Alhamdulillah, Ini yang Terbaik: Syukur sebagai Etika Kader dalam Dinamika Persyarikatan
(Tulisan ke-46 dari Beberapa Tulisan Terkait Kaderisasi)
Oleh: Amrizal, S.Si., M.Pd – Wakil Ketua MPKSDI PWM Sumut/Dosen Unimed
Tidak semua amanah datang dengan sorak sorai. Tidak semua hasil musyawarah berujung senyum. Ada kalanya kita maju dengan penuh ikhtiar, namun tidak terpilih. Ada saat kita berharap satu peran, tetapi justru ditempatkan di posisi lain. Di titik-titik seperti itulah, kader Muhammadiyah diuji: apakah tetap lapang, atau justru larut dalam kekecewaan.
Dalam suasana demikian, satu kalimat sederhana sering kali menjadi penanda kedewasaan spiritual dan kematangan berorganisasi: Alhamdulillah, ini yang terbaik.
Kalimat ini bukan bentuk kepasrahan kosong, apalagi dalih untuk berhenti berikhtiar. Ia justru lahir dari keyakinan yang dalam bahwa setiap ketetapan Allah, termasuk melalui mekanisme musyawarah, selalu menyimpan hikmah, meski tidak selalu langsung kita pahami.
Syukur yang Menumbuhkan
Al-Qur’an mengingatkan dengan sangat tegas:
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.’” (QS. Ibrahim [14]: 7)
Ayat ini tidak sekadar berbicara tentang nikmat materi. Ia juga menyinggung nikmat peran, amanah, kepercayaan, bahkan nikmat menerima keputusan dengan lapang dada. Dalam konteks persyarikatan, syukur adalah fondasi etik: menerima hasil musyawarah dengan keikhlasan, lalu tetap bekerja sebaik-baiknya.
Kisah Pelayan Raja: Syukur yang Tidak Pernah Salah Tempat
Ada sebuah kisah klasik yang kerap diceritakan para ulama tentang seorang raja dan pelayannya. Sang pelayan dikenal memiliki satu kebiasaan yang tak pernah berubah. Dalam setiap keadaan, ia selalu mengucap, “Alhamdulillah, ini yang terbaik.”
Suatu hari, raja dan pelayannya berburu. Ketika raja hendak memanah seekor rusa, tangannya justru terluka parah. Melihat itu, sang pelayan dengan tulus berkata, “Alhamdulillah, ini yang terbaik.” Raja murka. Ia merasa diejek di tengah rasa sakit. Tanpa berpikir panjang, pelayan itu diperintahkan untuk dipenjara.
Saat digiring ke penjara, sang pelayan kembali berkata dengan wajah tenang, “Alhamdulillah, ini yang terbaik.”
Beberapa waktu kemudian, raja kembali berburu, kali ini tanpa pelayan setianya. Dalam perjalanan, raja terperosok ke dalam lubang dan ditangkap oleh sekelompok kanibal bersama para pengawalnya. Satu per satu pengawal raja dibunuh dan dimakan. Ketika tiba giliran raja, pemimpin kanibal memperhatikan tubuhnya dan menemukan luka di tangannya. Mereka marah. Raja dianggap tidak sempurna dan tidak layak dimakan. Raja pun dilepaskan dan dibiarkan hidup.
Di tengah perjalanan pulang, raja tersadar. Luka yang dulu ia sesali ternyata menjadi sebab keselamatannya. Ia segera teringat pelayannya. Dengan hati penuh penyesalan, raja membebaskan pelayan itu dan meminta maaf.
Sang pelayan hanya tersenyum dan berkata, “Alhamdulillah, ini yang terbaik.”
Jika ia tidak dipenjara, ia akan ikut berburu dan mungkin menjadi korban kanibal bersama pengawal lainnya.
Kisah ini terasa sangat dekat dengan dinamika kaderisasi dan musyawarah dalam Muhammadiyah. Tidak semua hasil musyawarah sesuai harapan pribadi. Ada yang terpilih menjadi pimpinan, ada yang dipercaya di majelis dan lembaga, ada pula yang belum diberi amanah struktural. Namun semua tetap kader. Semua tetap bagian dari gerakan.
Dalam Muhammadiyah, amanah bukan hanya soal posisi, tetapi kesiapan menjalankan peran. Menjadi ketua adalah amanah. Menjadi anggota adalah amanah. Bahkan tidak diberi jabatan struktural pun tetap Amanah, amanah untuk terus berkhidmat sesuai kemampuan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya baik baginya. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa kebaikan seorang mukmin tidak terletak pada situasinya, tetapi pada sikap batinnya.
Fastabiqul Khairat, Bukan Fastabiqul Jabatan
Dalam persyarikatan, kita diajarkan untuk fastabiqul khairat—berlomba-lomba dalam kebaikan, bukan berlomba dalam jabatan. Maju mencalonkan diri adalah ikhtiar yang sah dan terhormat. Tidak terpilih pun bukan kekalahan iman, melainkan bagian dari pendidikan keikhlasan.
Mengucap “Alhamdulillah, ini yang terbaik” setelah musyawarah adalah tanda bahwa kita menempatkan kepentingan persyarikatan di atas ego pribadi. Dari sikap inilah lahir kader-kader yang dewasa, kokoh, dan tetap produktif di mana pun ditempatkan.
Muhammadiyah tidak dibesarkan oleh kader yang selalu menang, tetapi oleh kader yang selalu siap. Siap memimpin, siap dipimpin, siap ditempatkan, dan siap dilepaskan. Semua dijalani dengan satu keyakinan: Allah tidak pernah salah menempatkan hamba-Nya.
Maka ketika amanah datang, ucapkan dengan tulus: Alhamdulillah, ini yang terbaik.
Dan ketika amanah belum tiba, ucapkan dengan keyakinan yang sama: Alhamdulillah, ini yang terbaik. Dari syukur yang demikianlah, lahir ketenangan pribadi, kematangan kader, dan keberlanjutan gerakan.
Wallāhu a‘lam bish-ṣhawāb.





