WAJAH UMAT ISLAM HARI INI: ANTARA TANTANGAN ZAMAN DAN TANGGUNG JAWAB KEUMATAN
Oleh : Ustadz Talkisman Tanjung*
إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ ، وَنَسْتَعِيْنُهُ ، وَنَسْتَغْفِرُهُ ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا ، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا ، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (102) [آل عمران]
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا (1) [النساء]
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا (70) يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا (71) [الأحزاب
أما بعد،.
Jamaah Jum’at rahimakumullah,
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa. Takwa bukan hanya terlihat ketika kita berada di masjid. Takwa adalah ketika Allah menjadi pertimbangan dalam setiap keputusan kita. Takwa terlihat ketika kita bekerja. nampak ketika memegang jabatan. Takwa ketika mengelola uang. ketika mendidik anak. ketika menggunakan handphone. Dan ketika tidak ada orang yang melihat.
Sebab kita boleh bersembunyi dari manusia, tetapi tidak mungkin bersembunyi dari Allah.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok. Bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” QS. Al-Hasyr: 18.
Perhatikan kalimat Allah:
وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ
“Hendaklah setiap jiwa melihat apa yang telah dipersiapkannya untuk hari esok.” Hari esok bukan hanya besok pagi. Hari esok adalah hari ketika kita menghadap Allah. Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah Hari ini kita ingin bertanya kepada diri kita: Bagaimana sebenarnya wajah umat Islam hari ini? Pertanyaan ini penting. Sebab umat Islam bukan umat yang kecil. Secara jumlah, umat Islam adalah salah satu komunitas terbesar di dunia. Data Pew Research Center menunjukkan sekitar 2 miliar manusia beragama Islam pada 2020, dan Islam menjadi agama dengan pertumbuhan jumlah terbesar dalam periode 2010–2020.
Tetapi pertanyaannya: Apakah banyak berarti kuat? Belum tentu. Banyak tetapi terpecah. Banyak tetapi mudah diadu domba. Banyak tetapi sebagian masih miskin. Banyak tetapi sebagian masih tertinggal dalam ilmu pengetahuan. Banyak tetapi sibuk bertengkar mengenai perbedaan kecil. Banyak tetapi mudah percaya berita tanpa tabayyun. Banyak tetapi anak-anak muda kita kadang lebih mengenal artis, influencer, dan tokoh media sosial daripada ulama dan sejarah para Nabi.
Inilah yang harus kita renungkan.
Pertama: Umat Islam harus bangkit dari perpecahan
Allah SWT berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Berpegangteguhlah kamu semuanya kepada tali Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.” QS. Ali ‘Imran: 103.
Jamaah rahimakumullah,
Perbedaan itu sunnatullah. Kita boleh berbeda pendapat. Berbeda mazhab. Berbeda organisasi. Berbeda pilihan dalam persoalan ijtihadiyah. Tetapi jangan sampai perbedaan itu membuat kita bermusuhan sebagai sesama Muslim. Jangan karena berbeda qunut lalu putus persaudaraan. Jangan karena berbeda jumlah rakaat tarawih lalu saling menghina. Jangan karena berbeda organisasi lalu merasa paling Islam. Jangan karena berbeda pilihan politik lalu persaudaraan selama puluhan tahun hancur dalam satu malam.
Masya Allah!
Kalau umat Islam habis energinya untuk saling menyerang, lalu siapa yang membangun sekolah? Siapa yang membangun ekonomi umat? Siapa yang mendidik generasi? Siapa yang membantu orang miskin? Siapa yang membela anak yatim? Siapa yang membangun peradaban?
Musuh terbesar umat kadang bukan orang lain. Tetapi ketika kita kehilangan kemampuan untuk bersatu dalam kebaikan.
Kedua: Umat Islam harus kembali mencintai ilmu Allah tidak pertama kali memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ: “Bangunlah kerajaan!” Tidak. Wahyu pertama yang turun adalah:
اقْرَأْ
Bacalah!
Allah berfirman:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.” QS. Al-‘Alaq: 1.
Islam adalah agama ilmu. Karena itu jangan heran jika dalam sejarah, umat Islam pernah melahirkan ilmuwan besar. Al-Khawarizmi dalam matematika. Ibnu Sina dalam kedokteran. Al-Biruni dalam astronomi dan ilmu pengetahuan. Ibnu Khaldun dalam kajian masyarakat dan sejarah. Mereka tidak melihat ilmu dunia sebagai musuh agama. Mereka melihat: Ilmu adalah jalan mengenal kebesaran Allah dan membangun kemaslahatan manusia.
Maka kalau kita ingin umat Islam maju, jangan hanya bertanya: “Berapa banyak masjid kita?” Tetapi juga: Berapa banyak anak kita yang menjadi ilmuwan? Berapa banyak yang menjadi dokter? Guru? Insinyur? Pengusaha? Teknolog? Peneliti? Profesional yang jujur? Karena umat yang kuat membutuhkan iman yang kuat sekaligus ilmu yang kuat.
