Bersama Mengawal Dunia Maya, Bersama Mencerdaskan Bangsa
Oleh : Jufri
Hari Selasa sore saya kembali berjumpa dengan Rektor Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Prof. Dr. Akrim, S.Pd.I., M.Pd., yang juga diundang Direktur Reserse Siber Polda Sumatera Utara, Kombes (Pol) Dr. Bayu Wicaksono, S.I.K., M.Si., dalam acara memasuki dan meninjau kantor baru Direktorat Reserse Siber Polda Sumatera Utara.
Saya Hadir bersama Ketua PDM Serdang Bedagai , Wakil Direktur Reserse Siber dan sejumlah pejabat di lingkungan Reserse Siber Polda Sumatera Utara. Dalam kesempatan tersebut juga dilaksanakan santunan kepada anak-anak yatim dari Rumah Sosial Muhammadiyah Kota Medan yang dipimpin Buya Rafdinal.
Pertemuan berlangsung santai dan ringan. Kami diajak melihat berbagai ruangan dan fasilitas yang ada, termasuk ruang patroli siber serta perangkat yang mendukung pemantauan dunia maya.
Melihat fasilitas tersebut, saya membayangkan betapa luasnya tantangan di ruang digital. Dunia maya bukan lagi ruang yang terpisah dari kehidupan nyata. Di sana ada pendidikan, ekonomi, komunikasi, interaksi sosial, tetapi juga berbagai bentuk kejahatan.
Karena itu, fasilitas yang semakin baik diharapkan dapat semakin mengoptimalkan pelayanan dan tugas kepolisian dalam mencegah serta menangani kejahatan digital, termasuk perdagangan manusia yang memanfaatkan dunia maya, judi online dan berbagai kejahatan lainnya.
Namun, teknologi tetaplah alat. Perangkat secanggih apa pun membutuhkan manusia yang profesional, berintegritas dan bertanggung jawab.
Mas Bayu juga menjelaskan bahwa beliau telah memberikan warning kepada anggota kepolisian agar bekerja secara profesional dan menghindari keterlibatan dalam kejahatan siber.
Saya kira pesan ini penting. Menjaga ruang digital bukan hanya soal kecanggihan teknologi, tetapi juga soal integritas manusia yang menggunakannya.
Beliau juga berharap masyarakat, termasuk UMSU, ikut berperan dalam menyukseskan tugas kepolisian. Sebab keamanan ruang digital bukan hanya tanggung jawab aparat, tetapi membutuhkan partisipasi semua pihak.
Polisi, Kampus dan Masyarakat
Rektor UMSU menyampaikan terima kasih kepada Polda Sumatera Utara atas kerja sama yang selama ini terjalin, termasuk dukungan dalam menyukseskan kunjungan Kapolri pada Sabtu lalu.
Prof. Akrim juga menyampaikan bahwa tahun 2027 Sumatera Utara akan menjadi tuan rumah Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah di kawasan Medan dan Deli Serdang. Prof. Akrim sendiri merupakan Ketua Panitia Muktamar ke-49 Muhammadiyah dan Aisyiyah.
Karena itu, beliau berharap kolaborasi dan dukungan Polda Sumatera Utara terus berlanjut dalam menyukseskan agenda besar tersebut. Setelah sebelumnya Kepala Kepolisian Republik Indonesia Hadir di PKKBM UMSU dan berkunjung ke venue Muktamar di desa Sientis Deli Serdang.
UMSU siap bekerja sama dalam mengikuti perkembangan dunia digital. Sebaliknya, Direktur Reserse Siber mengapresiasi peran UMSU dalam memberikan pelayanan dan advokasi kepada masyarakat.
Di sinilah kita melihat makna kampus berdampak.
Kampus tidak cukup hanya menghasilkan lulusan. Kampus harus hadir melalui pendidikan, penelitian, pengabdian dan kolaborasi untuk menjawab persoalan masyarakat.
Begitu pula kepolisian. Tugasnya bukan hanya penegakan hukum, tetapi juga memberikan perlindungan, pelayanan dan edukasi kepada masyarakat.
Setelah berkeliling melihat berbagai fasilitas, kami kemudian makan bersama di ruangan Direktur Reserse Siber. Suasananya santai, diselingi canda yang renyah, tetapi pembicaraan tetap substantif tentang pendidikan, teknologi, keamanan siber, Muhammadiyah dan kemajuan umat serta bangsa.
Pertemuan yang berlangsung lebih dari dua jam itu terasa begitu mengalir.
Bagi saya, suasana tersebut selaras dengan slogan UMSU: “Cerdas, Unggul, Terpercaya dan Melejit.”
Cerdas membaca perubahan. Unggul dalam memberikan manfaat. Terpercaya melalui integritas. Dan melejit dengan terus membuka ruang kolaborasi.
Kadang-kadang pembicaraan yang serius memang tidak harus dilakukan dengan wajah serius. Yang penting substansinya.
Digitalisasi dan Pendidikan
Direktur Reserse Siber dan Rektor UMSU sepakat bahwa masyarakat harus terus diedukasi menghadapi digitalisasi.
Perkembangan zaman tidak mungkin dihentikan. Yang harus dipersiapkan adalah manusianya.
Masyarakat perlu mampu memilah informasi, menjaga data, memahami keamanan digital dan menggunakan media sosial secara bijak.
Sebab digitalisasi bukan hanya persoalan teknologi, tetapi juga persoalan perilaku.
Teknologi dapat mencerdaskan dan memperluas manfaat, tetapi dapat pula menjadi masalah jika digunakan tanpa pengetahuan, etika dan tanggung jawab.
Karena itu, pendidikan menjadi penting.
Rektor UMSU juga membuka kesempatan kepada jajaran Polda Sumatera Utara untuk menjadi dosen tamu atau memberikan kuliah umum di UMSU. Sebaliknya, UMSU siap membuka ruang bagi personel Polri yang ingin melanjutkan pendidikan.
Ini bentuk kolaborasi yang sederhana tetapi bermakna.
Mahasiswa belajar dari pengalaman praktisi. Praktisi juga dapat memperkaya wawasan melalui lingkungan akademik.
Ilmu tidak semestinya berhenti di ruang kelas. Pengalaman juga jangan hanya tersimpan di ruang kerja.
Muktamar dan Kolaborasi
Muktamar ke 49 Muhammadiyah dan Aisyiyah pada 2027 tentu membutuhkan kesiapan yang luas. Bukan hanya tempat, transportasi dan kepanitiaan, tetapi juga informasi, komunikasi dan keamanan digital.
Apalagi Prof. Akrim sebagai Rektor UMSU sekaligus Ketua Panitia Muktamar ke-49 Muhammadiyah dan Aisyiyah tentu memiliki tanggung jawab besar dalam menyiapkan berbagai kebutuhan perhelatan tersebut.
Informasi harus cepat dan akurat. Data harus mudah digunakan sekaligus aman. Teknologi harus menjadi sarana untuk memudahkan pelayanan.
Karena itu, tema “Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya” juga relevan dengan kehidupan digital.
Cerdas bukan sekadar mampu menggunakan teknologi, tetapi mampu menggunakannya secara bijak, aman, etis dan bertanggung jawab.
Pada akhirnya, gedung baru bukan tujuan. Teknologi bukan tujuan. Kampus digital juga bukan tujuan akhir.
Semuanya adalah sarana.
Tujuan akhirnya adalah manfaat.
Polisi punya ruang pengabdian. Kampus juga punya ruang pengabdian. Masyarakat membutuhkan keduanya.
Maka yang perlu dibangun bukan sekadar hubungan kelembagaan, tetapi kolaborasi yang menghadirkan manfaat.
Dari pertemuan di kantor baru Siber Polda Sumatera Utara itu saya belajar, kemajuan tidak selalu lahir dari pertemuan yang formal dan serba protokoler. Kadang ia tumbuh dari perbincangan santai, makan bersama, canda yang ringan, tetapi dengan kepedulian yang sama terhadap masyarakat, umat dan bangsa.
Bersama mengawal dunia maya, bersama mencerdaskan bangsa.
Silaturahmi, kolaborasi, sinergi, harmoni.








