Setiap Kemarau Takut Asap, Setiap Hujan Takut Banjir
Oleh: Jufri
Menjelang Subuh, hujan mulai turun. Awalnya hanya rintik-rintik, tetapi setelah salat Subuh, hujan semakin deras dan lebat, diiringi suara gemuruh yang sesekali terdengar cukup kuat.
Ada perasaan senang dan bersyukur. Setidaknya hujan pagi ini diharapkan dapat membantu membersihkan udara yang sejak beberapa waktu belakangan diselimuti kabut asap. Udara di Kota Medan dan sekitarnya belakangan terasa kurang nyaman, bahkan menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan masyarakat.
Namun, di tengah rasa syukur itu, muncul pula perasaan waswas. Ingatan tentang musim hujan dan banjir tahun lalu kembali terbayang. Hujan yang seharusnya membawa kesejukan terkadang justru menghadirkan kecemasan.
Kita tentu berharap hujan ini membawa rahmat, bukan kembali menghadirkan bencana.
Sebenarnya bukan hujannya yang salah. Hujan merupakan bagian dari siklus alam yang sangat dibutuhkan kehidupan. Persoalannya, alam tempat air hujan itu turun semakin kehilangan kemampuan untuk menjaga keseimbangannya.
Hutan yang seharusnya menyerap dan menyimpan air semakin berkurang. Kawasan perbukitan dan pegunungan mengalami perubahan fungsi. Pertambangan, pembalakan, deforestasi, serta pembukaan lahan secara berlebihan telah mengubah banyak bentang alam kita.
Akibatnya, ketika musim kemarau datang, sebagian wilayah menghadapi kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta kabut asap. Ketika musim hujan tiba, ancaman banjir dan tanah longsor kembali menghantui.
Setiap kemarau kita takut asap, setiap hujan kita takut banjir. Seolah-olah kita sedang menghadapi dua persoalan yang berbeda. Padahal, keduanya dapat berkaitan dengan satu persoalan besar, yakni terganggunya keseimbangan ekosistem.
Yang lebih memprihatinkan adalah kebiasaan kita dalam menghadapi persoalan lingkungan.
Ketika kabut asap datang, kita ramai membicarakan kebakaran hutan, kualitas udara, dan kerusakan lingkungan. Ketika banjir melanda, kita sibuk membicarakan drainase, sungai yang menyempit, hutan yang gundul, serta buruknya tata ruang.
Pemerintah menggelar rapat. Para pejabat meninjau lokasi. Bantuan disalurkan. Media memberitakan. Masyarakat menyampaikan keluhan, bahkan kemarahan.
Namun, ketika asap mulai menghilang dan banjir telah surut, perhatian kita pun perlahan ikut surut.
Kita kembali menjalani kehidupan seperti biasa. Seolah-olah persoalan telah selesai, padahal yang hilang baru gejalanya, bukan penyebabnya.
Barangkali inilah salah satu kelemahan kita dalam mengelola lingkungan. Kita lebih terbiasa menangani bencana daripada mencegahnya. Lebih cepat bergerak ketika masalah sudah terjadi daripada bekerja secara konsisten agar masalah yang sama tidak terus berulang.
Padahal, menjaga lingkungan membutuhkan kesadaran dan kebijakan yang berkelanjutan.
Pembangunan ekonomi tentu diperlukan. Pertambangan, perkebunan, industri, dan infrastruktur juga memiliki peran dalam menyediakan lapangan kerja serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun, semuanya harus memiliki batas dan memperhatikan daya dukung lingkungan.
Indonesia, misalnya, memiliki kondisi alam yang cocok untuk perkebunan kelapa sawit. Namun, bukan berarti semua kawasan harus ditanami sawit. Harus ada perhitungan mengenai luas ideal perkebunan, kawasan yang boleh dimanfaatkan, dan wilayah yang wajib dipertahankan sebagai hutan serta kawasan lindung.
Tidak semua bukit harus dibuka. Tidak semua gunung harus dikeruk. Tidak semua kekayaan yang tersimpan di dalam bumi harus segera diambil.
Sebab, keuntungan ekonomi yang diperoleh hari ini bisa menjadi sangat mahal apabila harus dibayar dengan kerusakan lingkungan yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
Dalam perspektif pembangunan berkelanjutan, keberhasilan tidak cukup hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi dan besarnya investasi. Kualitas lingkungan dan keselamatan masyarakat juga harus menjadi ukuran yang tidak kalah penting.
Demikian pula dalam manajemen sumber daya manusia berkelanjutan. Kita membutuhkan manusia yang tidak hanya terampil mengelola kekayaan alam, tetapi juga memiliki kesadaran ekologis dan tanggung jawab terhadap masa depan.
Pemerintah memiliki tanggung jawab besar melalui kebijakan, pengawasan, penegakan hukum, dan penataan ruang. Namun, masyarakat juga tidak boleh melepaskan tanggung jawabnya, termasuk dalam kebiasaan membuang sampah, menjaga saluran air, dan merawat lingkungan sekitar.
