Bukan Sekadar Pengajian, Masjid Taqwa Gedung Johor Mulai “Go Digital”
INFOMU.CO | Medan – Masjid bukan hanya tempat berkumpulnya jamaah. Di era perubahan teknologi yang bergerak begitu cepat, masjid juga dituntut mampu beradaptasi, berbenah dan menghadirkan pelayanan yang semakin mudah bagi umat.
Semangat itulah yang terlihat dalam Pengajian Ahad pagi ba’da Shubuh di Masjid Taqwa Ranting Muhammadiyah Gedung Johor, Ahad (9/8/2026).
Jika biasanya jamaah datang untuk mengikuti kajian dan memperdalam ilmu agama, maka pagi itu mereka mendapatkan tambahan informasi baru yang lebih, bukan hanya ilmu agama. Tiga kader muda ranting Muhammadiyah Gedung Johor tampil di depan jamaah membawa satu pesan: pentingnya digitalisasi tatakelola ranting muhammadiyah berkemajuan.
Mereka adalah Haedar, Hafiz dan Rizky. Ketiganya tampil bergantian memperkenalkan diri sekaligus mensosialisasikan program digitalisasi yang tengah dicanangkan oleh Pimpinan Ranting Muhammadiyah Gedung Johor.
Sosialisasi diawali pengantar oleh Ketua PRM Gedung Johor Bpk Dr. Muhammad Said Siregar, S.Si.M.Si. dan dilaksanakan setelah pengajian rutin oleh Ustadz M. Hardiyatno, SE. Dengan bahasa yang sederhana, ketiganya menjelaskan bagaimana teknologi nantinya dapat membantu jamaah dan pengurus dalam mengakses informasi serta mengelola berbagai aktivitas organisasi.
Mulai dari informasi organisasi, program kegiatan, jadwal pengajian, hingga informasi keuangan dan infaq akan diarahkan ke dalam sistem digital yang lebih terintegrasi.
Bahkan, kegiatan yang selama ini membutuhkan cukup banyak pendataan dan koordinasi, seperti pengelolaan qurban dan berbagai kepanitiaan, juga akan didukung melalui sistem tersebut.
Targetnya sederhana: pekerjaan lebih mudah, informasi lebih cepat, data lebih tertata, dan jamaah semakin mudah mendapatkan informasi.

Ketua Badan Takmir Masjid Taqwa Ranting Muhammadiyah Gedung Johor, Muhammad Rusli Harahap, mendukung program PRM ini dengan bergerak bersama para pemuda energik ini.
Menurutnya, digitalisasi bukan sekadar persoalan menggunakan teknologi baru. Lebih jauh, digitalisasi merupakan bagian dari upaya membangun budaya kerja organisasi yang lebih efektif dan profesional.
“Digitalisasi ini akan memudahkan banyak hal. Selain efisiensi waktu, kita juga bisa mengurangi penggunaan kertas. Pekerjaan menjadi lebih praktis dan informasi lebih mudah diakses,” ujarnya.
Ia juga melihat digitalisasi sebagai salah satu instrumen penting dalam membangun transparansi organisasi, khususnya dalam pengelolaan keuangan.
“Ini yang membuat kita bangga. PRM Gedung Johor terus berusaha menghadirkan pengelolaan organisasi yang profesional. Dengan digitalisasi, kita ingin transparansi anggaran juga semakin baik sehingga jamaah mengetahui bagaimana organisasi dikelola,” ujar Rusli.
Dari Masjid, Memulai Perubahan
Menariknya, langkah digitalisasi ini justru diperkenalkan oleh tiga kader muda.
Ketua PRM Gedung Johor, Dr. Muhammad Said Siregar, S. Si. M. Si., mengatakan bahwa keterlibatan generasi muda bukan sekadar pelengkap, tetapi menjadi bagian penting dari proses regenerasi dan transformasi organisasi.
Mereka membawa energi baru sekaligus kemampuan yang dibutuhkan untuk menjembatani aktivitas organisasi dengan perkembangan teknologi.
Digitalisasi pun diharapkan tidak berhenti sebagai sebuah aplikasi.
Ia harus menjadi budaya baru dalam mengelola organisasi: lebih tertib, lebih cepat, lebih transparan dan lebih dekat dengan jamaah.
Dari sebuah pengajian Ahad pagi, sebuah pesan perubahan disampaikan.
Bahwa masjid tidak boleh tertinggal oleh zaman.
Bahwa dakwah membutuhkan cara-cara yang terus berkembang.
“Menjadi Muhammadiyah berkemajuan bukan hanya slogan, tetapi harus diwujudkan dalam cara organisasi bekerja dan melayani umat”, ujar Said Siregar yang di dampingi pengurus PRM lainnya, yaitu Suryatno, Kamal P. Pakpahan, dan Abdullah Baihaqi.
Masjid Taqwa Gedung Johor sedang memulainya. Pelan, tetapi pasti. Dari jamaah, oleh kader muda, untuk organisasi yang semakin berkemajuan. (RH)






