Muhammadiyah dan Seni Berkompromi: Melawan Arus Tanpa Kehilangan Arah
Oleh: Jufri
Kalau mendengar kata kompromi, mungkin yang terbayang adalah sikap mengalah, mencari jalan tengah, atau bahkan ketidaktegasan. Tetapi dalam perjalanan panjang sebuah organisasi, kompromi tidak selalu berarti menyerah. Ada kompromi yang justru menjadi strategi untuk bertahan, berkembang dan mencapai tujuan yang lebih besar.
Barangkali perjalanan Muhammadiyah sejak zaman kolonial hingga sekarang dapat dibaca dari perspektif itu.
Ketika KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah pada 1912, Indonesia masih berada dalam cengkeraman kolonialisme Belanda. Muhammadiyah tentu harus pandai membaca keadaan. Ia tidak memilih perlawanan konfrontatif, tetapi juga tidak berarti tunduk kepada kolonialisme.
Muhammadiyah memilih pertarungan gagasan, pertarungan amal nyata dan menjaga masyarakat dengan cara yang elegan.
Dalam buku Membendung Arus, yang berasal dari kajian tesis Alwi Shihab, digambarkan bagaimana Muhammadiyah menghadapi arus kristenisasi melalui pembangunan kekuatan masyarakat: mendirikan sekolah, panti asuhan dan PKU Muhammadiyah.
Ketika ada pendidikan, Muhammadiyah menjawab dengan pendidikan. Ketika ada pelayanan sosial, Muhammadiyah menjawab dengan pelayanan sosial. Ketika ada pelayanan kesehatan, Muhammadiyah juga hadir melalui pelayanan kesehatan.
Maka perlawanan Muhammadiyah bukan hanya di atas mimbar.
Ia hadir di ruang kelas, panti asuhan, rumah sakit dan tengah-tengah masyarakat.
Membangun sekolah adalah perlawanan. Mencerdaskan masyarakat adalah perlawanan. Merawat orang sakit adalah perlawanan. Menyantuni anak yatim adalah perlawanan. Memberdayakan masyarakat adalah perlawanan.
Inilah dakwah bil hal: tidak hanya mengatakan apa yang benar, tetapi menghadirkan kebenaran itu dalam kehidupan.
Muhammadiyah seperti mengatakan, “Kalau belum bisa mengubah sistem, mari kita ubah manusianya.”
Sebab manusia yang berubah akan melahirkan masyarakat yang berubah, dan masyarakat yang berubah pada akhirnya mampu mengubah keadaan.
Setelah Indonesia merdeka, tantangannya berubah. Muhammadiyah tidak lagi berhadapan dengan pemerintah kolonial, tetapi dengan negara yang sedang membangun kehidupan kebangsaan.
Muhammadiyah memilih tidak menjadi partai politik, tetapi tidak menutup pintu bagi kader-kadernya untuk masuk ke dunia politik dan pemerintahan.
Di sinilah seni berkompromi kembali terlihat.
Muhammadiyah boleh bekerja sama dengan pemerintah, tetapi tidak harus menjadi bagian dari pemerintah. Boleh berdialog dengan kekuasaan, tetapi tidak kehilangan keberanian untuk mengkritiknya. Kader boleh berada di dalam kekuasaan, tetapi persyarikatan tidak boleh menjadi alat kekuasaan.
Boleh dekat, tetapi jangan kehilangan jarak kritis.
Sebab terlalu jauh dari kekuasaan mungkin membuat suara tidak didengar. Tetapi terlalu dekat juga bisa membuat suara kehilangan keberanian.
Tentu saja Muhammadiyah bukan organisasi yang sempurna.
Masih banyak kekurangan dalam menjalankan berbagai misi kerakyatan dan keummatan. Sentuhan Muhammadiyah pun belum merata kepada seluruh lapisan masyarakat. Masih ada wilayah yang belum tersentuh secara optimal, pelayanan yang belum merata, kaderisasi yang perlu diperkuat, serta persoalan manajemen dan dinamika internal yang terkadang menyita energi.
Mengakui kekurangan bukan berarti merendahkan Muhammadiyah. Justru kemampuan melihat kekurangan adalah bagian dari kedewasaan sebuah gerakan.
Memasuki usia yang semakin matang, Muhammadiyah terus berbenah sekaligus menghadapi tantangan yang semakin kompleks, baik internal maupun eksternal.
Semakin besar organisasi dan semakin banyak amal usahanya, semakin beragam pula motivasi dan obsesi orang terhadapnya.
Ada yang datang untuk mengabdi, berdakwah dan memberikan ilmu. Tetapi tidak mustahil ada pula yang melihat Muhammadiyah dari sisi jabatan, pengaruh, jaringan dan kepentingan pribadi.
Karena itu, Muhammadiyah tidak cukup hanya memperbesar amal usaha. Ia juga harus memperbesar integritas, profesionalisme, transparansi, tata kelola, kaderisasi dan budaya amanah.
Jangan sampai kebesaran amal usaha mengalahkan kebesaran nilai yang melahirkannya. Jangan sampai jabatan lebih menarik daripada pengabdian, atau perebutan posisi lebih ramai daripada pembicaraan tentang umat.
Hari ini tantangan Muhammadiyah semakin berbeda.
Dulu menghadapi kolonialisme dan arus kristenisasi. Sekarang menghadapi kapitalisme, digitalisasi, perubahan budaya, politik identitas, disrupsi teknologi dan perubahan karakter generasi muda.
Kita mengenal Gen Z, Gen Alfa, dan entah istilah generasi apalagi yang akan muncul setelahnya. Cara mereka belajar, berkomunikasi, mencari informasi dan memandang kehidupan terus berubah.
Di tengah perubahan itu, Muhammadiyah masih terus berjuang menyesuaikan diri dengan tuntutan dan kebutuhan zaman.
Bukan berarti harus mengikuti semua tren. Bukan pula mengubah prinsip agar sesuai dengan selera zaman.
Yang harus berubah adalah cara menghadirkan nilai.
Generasi baru tidak cukup hanya diberi nasihat. Mereka membutuhkan keteladanan, ruang dialog, teknologi yang relevan, pendidikan yang menarik dan keberagamaan yang mampu menjawab persoalan kehidupan mereka.
Barangkali inilah makna tajdid: bukan mengganti nilai, tetapi memperbarui cara menghadirkan nilai.
Karena itu, pertanyaannya bukan apakah Muhammadiyah harus berkompromi atau tidak.
Pertanyaannya adalah: apa yang boleh dikompromikan, apa yang tidak boleh dikompromikan, dengan siapa kita bekerja sama, dan sampai sejauh mana?
Menurut saya, Muhammadiyah boleh berkompromi dalam strategi, tetapi tidak dalam prinsip.
Boleh berubah dalam metode, tetapi tidak dalam tujuan.
Boleh berdialog dengan kekuasaan, tetapi tidak kehilangan independensi.
Boleh mengikuti perkembangan teknologi, tetapi tidak kehilangan etika.
Dan boleh menyesuaikan diri dengan zaman, tetapi tidak boleh kehilangan arah.
Lebih dari satu abad perjalanan Muhammadiyah mengajarkan bahwa perlawanan tidak selalu harus dilakukan dengan suara keras.
Muhammadiyah memilih pertarungan gagasan, pertarungan amal nyata dan menjaga masyarakat dengan cara yang elegan.
Sekolah menjadi medan perjuangan. Rumah sakit menjadi medan perjuangan. Panti asuhan menjadi medan perjuangan. Universitas menjadi medan perjuangan. Masjid menjadi ruang pembinaan. Dan kini ruang digital juga menjadi medan dakwah.
Zaman akan terus berubah. Penjajah berganti, pemerintahan berganti, teknologi berganti dan generasi berganti. Tetapi kebutuhan manusia terhadap ilmu, keadilan, kesehatan, pendidikan, pelayanan dan kehidupan yang bermartabat tetap ada.
Maka Muhammadiyah harus terus bergerak.
Bukan sekadar mengikuti arus, tetapi membendung arus yang merusak dan mengarahkan arus yang baik menuju kemajuan.
Bukan membendung perubahan, apalagi memusuhi zaman. Tetapi membendung nilai-nilai yang merusak manusia, sambil membuka jalan bagi ilmu, amal dan peradaban.
Muhammadiyah boleh berkompromi dengan perubahan, tetapi tidak boleh berkompromi dengan prinsip.
Sebab gerakan yang ingin bertahan lama harus pandai menyesuaikan langkah.
Tetapi gerakan yang ingin tetap menjadi pencerah harus selalu tahu:
ke mana langkah itu diarahkan, untuk siapa ia bergerak, dan nilai apa yang tidak boleh ditinggalkan.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni
(***)