Ketiga: Tantangan terbesar umat hari ini adalah era digital
Jamaah yang dirahmati Allah,
Dulu orang berdusta kepada sepuluh orang. Sekarang satu orang bisa menyebarkan dusta kepada jutaan orang dalam hitungan menit. Dulu fitnah disampaikan dari mulut ke mulut. Sekarang fitnah cukup: “Share.” Klik. Forward. Selesai. Padahal Allah telah mengingatkan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepadamu seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya.” QS. Al-Hujurat: 6.
Maka orang Islam tidak boleh menjadi manusia yang: “Katanya…” “Katanya begini…” “Katanya begitu…” “Katanya ulama ini…” “Katanya pemerintah itu…” “Katanya ada video…” Padahal belum diperiksa. Belum dibaca. Belum diketahui sumbernya. Langsung disebarkan. Rasulullah ﷺ bersabda:
كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
“Cukuplah seseorang disebut berdusta ketika ia menceritakan semua yang ia dengar.” HR. Muslim.
Maka mulai hari ini: Jangan semua yang kita terima kita sebarkan. Saring sebelum sharing. Tabayyun sebelum menyebarkan. Pikir sebelum mengetik. Karena satu jempol bisa menjadi pahala. Tetapi satu jempol juga bisa menjadi dosa.
Keempat: Palestina adalah cermin kemanusiaan kita
Jamaah Jum’at rahimakumullah,
Hari ini kita juga menyaksikan penderitaan manusia di Palestina. Dan ini bukan hanya persoalan politik. Di balik angka statistik ada manusia. Ada ibu. Ada ayah. Ada anak-anak. Ada keluarga. Ada manusia yang ingin hidup aman.
Laporan-laporan PBB pada September 2026 masih menunjukkan beratnya kondisi kemanusiaan di Gaza dan Tepi Barat. Bahkan sekitar satu juta warga Gaza dilaporkan mengalami gangguan pasokan air, sementara bantuan pangan di Tepi Barat harus dikurangi karena keterbatasan dana. Apa yang harus kita lakukan?
Pertama: Jangan kehilangan rasa kemanusiaan.
Kedua: Doakan mereka.
Ketiga: Bantu melalui jalur kemanusiaan yang terpercaya dan sah.
Keempat: Gunakan suara kita untuk mendukung perdamaian dan keadilan.
Kelima: Jangan membalas kezaliman dengan kebencian kepada seluruh kelompok manusia.
Islam mengajarkan keadilan.
Allah berfirman:
وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ
“Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” QS. Al-Ma’idah: 8.
Inilah akhlak Islam. Kita membela yang tertindas tanpa kehilangan keadilan. Kita menolak kezaliman tanpa menjadi zalim.
Kelima: Kebangkitan umat dimulai dari keluarga
Jamaah rahimakumullah,
Kita sering bertanya: “Mengapa umat Islam lemah?” Mari jangan hanya menunjuk ke luar.
Mari lihat rumah kita. Apakah anak kita mengenal Al-Qur’an? Apakah anak kita mengenal shalat? Apakah mereka menghormati orang tua? Apakah mereka membaca? Apakah mereka punya cita-cita? Apakah mereka punya akhlak? Karena masa depan umat Islam sebenarnya sedang duduk di rumah kita. Anak-anak kita. Mereka adalah masa depan umat. Kalau kita gagal mendidik mereka, jangan salahkan zaman. Kalau anak-anak kita kehilangan arah, jangan hanya menyalahkan media sosial. Sebab rumah adalah sekolah pertama. Ayah adalah guru. Ibu adalah madrasah. Masjid adalah pusat pembinaan. Sekolah adalah tempat penguatan ilmu. Dan masyarakat adalah lingkungan pendidikan.
Keenam: Jangan hanya menjadi umat yang banyak mengeluh
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah,
Ada umat yang kalau melihat keadaan berkata: “Zaman sekarang rusak!” “Anak muda rusak!” “Ekonomi sulit!” “Umat Islam terpuruk!” “Negara begini!” “Dunia begitu!” Tetapi setelah mengeluh… tidak melakukan apa-apa. Padahal Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” QS. Ar-Ra’d: 11.
Maka jangan hanya bertanya: “Kapan umat Islam maju?” Tanyakan: “Apa yang sudah saya lakukan agar umat Islam maju?” Jangan hanya bertanya: “Mengapa masjid sepi?” Tanyakan: “Sudahkah saya mengajak anak saya ke masjid?” Jangan hanya bertanya: “Mengapa generasi muda jauh dari agama?” Tanyakan: “Sudahkah kita memberikan mereka teladan?”
Jamaah Jum’at rahimakumullah
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
“Seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti bangunan yang saling menguatkan.” HR. Bukhari dan Muslim.
