Lahir Menjadi Cahaya: Belajar dari Kelahiran Nabi Muhammad untuk Menjadi Kader Profetik
(Tulisan ke-71 dari Beberapa Tulisan Bertema Kaderisasi)
Oleh: Amrizal – Wakil Ketua MPKSDI PWM Sumatera Utara / Dosen Universitas Negeri Medan
Pada suatu masa, ketika dunia belum mengenal cahaya yang sempurna, lahirlah seorang anak di tengah padang pasir Arabia. Ia tidak lahir di istana. Tidak pula lahir dengan kekuasaan. Ia lahir sebagai seorang anak yatim. Sebelum sempat melihat wajah ayahnya, Abdullah telah lebih dahulu meninggalkan dunia. Muhammad kecil datang ke dunia tanpa warisan kekuasaan, tanpa kemewahan, dan tanpa jaminan bahwa perjalanan hidupnya akan mudah. Tetapi justru dari seorang anak yatim itulah Allah mengubah sejarah dunia. Muhammad bin Abdullah kemudian tumbuh menjadi manusia yang membawa cahaya bagi peradaban. Seorang manusia yang namanya disebut di berbagai penjuru bumi. Seorang nabi yang ajarannya melampaui batas suku, bangsa, bahasa, dan zaman.
Allah berfirman: “Dan Kami tidak mengutus engkau, wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)
Di sinilah seorang kader Muhammadiyah perlu berhenti sejenak. Merenung. Bukan sekadar mengenang kelahiran Nabi. Tetapi bertanya kepada diri sendiri:
Apa arti kelahiran Muhammad bagi kehidupan kita?
Sebab kelahiran Nabi bukan hanya sebuah peristiwa sejarah. Kelahiran Nabi adalah kelahiran sebuah jalan. Jalan tauhid. Jalan ilmu. Jalan akhlak. Jalan keberanian. Jalan pengorbanan. Jalan dakwah. Dan jalan untuk mengubah dunia. Nabi Muhammad lahir di tengah masyarakat yang tidak baik-baik saja. Perpecahan terjadi di mana-mana. Fanatisme kesukuan begitu kuat. Kekerasan menjadi bagian dari kehidupan. Kaum yang kuat sering menindas yang lemah. Perempuan kehilangan kemuliaannya. Kaum miskin sering tidak mendapatkan tempat. Di tengah keadaan seperti itulah Allah menghadirkan Muhammad. Cahaya tidak selalu lahir di tempat yang terang. Kadang cahaya justru dilahirkan karena dunia terlalu gelap. Barangkali ini pelajaran pertama bagi seorang kader.
Jangan menunggu keadaan menjadi baik untuk mulai berbuat baik. Jangan menunggu bangsa ini sempurna untuk berdakwah. Jangan menunggu organisasi bebas dari persoalan untuk berkhidmat. Jangan menunggu masyarakat berubah untuk menjadi manusia yang membawa perubahan. Muhammadiyah sendiri lahir dari kegelisahan terhadap keadaan umat. KH Ahmad Dahlan tidak menunggu umat Islam menjadi maju terlebih dahulu. Ia bergerak karena melihat keterbelakangan. Ia mendirikan sekolah karena melihat kebodohan. Ia menghidupkan semangat Al-Ma’un karena melihat kemiskinan dan penderitaan. Ia membangun gerakan karena melihat adanya persoalan. Seorang kader bukan anak dari keadaan. Kader adalah manusia yang hadir untuk mengubah keadaan. Sebagaimana Nabi Muhammad lahir membawa cahaya di tengah kegelapan, kader Muhammadiyah harus hadir membawa harapan di tengah persoalan.
Kelahiran Nabi Mengajarkan Kita untuk Tidak Menyerah pada Keadaan. Muhammad lahir sebagai yatim. Kemudian pada usia yang masih muda, ia kehilangan ibunya. Ia pernah merasakan hidup tanpa ayah dan tanpa ibu. Namun keterbatasan tidak membuatnya kehilangan masa depan. Inilah pesan besar bagi kader muda. Jangan terlalu sering menjadikan keadaan sebagai alasan. Tidak semua orang lahir dalam keluarga yang sempurna. Tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama. Tidak semua kader memiliki fasilitas yang sama. Tidak semua orang memulai perjuangan dari tempat yang sama. Tetapi sejarah Nabi mengajarkan bahwa tempat kita memulai tidak selalu menentukan tempat kita akan sampai. Yang menentukan adalah bagaimana kita menjalani kehidupan. Seorang kader mungkin datang dari ranting kecil. Mungkin berasal dari kampung yang jauh. Mungkin tidak memiliki nama besar. Mungkin tidak memiliki keluarga yang dikenal. Tetapi jika ia memiliki ilmu, akhlak, keberanian, dan kesungguhan, Allah dapat menjadikannya bagian dari sejarah. Muhammadiyah membutuhkan kader yang tidak sibuk mengeluhkan keadaan. Muhammadiyah membutuhkan kader yang berkata:
“Inilah keadaan yang saya miliki. enga napa yang ada, saya akan berbuat sesuatu.”
