UMSU Harus Jadi Kampus Berdampak dan Pilar Internasionalisasi Muhammadiyah
INFOMU.CO | Medan – Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Agus Taufiqurrahman, menegaskan bahwa Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) harus terus meneguhkan posisinya sebagai kampus unggul yang mampu menghadirkan pembeda dibandingkan perguruan tinggi lain. Hal itu ia sampaikan dalam pelantikan Wakil Rektor UMSU yang digelar pada Sabtu (25/7).
Menurut Agus, keunggulan perguruan tinggi Muhammadiyah tidak cukup hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari kemampuannya melahirkan lulusan yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Konsep tersebut, kata dia, sejatinya telah lama dirumuskan oleh Pendahulu sekaligus tokoh besar Muhammadiyah, AR Fakhruddin, jauh sebelum istilah kampus berdampak populer digunakan.
“Pak AR pernah bertanya, apa bedanya lulusan Muhammadiyah? Jawabannya, lulusan Muhammadiyah itu unggul dalam moral spiritual, unggul intelektual, dan unggul dalam peran sosial. Gagasan yang disampaikan sejak tahun 1970-an itu sesungguhnya sudah selaras dengan konsep kampus berdampak yang sekarang digaungkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi,” jelas Agus.
Membeberkan makna pesan dari pak AR, Agus menjelaskan bahwa makna kampus berdampak dalam perspektif Muhammadiyah adalah menghasilkan lulusan yang memiliki kontribusi sosial yang jelas di tengah masyarakat. Karena itu, nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan harus menjadi fondasi utama dalam membangun keunggulan perguruan tinggi.
“Saya yakin dengan langkah itu kita dapat terus menghadirkan kampus yang seunggul-unggulnya,” tambahnya.
Menceritakan pesan salah satu tokoh pendahulu Muhammadiyah, Agus turut mengingatkan bahwa perjalanan UMSU juga tak terlepas dari peran besar para tokoh pendahulunya. Oleh karena itu ia memberikan pesan penting bahwa UMSU harus terus merawat hubungan dengan para pendiri, perintis dan para pejuang-pejuang UMSU terdahulu.
“Capaian sekarang perlu kita syukuri. Namun para pendahulu juga tidak ingin kita berhenti pada apa yang telah mereka lakukan. Pada periode ini harus lahir pertumbuhan dan kemajuan yang sebelumnya belum dimiliki,” tegasnya.
Misi Internasionalisasi Muhammadiyah dan Relevansinya Terhadap Gerakan Dakwah Berdampak
Maka dari itu, dalam kesempatan pelantikan wakil rektor ini, ia turut menyoroti misi internasionalisasi Muhammadiyah yang merupakan satu amanah penting Muktamar Muhammadiyah yang harus dijalankan oleh seluruh elemen persyarikatan. Agus menyebut, Internasionalisasi Muhammadiyah dibangun melalui tiga pilar utama.
Pertama, internasionalisasi ide dan gagasan. Yakni menghadirkan Islam Berkemajuan yang ramah, santun, dan membawa kemaslahatan bagi seluruh umat manusia. Dalam hal ini ia teringat cerita kader Muhammadiyah yang ada di Amerika Serikat yang menceritakan bagaimana masyarakat setempat mengenal Islam.
“Banyak masyarakat di sana yang masih belum mengenal konsep Islam yang ramah dan penuh kesantunan. Di situlah Muhammadiyah memiliki peran untuk memperkenalkan wajah dan ciri khas dakwah keislamannya yang ramah, damai, dan penuh kesantunan,” ungkapnya.
Kedua adalah internasionalisasi peran, yang mana saat ini semakin banyak tokoh Muhammadiyah yang terlibat dalam berbagai forum dan lembaga baik di berbagai tingkatan, khususnya di lingkup global. Maka dari itu, Internasionalisasi peran ini dinilainya penting untuk memperkokoh peran Muhammadiyah di berbagai lapisan kehidupan.
Sementara yang ketiga ialah internasionalisasi gerakan. Dalam hal ini ia menyoroti amal usaha Muhammadiyah yang telah berdiri di beberapa negara diluar Indonesia. Maka dalam langkah ini, perluasan kiprah Muhammadiyah di berbagai lingkup harus semakin ditegaskan.
“Maka dengan adanya wakil rektor yang membidangi riset dan Internasionalisasi, UMSU diharapkan dapat semakin mengambil langkah strategis yang mendukung agenda Internasionalisasi Muhammadiyah sebagaimana amanat Muktamar,” ucap Agus.
Tegaskan Peran Kepemimpinan Muhammadiyah
Melanjutkan pemaparannya, Agus turut memberikan pesan khusus mengenai aspek kepemimpinan. Ia mengingatkan bahwa jabatan bukan sekadar kehormatan, melainkan amanah yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
“Diberi tugas kepemimpinan adalah fasilitas dan kehormatan, tetapi sering kali orang lupa bahwa itu adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban,” kata Agus.
Pesan menohoknya tersebut kemudian ia beberkan lebih jelas dengan menceritakan kisah pendahulu Islam yang justru merasa berat ketika menerima amanah kepemimpinan. Karena itu, Ia kemudian menyebut bahwa seorang pemimpin tidak boleh sibuk mengeluhkan berbagai keterbatasan, tetapi harus terus fokus menyelesaikan tanggung jawab yang diemban.
“Tidak boleh mengeluh. Tugas harus terselesaikan karena kita ditugaskan untuk menyelesaikan amanah, bukan menceritakan kekurangan,” tegasnya.
Ia juga turut mengingatkan bahwa jabatan kepemimpinan hanyalah bersifat sementara. Bagi Agus, justru ketika seseorang menerima amanah pemimpin, maka yang harus abadi adalah dedikasinya, pengabdiannya, dan amal salehnya yang kelak akan menjadi warisan penting yang dapat diteruskan sehingga tercipta peradaban yang berkelanjutan dan penuh kemajuan.
Pada bagian akhir sambutannya, Agus mengingatkan pentingnya kesiapan seluruh elemen UMSU dalam menyongsong Muktamar Muhammadiyah yang akan digelar di Sumatera Utara. Ia berharap pelaksanaan Muktamar tidak hanya sukses secara penyelenggaraan, tetapi juga melahirkan output, produk dan amanat kebijakan yang berkualitas dan menjadi teladan untuk semua.
“Kita ingin Muktamar menjadi teladan dalam pelaksanaannya, teladan dalam persidangannya, teladan dalam kualitas produk yang dihasilkan, sekaligus melahirkan pimpinan yang berkualitas,” ujarnya.
Agus menyampaikan bahwa pembukaan Muktamar yang telah ditetapkan di UMSU harus terus dikawal oleh seluruh pihak yang terlibat. Mewakili Pimpinan Pusat Muhammadiyah, ia berpesan kepada seluruh masyarakat dan civitas akademika UMSU untuk bersama-sama dan saling merangkul diri untuk mempersiapkan dengan seriys terselenggaranya Muktamar Muhammadiyah ke-49 yang digelar di Medan, Sumatera Utara.
“Mohon dilanjutkan betul oleh Pak Rektor, Pimpinan Wilayah, dan semua pihak yang terlibat. Kita kawal agar tidak meleset. Harus dipersiapkan secara detail. Maka, Pimpinan Pusat mengingatkan agar hal ini dapat digarap semakin serius dan sebaik-baiknya” pungkas Agus. (muhammadiyah.or.id)