Bayangkan sebuah bangunan. Batu bata tidak pernah berkata: “Saya lebih penting daripada batu bata yang lain.” Semuanya saling menguatkan. Begitulah umat. Ulama menguatkan umat dengan ilmu. Orang kaya menguatkan umat dengan hartanya. Guru menguatkan umat dengan pendidikannya. Petani menguatkan umat dengan pangannya. Pedagang menguatkan umat dengan kejujurannya. Pemuda menguatkan umat dengan tenaganya. Ibu menguatkan umat dengan pendidikan anak-anaknya. Pemimpin menguatkan umat dengan keadilannya. Itulah umat yang hidup. Maka ada lima agenda kebangkitan umat
Jamaah sekalian,
Kalau kita ingin melihat umat Islam bangkit, mari mulai dari lima hal:
- Perkuat iman Jangan kehilangan hubungan dengan Allah.
- Perkuat ilmu Jadikan anak-anak kita generasi pembelajar.
- Perkuat persatuan Berbeda boleh, bermusuhan jangan.
- Perkuat ekonomi Umat harus produktif, mandiri dan saling membantu.
- Perkuat akhlak Karena ilmu tanpa akhlak bisa menjadi kesombongan.
Kekayaan tanpa akhlak menjadi kerakusan. Kekuasaan tanpa akhlak menjadi kezaliman. Teknologi tanpa akhlak menjadi kerusakan.
Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah
Jangan kita bercita-cita menjadi umat yang hanya besar jumlahnya. Mari kita menjadi umat yang: besar imannya, luas ilmunya, mulia akhlaknya, kuat ekonominya, kokoh persatuannya, maju pendidikannya, dan besar manfaatnya bagi manusia.
Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”
Maka mari kita ubah pertanyaan. Bukan: “Apa yang saya dapat dari umat?” Tetapi: “Apa yang sudah saya berikan untuk umat?” Bukan: “Apa yang sudah negara berikan kepada saya?” Tetapi: “Apa yang sudah saya berikan kepada bangsa dan negara?” Bukan: “Apa yang sudah masjid berikan kepada saya?” Tetapi: “Apa yang sudah saya lakukan untuk memakmurkan masjid?”
Inilah mentalitas umat yang akan bangkit.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Kita tidak tahu kapan perubahan besar akan terjadi. Tetapi kita tahu: perubahan harus dimulai. Dan jangan menunggu orang lain. Mulailah dari diri kita. Mulai dari rumah kita. Mulai dari masjid kita. Mulai dari kampung kita. Mulai hari ini.
Semoga Allah menjadikan kita bagian dari generasi yang bukan hanya menyaksikan kebangkitan Islam, tetapi ikut bekerja untuk mewujudkannya dan menjadi bagian dari perubahan itu.
أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ ، وَنَسْتَعِيْنُهُ ، وَنَسْتَغْفِرُهُ ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا ، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا ، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (102) [آل عمران]
أَمَّا بَعْدُ : فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا ، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ
أما بعد،.
Sebelum kita meninggalkan masjid ini, mari kita bawa pulang satu kesadaran: Islam tidak membutuhkan umat yang hanya pandai berbicara tentang kejayaan masa lalu. Islam membutuhkan umat yang bekerja untuk masa depan. Mari kita jadikan: rumah sebagai madrasah, masjid sebagai pusat persaudaraan dan peradaban, sekolah sebagai pusat ilmu, pasar sebagai tempat kejujuran, organisasi sebagai tempat beramal, dan media sosial sebagai ladang dakwah. Jangan biarkan anak-anak kita tumbuh tanpa arah. Jangan biarkan masjid hanya penuh ketika Ramadhan. Jangan biarkan tetangga kita kelaparan sementara kita kenyang. Jangan biarkan orang miskin berjalan sendiri. Jangan biarkan umat terpecah karena perbedaan kecil. Dan jangan biarkan hati kita mati melihat penderitaan manusia.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ مُحَمَّدٍ
Mari berdoa
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ
اَللّٰهُمَّ اِنَّا نَسْأَلُكَ سَلَامَةً فِى الدِّيْنِ، وَعَافِيَةً فِى الْجَسَدِ وَزِيَادَةً فِى الْعِلْمِ وَبَرَكَةً فِى الرِّزْقِ وَتَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ وَرَحْمَةً عِنْدَ الْمَوْتِ وَمَغْفِرَةً بَعْدَالْمَوْتِ، اَللّٰهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا فِيْ سَكَرَاتِ الْمَوْتِ، وَنَجَاةً مِنَ النَّارِ وَالْعَفْوَ عِنْدَ الْحِسَابِ
رَبَّنَا وَآتِنَا مَا وَعَدتَّنَا عَلَىٰ رُسُلِكَ وَلَا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ
رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عباد الله،
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فاذكروا الله يذكركم، واشكروه على نعمه يزدكم، ولذكر الله أكبر، والله يعلم ما تصنعون.
أَقِمِ الصَّلَاةَ.
*** Penulis, Ustadz Talkisman Tanjung, Muballigh akar rumput yang saat ini berdomisili di Batahan Mandailing Natal Sumatera Utara, Penulis Tamu Infomu.co