Jangan sampai kita terus mengulangi kebiasaan yang sama: menyalahkan alam ketika bencana datang, tetapi melupakan perilaku manusia yang ikut memperbesar risikonya.
Berdoa, tetapi Jangan Berhenti Berikhtiar
Ada satu hal lagi yang patut kita renungkan, terutama sebagai masyarakat yang mengaku beragama.
Ketika bencana datang, kita beramai-ramai berdoa memohon pertolongan Allah. Tentu tidak ada yang salah dengan berdoa. Sebagai orang beriman, doa merupakan bagian penting dari kehidupan.
Namun, kita juga perlu mengingat bahwa manusia diberi amanah sebagai khalifah di muka bumi. Manusia dibekali akal, ilmu pengetahuan, dan kemampuan untuk mengelola serta menjaga keseimbangan alam.
Allah telah menyediakan bumi dengan segala kekayaan dan keteraturannya. Ada hutan yang menyerap air, sungai yang mengalirkannya, pepohonan yang menjaga tanah, serta berbagai makhluk hidup yang memiliki peran dalam keseimbangan ekosistem.
Lalu, sebagian dari keteraturan itu justru kita rusak sendiri. Hutan ditebang berlebihan, gunung dan bukit dikeruk, sungai dipersempit, serta kawasan resapan air dialihfungsikan tanpa mempertimbangkan akibatnya.
Anehnya, ketika banjir, longsor, kekeringan, dan kabut asap datang, kita kembali meminta Allah menyelesaikan persoalan yang sebagian justru lahir dari keserakahan dan kelalaian manusia.
Tentu Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Namun, bukankah manusia juga telah diberi akal dan tanggung jawab untuk menjaga ciptaan-Nya?
Doa seharusnya menjadi bentuk kesadaran bahwa kita senantiasa melibatkan Allah dalam kehidupan, termasuk ketika membuat kebijakan, mengelola sumber daya alam, dan mengambil keputusan pembangunan. Bukan hanya mengingat Allah ketika akibat dari perbuatan kita sendiri mulai menghadirkan kesulitan.
Allah mengingatkan dalam Al-Qur’an, Surah Ar-Rum ayat 41, bahwa kerusakan di darat dan di laut terjadi akibat perbuatan tangan manusia. Peringatan ini terasa semakin relevan ketika kita menyaksikan berbagai persoalan ekologis yang terus berulang.
Karena itu, berdoa agar dijauhkan dari bencana tentu baik. Namun, doa tersebut semestinya disertai kesungguhan menghentikan perusakan lingkungan, memperbaiki kebijakan yang keliru, menegakkan hukum, serta mengendalikan keserakahan dalam mengeksploitasi kekayaan alam.
Jangan sampai kita begitu rajin memohon agar Allah menyelamatkan alam, sementara kita sendiri tidak berhenti merusaknya.
Menjadi khalifah bukan berarti manusia bebas menguasai alam sesuka hati. Sebaliknya, amanah itu menuntut tanggung jawab untuk memelihara, memanfaatkan secara bijaksana, dan memastikan bumi tetap layak dihuni oleh generasi berikutnya.
Jangan Menunggu Bencana Berikutnya
Pagi ini hujan masih menjadi harapan sekaligus kecemasan. Kita bersyukur jika hujan membantu membersihkan udara dari kabut asap yang mengganggu aktivitas masyarakat. Kita juga berharap air hujan tidak meluap menjadi banjir yang merugikan banyak orang.
Namun, doa dan harapan harus berjalan bersama ikhtiar nyata.
Pemerintah perlu memastikan kebijakan pembangunan tidak mengorbankan kelestarian lingkungan. Pengawasan terhadap pertambangan, perkebunan, pembalakan, dan alih fungsi lahan harus dilakukan secara serius. Masyarakat pun perlu membangun kebiasaan hidup yang lebih peduli terhadap lingkungan.
Jangan hanya sibuk mencari siapa yang harus disalahkan ketika bencana terjadi. Lebih penting lagi, berani mengevaluasi kebijakan, memperbaiki kesalahan, dan mencegah kerusakan yang sama terulang kembali.
Sebab, hujan dan kemarau akan terus datang silih berganti. Keduanya merupakan bagian dari kehidupan. Yang perlu kita perbaiki adalah cara manusia memperlakukan bumi tempatnya hidup.
Jangan sampai setiap kemarau kita takut asap, setiap hujan kita takut banjir, tetapi setelah keduanya berlalu, kita kembali lupa.
Karena itu , yang seharusnya kita takutkan bukanlah hujan atau kemarau, melainkan ketika manusia kehilangan kepedulian, keserakahan mengalahkan kebijaksanaan, dan doa tidak lagi diikuti tanggung jawab untuk memperbaiki keadaan.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni





