Muhammadiyah, UMSU, dan Polisi: Bersama Membangun Peradaban
Oleh: Jufri – Pegiat Sosial Politik dan Dakwah Kebangsaan
Rabu pagi, di tengah suasana khidmat Wisuda Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Kapolda Sumatera Utara, Irjen. Pol. Sonny Irawan, S.I.K., M.H., hadir menyampaikan ceramah sekaligus orasi kebangsaan di hadapan para wisudawan dan hadirin.
Kehadiran orang nomor satu di jajaran Polda Sumut tersebut bukan sekadar menjadi bagian dari rangkaian acara wisuda. Ada pesan kebangsaan yang menarik untuk direnungkan, terutama ketika Kapolda menyampaikan empat program prioritas, yakni menjaga kesatuan dan persatuan dalam kebinekaan, menolak narkoba, memberantas kejahatan jalanan, serta mewujudkan ketertiban berlalu lintas.
Empat program ini terasa begitu dekat dengan kehidupan masyarakat. Persatuan dibutuhkan agar kita tidak mudah terpecah belah. Narkoba harus dilawan karena mengancam masa depan generasi muda. Kejahatan jalanan perlu diberantas agar masyarakat merasa aman. Sementara ketertiban berlalu lintas dibutuhkan agar perjalanan sehari-hari tidak berakhir dengan kecelakaan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Ini bukan sekadar persoalan kepolisian, melainkan persoalan kita bersama. Bahkan, hampir setiap keluarga berpotensi bersentuhan dengan persoalan tersebut, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Dari orasi kebangsaan itu, saya melihat ada ruang refleksi yang lebih luas tentang hubungan Muhammadiyah, UMSU, dan kepolisian dalam membangun kehidupan masyarakat yang lebih baik.
Amar Ma’ruf Nahi Munkar: Titik Temu Muhammadiyah dan Polisi
Muhammadiyah adalah gerakan Islam yang menjadikan dakwah dan tajdid sebagai bagian penting dari perjuangannya. Salah satu nilai mendasar yang terus diperjuangkan adalah amar ma’ruf nahi munkar, yakni mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.
Jika kita cermati, semangat tersebut memiliki titik temu dengan empat program prioritas Kapolda Sumut.
Menjaga persatuan merupakan ikhtiar merawat kebaikan dalam kehidupan berbangsa. Menolak narkoba berarti mencegah kerusakan yang dapat menghancurkan masa depan manusia. Memberantas kejahatan jalanan merupakan upaya melindungi masyarakat dari tindakan yang mengancam keselamatan. Demikian pula mewujudkan ketertiban berlalu lintas merupakan bagian dari membangun budaya disiplin dan menghargai keselamatan sesama.
Tentu, Muhammadiyah dan kepolisian memiliki kedudukan, kewenangan, dan cara kerja yang berbeda. Muhammadiyah bergerak melalui dakwah, pendidikan, pelayanan kesehatan, kegiatan sosial, dan pemberdayaan masyarakat. Sementara itu, kepolisian menjalankan tugas menjaga keamanan dan ketertiban, melindungi, mengayomi, melayani masyarakat, serta menegakkan hukum.
Namun, keduanya dapat bertemu dalam tujuan yang sama, yakni mewujudkan kehidupan masyarakat yang aman, tertib, adil, dan bermartabat.
Jika Muhammadiyah mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran melalui dakwah serta pendidikan, polisi menjalankan kewenangannya untuk mencegah dan menindak pelanggaran hukum sesuai ketentuan yang berlaku.
Keduanya dapat saling menguatkan tanpa harus mencampuradukkan peran masing-masing.
Persoalan sosial tentu tidak cukup diselesaikan melalui penegakan hukum saja. Pendidikan, keteladanan, kesadaran moral, dan kepedulian sosial juga harus berjalan beriringan.
Bukankah mencegah seseorang terjerumus ke dalam kejahatan jauh lebih baik daripada hanya menangani akibatnya setelah kejahatan terjadi?
Kampus Bukan Sekadar Pabrik Sarjana
Menariknya, pesan tersebut disampaikan pada acara wisuda. Momentum ini mengingatkan kita bahwa kampus bukan sekadar tempat seseorang menuntut ilmu, memperoleh gelar, kemudian mencari pekerjaan.
Kampus semestinya menjadi pusat peradaban: tempat ilmu pengetahuan dikembangkan, pemikiran kritis ditumbuhkan, nilai-nilai kemanusiaan dirawat, dan masa depan bangsa dipersiapkan.
Wisuda memang menjadi kebahagiaan bagi mahasiswa dan keluarga. Ada perjuangan panjang, pengorbanan waktu, biaya, serta doa orang tua yang akhirnya terbayar dengan selembar ijazah.
Namun, setelah toga dilepas dan acara wisuda selesai, kehidupan sesungguhnya justru dimulai. Gelar akademik membawa konsekuensi berupa tanggung jawab yang lebih besar terhadap diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan bangsa.
Karena itu, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari banyaknya sarjana yang dihasilkan. Kita juga perlu bertanya: apakah pendidikan telah melahirkan manusia yang berintegritas, peduli terhadap sesama, menghormati hukum, dan bersedia mengambil bagian dalam menyelesaikan persoalan bangsa?
Gelar akademik tentu penting. Namun, gelar bukan jaminan bahwa seseorang memiliki karakter yang baik. Kecerdasan tanpa integritas dapat kehilangan arah, sedangkan ilmu tanpa kepedulian sosial berisiko hanya menjadi kebanggaan pribadi.
Kampus yang hebat bukan hanya kampus yang melahirkan lulusan dengan kemampuan akademik dan profesional yang unggul, tetapi juga kampus yang mampu menghadirkan manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat.
Ketika narkoba mengancam generasi muda, perguruan tinggi dapat berkontribusi melalui pendidikan, penelitian, pembinaan mahasiswa, dan kerja sama dengan berbagai pihak. Ketika kejahatan jalanan menjadi persoalan, kampus dapat mengambil bagian melalui kajian sosial, pendidikan hukum, dan pemberdayaan generasi muda.
Begitu pula dalam menjaga persatuan. Kampus harus menjadi ruang perjumpaan berbagai latar belakang, tempat perbedaan pandangan tidak berubah menjadi permusuhan.
Sebab, peradaban tidak dibangun hanya dengan gedung tinggi, teknologi canggih, atau prestasi akademik. Peradaban juga membutuhkan karakter, keadilan, penghormatan terhadap kemanusiaan, dan kesediaan hidup berdampingan secara damai.
UMSU dan Tugas Peradaban Muhammadiyah
Dalam konteks UMSU, pembicaraan tentang kampus sebagai pusat peradaban tidak dapat dilepaskan dari Muhammadiyah sebagai gerakan Islam berkemajuan.
Muhammadiyah tidak hanya berdakwah melalui mimbar dan pengajian. Sejak awal, gerakannya juga diwujudkan melalui pendidikan, pelayanan kesehatan, kegiatan sosial, dan berbagai amal usaha yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Pendidikan menjadi salah satu jalan penting Muhammadiyah dalam membangun kehidupan yang lebih baik. Islam tidak cukup dipahami sebagai ajaran yang hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga harus menghadirkan kepedulian terhadap sesama dan tanggung jawab terhadap kehidupan.
Semangat Islam berkemajuan mendorong umat untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, membangun kemandirian, menegakkan keadilan, dan memberikan solusi terhadap persoalan masyarakat.
Karena itu, kampus Muhammadiyah tidak cukup hanya menjadi tempat mempelajari ilmu pengetahuan dan keislaman secara terpisah. Keduanya perlu dipertemukan sehingga melahirkan manusia yang cerdas sekaligus berakhlak, kritis sekaligus santun, serta profesional tanpa kehilangan kepedulian sosial.
Mahasiswa boleh bercita-cita menjadi pejabat, pengusaha, akademisi, atau profesional. Namun, apa pun profesinya, ia tetap harus memiliki kesadaran bahwa ilmu dan kemampuan yang dimiliki mengandung tanggung jawab sosial.
Inilah salah satu makna pendidikan sebagai bagian dari dakwah pencerahan: bukan sekadar mengubah orang yang tidak tahu menjadi tahu, tetapi juga mendorong orang yang tahu untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat.
Muhammadiyah sebagai gerakan Islam berkemajuan harus terus membuktikan bahwa keislaman, kecerdasan, kemajuan, dan kepedulian sosial dapat berjalan beriringan.
Bagi UMSU, tanggung jawab tersebut menjadi semakin relevan karena Muhammadiyah akan menyelenggarakan Muktamar ke-49 di Sumatera Utara pada November 2027.
Muktamar bukan sekadar agenda organisasi untuk memilih pimpinan dan merumuskan program kerja. Lebih dari itu, Muktamar merupakan momentum konsolidasi gerakan sekaligus kesempatan menunjukkan kontribusi Muhammadiyah bagi bangsa dan kemanusiaan.
Kehadiran Muktamar tentu akan membawa perhatian nasional ke Sumatera Utara. Persiapan penyelenggaraannya membutuhkan kerja sama banyak pihak, mulai dari unsur persyarikatan, perguruan tinggi, pemerintah, kepolisian, hingga masyarakat.
Namun, kesuksesan Muktamar tidak cukup diukur dari kelancaran acara, besarnya jumlah peserta, atau kemeriahan penyelenggaraan. Lebih penting lagi adalah bagaimana momentum tersebut meninggalkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Semangat menjaga persatuan, menolak narkoba, memberantas kejahatan jalanan, dan membangun ketertiban berlalu lintas sejalan dengan ikhtiar menciptakan lingkungan yang aman, sehat, dan berkemajuan.
Di sinilah UMSU dan seluruh unsur Muhammadiyah di Sumatera Utara memiliki kesempatan untuk menunjukkan bahwa gerakan Islam berkemajuan bukan hanya kuat dalam gagasan dan besar dalam amal usaha, tetapi juga hadir sebagai bagian dari solusi atas persoalan bangsa.
Muktamar adalah momentum konsolidasi organisasi, sedangkan tugas peradaban adalah pekerjaan panjang yang harus terus dijalankan, bahkan setelah Muktamar usai.
Polisi Bersama Keluarga, Masyarakat Bersama Polisi
Membangun masyarakat yang baik tentu tidak cukup hanya mengandalkan kampus atau organisasi kemasyarakatan. Keluarga tetap memiliki peran yang sangat mendasar.
Sebelum seorang anak berhadapan dengan polisi, ia terlebih dahulu tumbuh dalam keluarga, bergaul dengan teman-temannya, dan berinteraksi dengan lingkungan sosialnya.
Keluarga merupakan tempat pertama anak belajar tentang kejujuran, disiplin, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap orang lain.
Jika orang tua mengajarkan anak menaati aturan, tetapi dalam kehidupan sehari-hari justru memberi contoh melanggarnya, pendidikan kehilangan keteladanan. Jika anak diminta menjauhi narkoba, tetapi lingkungan sekitarnya membiarkan peredaran narkoba tanpa kepedulian, pesan pencegahan akan kehilangan kekuatannya.
Karena itu, pemberantasan narkoba tidak cukup hanya dengan menangkap pengedar dan menindak pelaku. Kita membutuhkan keluarga yang peduli, lingkungan yang sehat, pendidikan yang kuat, serta masyarakat yang berani melaporkan dugaan kejahatan melalui saluran yang tepat.
Begitu pula dengan kejahatan jalanan dan ketertiban berlalu lintas. Penegakan hukum tetap diperlukan, tetapi pendidikan, keteladanan, dan kesadaran masyarakat harus terus dibangun.
Di sisi lain, polisi membutuhkan kepercayaan dan dukungan masyarakat. Hubungan keduanya tidak seharusnya hanya terjalin ketika terjadi kejahatan atau ketika masyarakat membutuhkan pertolongan.
Kepercayaan perlu dibangun setiap hari melalui komunikasi, pelayanan yang baik, profesionalisme, keadilan, dan keterbukaan terhadap kritik.
Mendukung kepolisian bukan berarti menutup mata terhadap kekurangan. Kritik yang objektif dan konstruktif justru dapat menjadi bagian dari upaya memperbaiki pelayanan publik.
Masyarakat membutuhkan polisi yang profesional dan humanis. Polisi juga membutuhkan masyarakat yang peduli, taat hukum, dan bersedia bekerja sama menjaga keamanan.
Dengan demikian, semangat polisi bersama masyarakat tidak berhenti sebagai slogan, tetapi menjadi gerakan bersama yang manfaatnya benar-benar dirasakan.
Keluarga mendidik dan memberikan keteladanan. Kampus mengembangkan ilmu pengetahuan dan membentuk karakter. Muhammadiyah menggerakkan dakwah pencerahan. Masyarakat membangun kepedulian sosial. Sementara kepolisian menjalankan tugas menjaga keamanan dan menegakkan hukum.
Semua memiliki peran dan tidak seharusnya saling melempar tanggung jawab.
Bersama Membangun Peradaban
Pada akhirnya, empat program prioritas Kapolda Sumut memberikan pelajaran bahwa menjaga kehidupan masyarakat membutuhkan kerja bersama.
Muhammadiyah dengan dakwah dan gerakan Islam berkemajuannya, UMSU dengan pendidikan dan ilmu pengetahuannya, keluarga dengan keteladanannya, masyarakat dengan kepedulian sosialnya, serta kepolisian dengan kewenangan penegakan hukumnya, memiliki ruang kontribusi masing-masing.
Tidak ada satu pihak pun yang dapat menggantikan seluruh peran pihak lainnya.
Bagi Muhammadiyah, kolaborasi ini merupakan kesempatan memperluas manfaat dakwah. Dakwah tidak hanya dilakukan melalui ceramah, tetapi juga melalui pendidikan yang mencerahkan, pelayanan yang memanusiakan, serta keterlibatan nyata dalam menyelesaikan persoalan masyarakat.
Bagi UMSU, ini menjadi pengingat bahwa kebesaran perguruan tinggi bukan semata-mata terletak pada jumlah mahasiswa, luas bangunan, atau banyaknya lulusan. Kebesaran kampus juga ditentukan oleh seberapa besar manfaat kehadirannya bagi kehidupan masyarakat.
Bagi kepolisian, keberhasilan bukan hanya tentang berapa banyak pelaku kejahatan yang ditangkap, tetapi juga tentang seberapa jauh masyarakat merasa terlindungi dan mampu menjalani kehidupan dengan aman.
Kita berharap empat program prioritas tersebut tidak berhenti sebagai tulisan pada layar atau spanduk kegiatan. Program itu perlu diterjemahkan menjadi tindakan nyata yang melibatkan seluruh unsur masyarakat.
Sebab, menjaga keamanan bukan hanya tentang siapa yang menangkap pelaku kejahatan, tetapi juga tentang bagaimana kita bersama-sama mencegah terjadinya kejahatan.
Kampus menjadi pusat peradaban, Muhammadiyah menggerakkan Islam berkemajuan, keluarga membangun karakter, masyarakat menumbuhkan kepedulian, dan polisi menjaga keamanan serta menegakkan hukum.
Semua memiliki peran, semua membutuhkan kerja sama.
Inilah semangat amar ma’ruf nahi munkar yang dapat diwujudkan melalui kolaborasi nyata: mengajak kepada kebaikan, mencegah keburukan, dan membangun kehidupan yang lebih baik sesuai peran serta tanggung jawab masing-masing.
Pada akhirnya, yang kita harapkan bukan sekadar masyarakat yang takut melanggar hukum, melainkan masyarakat yang sadar hukum, menjunjung nilai-nilai kemanusiaan, dan memiliki tanggung jawab terhadap masa depan bangsa.
Dari kampus, lahir manusia terdidik. Dari Muhammadiyah, dakwah pencerahan terus bergerak. Dari keluarga, tumbuh karakter yang kuat. Dari masyarakat, berkembang kepedulian. Dan dari kepolisian yang profesional, keamanan serta ketertiban terus diupayakan.
Silaturahmi, kolaborasi, sinergi, dan harmoni. Dengan semangat itulah Muhammadiyah, UMSU, kepolisian, dan masyarakat bersama-sama membangun peradaban serta menjaga masa depan Indonesia.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni













