Muhammadiyah-MUIS Dorong Dakwah Lansia sebagai Respons Perubahan Demografi
iNFOMU.CO | Jakarta – Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menerima kunjungan delegasi Majlis Ugama Islam Singapura (MUIS) untuk bertukar pikiran mengenai tantangan dakwah, pengembangan sumber daya manusia, filantropi, hingga isu meningkatnya populasi lanjut usia di Indonesia dan Singapura.
Delegasi MUIS yang hadir dalam pertemuan tersebut terdiri atas Deputy Director MUIS Alfian Yasrif Bin Kuchit dan Senior Executive Goh Muhammad Redhuan.
Sementara dari PP Muhammadiyah dihadiri oleh Bendahara Umum PP Muhammadiyah Hilman Latief, Anggota Majelis Tabligh PP Muhammadiya Ustadz Reza Prima Matondang, serta Ketua Badan Pengurus Lazismu Ahmad Imam Mujadid Rais.
Dalam pertemuan tersebut, Hilman Latief menjelaskan bahwa dakwah di Indonesia memiliki dinamika yang beragam, terutama karena karakter masyarakat yang berbeda-beda. Menurutnya, pendekatan dakwah di masyarakat urban tentu berbeda dengan masyarakat yang memiliki tradisi keagamaan yang kuat.
Hilman menjelaskan, keberagaman masyarakat juga menjadi perhatian Muhammadiyah dalam mengembangkan dakwah dan pendidikan. Muhammadiyah memiliki sekolah dan perguruan tinggi yang tidak hanya diikuti oleh umat Islam, tetapi juga masyarakat non-Muslim.
“Sekolah kita banyak yang siswanya non-Muslim, di universitas juga. Bahkan kita beri gelar Krismuha, Kristen Muhammadiyah. Al-Islam dan Kemuhammadiyahan mereka harus tahu,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Hilman juga menyoroti fenomena meningkatnya jumlah lanjut usia sebagai salah satu tantangan dakwah yang perlu mendapatkan perhatian lebih serius. Ia menyampaikan bahwa Muhammadiyah dan Aisyiyah mulai melihat pentingnya pengembangan model dakwah yang menyasar kelompok lansia.
“Terutama Aisyiyah sedang bersemangat untuk mendirikan pesantren lansia. Kita sudah lihat ke Singapura, dan negara-negara lain adalah semakin banyaknya lansia, kita belum serius di sana. Dakwahnya harus diseriuskan di sana,” ungkap Hilman.
Menurutnya, perubahan struktur demografi harus direspons melalui investasi dakwah yang tepat. Ia menilai pesantren lansia dapat menjadi salah satu bentuk dakwah yang lebih terlihat sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat yang memasuki usia lanjut.
“Pesantren Lansia jauh lebih visible dibanding buat pesantren baru. Karena di Indonesia juga sudah mulai fertility rate-nya sudah mulai turun. Kalau dulu Singapura banyak sekolah ditutup karena tidak lagi ada anak-anaknya, Indonesia juga akan mengalami itu. Investment dakwah kita sudah harus masuk ke sana,” tambahnya.
Dorong Kolaborasi Dai Muda Asia Tenggara
Sementara itu, Reza Prima Matondang menyampaikan bahwa pertemuan Muhammadiyah dan MUIS menjadi ruang untuk bertukar pikiran mengenai tantangan dakwah yang dihadapi Indonesia dan Singapura. Menurutnya, kedua negara memiliki dinamika masyarakat yang berbeda sehingga diperlukan pendekatan dakwah yang adaptif.
“Terjadi tukar pikiran terkait dengan tantangan dakwah, baik Singapura maupun Indonesia pasti memiliki dinamika dan tantangan dakwah tersendiri,” ungkap Reza.
Ia menyambut baik gagasan pengembangan dakwah bagi kelompok lansia. Menurutnya, meningkatnya populasi lansia menjadi momentum bagi organisasi Islam untuk menghadirkan model dakwah yang relevan dan menyentuh kebutuhan kelompok tersebut.
“Terkhusus terkait dengan populasi jumlah lansia yang meningkat, bagus sekali kalau kemudian ide besar yang ditawarkan Prof Hilman, yaitu bagaimana dakwah kepada lansia ini mendapatkan prioritas, di antaranya menumbuhkan atau bahkan mendirikan pesantren lansia agar jumlah lansia yang besar juga mendapatkan sentuhan dakwah,” jelasnya.
Selain isu lansia, Reza mendorong adanya dialog dan penguatan jaringan tokoh muda yang memiliki perhatian terhadap dakwah di kawasan Asia Tenggara. Menurutnya, kerja sama tersebut dapat menjadi sarana untuk saling belajar dan memperkuat kapasitas dai muda.
