Tasyakuran yang Menjadi Ajakan Bergerak
Oleh : Jufri
Sabtu, 11 April 2026 kemarin, saya menghadiri tasyakuran Guru Besar Prof. Hasrat Efendi Samosir . Saya mengikuti hampir semua sambutan yang disampaikan siang itu. Mulai dari Bang Hasrat sebagai tuan rumah, tokoh masyarakat, senior kami Pak Yahdi Khoir Harahap , Rektor UMSU Prof. Agussani, Buya Hasyim Nasution selaku Ketua PWM, Bang Yusuf Warsyim dari Kompolnas, hingga kultum Bang Irwansyah Putra , Sekretaris PWM. Satu per satu berdiri, berbicara, dan menyampaikan penghormatan serta apresiasi kepada Prof. Hasrat.
Semua memuji. Semua mengapresiasi. Itu wajar, bahkan pantas. Gelar guru besar bukan capaian biasa. Ia lahir dari perjalanan panjang, dari kesabaran menekuni ilmu, dari konsistensi menjaga integritas, dan dari komitmen untuk terus memberi manfaat bagi banyak orang.
Namun bagi saya, yang paling membekas bukanlah pujian itu.
Yang paling kuat justru pesan yang berulang-ulang muncul dari hampir semua sambutan: ajakan untuk terus bergerak bersama. Ajakan untuk merawat persaudaraan. Ajakan untuk menjaga persatuan dan kekompakan.
Seolah-olah forum tasyakuran itu berubah menjadi ruang konsolidasi batin. Bahwa kebahagiaan atas capaian seorang sahabat tidak boleh berhenti pada tepuk tangan, tetapi harus berubah menjadi energi kolektif untuk melangkah lebih jauh.
Saya merasakan betul suasana itu. Hangat, akrab, tetapi sekaligus penuh kesadaran bahwa kita sedang berdiri di depan momentum besar.
Sumatera Utara akan menjadi tuan rumah Muktamar Muhammadiyah ke-49.
Kalimat ini berulang-ulang disebut. Bukan sebagai slogan, tetapi sebagai pengingat bahwa pekerjaan besar sedang menunggu di depan. Muktamar bukan sekadar acara seremonial. Ia adalah panggung sejarah, panggung kaderisasi, dan panggung pembuktian bahwa persaudaraan yang selama ini kita rawat benar-benar hidup.
Karena itu, pesan kebersamaan yang disampaikan malam itu terasa sangat relevan. Kita diingatkan bahwa keberhasilan besar tidak pernah lahir dari kerja sendiri. Ia lahir dari kekompakan, dari saling percaya, dari kesediaan menahan ego, dan dari kemauan untuk berjalan dalam satu barisan.
Tasyakuran ini akhirnya terasa lebih dari sekadar syukuran akademik. Ia menjadi pengingat bahwa ilmu harus melahirkan keteladanan, keteladanan harus melahirkan persaudaraan, dan persaudaraan harus melahirkan gerakan.
Semoga suasana hangat siang sabtu itu tidak berhenti sebagai kenangan. Semoga ia menjelma menjadi energi yang terus hidup, hingga Muktamar ke-49 benar-benar menjadi perhelatan yang membanggakan, bukan hanya karena besar acaranya, tetapi karena kuat persaudaraannya.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni







