melayani dengan empati. Menjadi pengusaha yang jujur. Menjadi birokrat yang bersih. Menjadi pemimpin yang amanah. Dan menjadi kader yang terus belajar sepanjang hayat.
Kemerdekaan tidak akan bertahan hanya dengan kenangan tentang para pahlawan. Kemerdekaan akan tetap hidup jika lahir generasi baru yang memiliki keberanian, pengorbanan, dan idealisme yang sama.
Maka pada peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2026 ini, marilah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah kita hanya penikmat kemerdekaan, atau benar-benar pewaris perjuangan?
Sebab para pahlawan telah menunaikan tugas mereka. Kini giliran kita menjaga Indonesia. Bukan dengan bambu runcing. Tetapi dengan ilmu pengetahuan. Bukan dengan medan perang. Tetapi dengan akhlak dan keteladanan. Bukan dengan merebut kemerdekaan. Tetapi dengan memastikan kemerdekaan itu melahirkan bangsa yang berkeadaban, berkemajuan, dan bermartabat.
Karena sesungguhnya, kemerdekaan yang paling penting bukanlah kemerdekaan yang diwariskan oleh sejarah, melainkan kemerdekaan yang mampu kita pertahankan dan maknai untuk masa depan Indonesia.
Wallahu a’lam bish shawab
*** Penulis, Wakil Ketua MPKSDI PWM Sumatera Utara / Dosen Univeristas Negeri Medan