“Ke depan harus ada dialog tokoh muda yang konsen dengan dakwah agar saling menguatkan khususnya di kawasan Asia Tenggara. Dan ini akan menjadi prototype bahwa Islam dari Asia Tenggara bisa menjadi solusi di tengah tantangan global. Beginilah wajah dakwah yang lebih dinamis, berkemajuan dan inovatif,” tuturnya.
Ia menambahkan, Muhammadiyah dan MUIS berkomitmen untuk melanjutkan kerja sama di bidang dakwah melalui pertemuan yang lebih intensif. Salah satu gagasan yang didorong adalah penyelenggaraan pelatihan bersama bagi ustaz muda dari berbagai negara di Asia Tenggara.
“Akan kerja sama di bidang dakwah, akan ada terus pertemuan intensif, kemudian bahkan kita dorong ada camp untuk ustaz muda, pelatihan bersama ustaz muda yang di Asia Tenggara,” ujar Reza.
Menurutnya, pelatihan tersebut tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan pemahaman keagamaan, tetapi juga membangun kemampuan para dai dalam membaca perubahan sosial dan memberikan solusi yang maslahat bagi masyarakat.
“Sehingga dengan adanya pelatihan ini akan terjalin komunikasi dan peningkatan kemampuan sumber daya insani, terutama bukan hanya memahami teks-teks agama tetapi juga membaca dinamika masyarakatnya dan memberikan solusi-solusi yang maslahat,” tambahnya.
MUIS Belajar Pengelolaan Amal Usaha Muhammadiyah
Delegasi MUIS, Alfian Yasrif Bin Kuchit, menyampaikan bahwa kunjungan tersebut dilakukan untuk belajar dari pengalaman Muhammadiyah dalam mengembangkan berbagai amal usaha dan institusi sosial.
Menurutnya, Muhammadiyah memiliki pengalaman yang menarik dalam mengelola berbagai unit seperti rumah sakit, universitas, dan sekolah yang berada dalam satu ekosistem organisasi.
“Jadi kami dari MUIS berkunjung ke Muhammadiyah untuk menimba ilmu karena di Muhammadiyah itu ada unit-unit seperti RS, university, sekolah-sekolah. Kami di Singapura belum ada ormas seperti itu,” ujar Alfian.
Ia menjelaskan bahwa salah satu hal yang ingin dipelajari adalah bagaimana Muhammadiyah membangun sumber daya manusia yang memiliki kemampuan mengelola organisasi dan institusi dalam skala besar.
“Kami mau asatidzah, dai-dai, ustaz bukan hanya sekadar mengetahui ilmu agama tapi juga punya kemampuan mengurusi organisasi yang besar. Ini membutuhkan skill yang serius kita belajar pengalaman yang ada di Muhammadiyah bagaimana mereka bisa menimbulkan bakat-bakat yang dapat mengurus universitas, hospital, dan lain-lain dan memastikan di masa depan ada regenerasi,” jelasnya.
Alfian juga mengapresiasi sejumlah karakteristik Muhammadiyah, termasuk keberadaan Aisyiyah dan Majelis Tarjih dan Tajdid yang berperan dalam merespons persoalan keagamaan dengan mempertimbangkan kemaslahatan masyarakat.
“Muhammadiyah itu menarik sekali karena adanya program-program seperti Aisyiyah bagi golongan wanita, ada Majelis Tarjih dalam segi fatwa yang sangat berkemajuan melihat maslahat umum seperti fatwa penyembelihan di negara sendiri. Ini menampakkan pemikiran yang berkemajuan,” ungkapnya.
Selain penguatan kelembagaan, Alfian menilai pertukaran pengetahuan antargenerasi dan antarnegara menjadi hal penting untuk menghadapi tantangan masyarakat di masa depan.
“Mengenai bagaimana kita dapat menyatukan para pemuda agar dapat bertukar pikiran, menimba ilmu dan juga bagaimana kita dapat memahami isu-isu ke depan seperti masyarakat lansia, bagaimana cara kita bisa berdakwah kepada mereka,” pungkasnya.
Pertemuan Muhammadiyah dan MUIS tersebut juga membahas perkembangan filantropi di kedua negara. Reza menyampaikan bahwa Singapura memiliki sejumlah proyek filantropi yang dapat menjadi bahan pembelajaran bagi Muhammadiyah dan organisasi Islam di Indonesia. Sebaliknya, MUIS juga memberikan apresiasi terhadap perkembangan filantropi di Indonesia, khususnya yang dikembangkan Muhammadiyah melalui Lazismu.
Pertukaran pengalaman tersebut diharapkan menjadi pintu masuk bagi penguatan kolaborasi Muhammadiyah dan MUIS, khususnya dalam bidang dakwah, pengembangan kader dan sumber daya manusia, filantropi, serta respons terhadap perubahan sosial dan demografi di kawasan Asia Tenggara. (muhammadiyah.or.id)