Nabi Adalah Uswah, Bukan Sekadar Sejarah
Allah berfirman:
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Inilah dasar seorang kader profetik. Menjadikan Nabi bukan sekadar tokoh yang dikagumi. Tetapi manusia yang diteladani. Kita mudah mencintai Nabi dalam kata-kata. Yang lebih sulit adalah mencintai Nabi dalam perilaku. Mengaku mencintai Nabi, tetapi tidak jujur. Mengaku pengikut Nabi, tetapi tidak amanah. Mengaku membela sunnah Nabi, tetapi mudah menghina orang lain. Mengaku kader dakwah, tetapi tidak memiliki kasih sayang. Padahal ketika Aisyah radhiyallahu ‘anha ditanya tentang akhlak Rasulullah, ia menjawab:
“Akhlaknya adalah Al-Qur’an.” (HR. Muslim)
Artinya, Al-Qur’an bukan hanya dibaca oleh Nabi. Al-Qur’an hidup dalam diri Nabi. Ia menjadi cara berpikirnya. Cara berbicaranya. Cara memperlakukan manusia. Cara menghadapi musuh. Cara menghadapi keluarga. Cara memimpin umat. Di sinilah kader profetik harus lahir. Kader yang membawa Al-Qur’an bukan hanya di tangannya, tetapi dalam akhlaknya.
Menjadi Kader Profetik
Kader profetik bukan kader yang hanya pandai berbicara tentang Nabi. Ia berusaha membawa nilai Nabi ke dalam kehidupan. Ketika menjadi pemimpin, ia belajar dari amanah Rasulullah. Ketika menjadi guru, ia belajar dari cara Nabi mendidik. Ketika berdakwah, ia belajar kelembutan Rasulullah. Ketika menghadapi perbedaan, ia belajar kebijaksanaan Nabi. Ketika menghadapi penderitaan, ia belajar kesabaran Nabi. Ketika menghadapi ketidakadilan, ia belajar keberanian Nabi. Ketika memiliki kekuasaan, ia belajar kerendahan hati Nabi. Itulah kader profetik.
Ia tidak menjadikan agama sebagai alat untuk meninggikan dirinya. Ia menjadikan agama sebagai jalan untuk memuliakan manusia. Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengingatkan bahwa meneladani Nabi harus diwujudkan dalam kehidupan nyata: menghadirkan kebaikan, keluhuran, perdamaian, persatuan, dan rahmat bagi semesta. Keteladanan Nabi, dengan demikian, tidak cukup berhenti pada seremonial, tetapi harus menjadi praksis kehidupan. Inilah Islam Berkemajuan. Bukan Islam yang hanya sibuk berbicara tentang masa lalu, tetapi Islam yang membawa nilai luhur Nabi untuk menjawab persoalan zaman.
Lahir untuk Menjadi Pelaku
Ada satu pelajaran penting dari kelahiran Nabi. Muhammad tidak hadir di dunia hanya untuk menjadi penonton. Ia datang membawa risalah. Ia membawa perubahan. Ia mengubah cara manusia memandang Tuhan, manusia, ilmu, keluarga, masyarakat, dan kehidupan. Karena itu, kader Muhammadiyah tidak boleh tumbuh menjadi penonton. Terlalu banyak orang pandai mengkritik. Terlalu banyak orang pandai menyalahkan. Terlalu banyak orang pandai berbicara. Tetapi sedikit yang bersedia bekerja. Kader Muhammadiyah harus menjadi fa’il, pelaku perubahan. Bukan hanya melihat persoalan, tetapi mencari jalan keluar. Bukan hanya mengeluhkan kebodohan, tetapi membangun pendidikan. Bukan hanya berbicara tentang kemiskinan, tetapi menghadirkan pemberdayaan. Bukan hanya mengkritik kerusakan moral, tetapi menjadi teladan. Muhammadiyah lahir dari tradisi seperti itu: memahami Al-Qur’an dan Sunnah, lalu mengubah pemahaman itu menjadi gerakan nyata untuk menjawab persoalan umat dan zaman.
Dari Maulid menuju Kebangkitan Diri
Mungkin inilah makna terdalam dari peringatan kelahiran Nabi.
Setiap kali kita mengenang kelahiran Muhammad, seharusnya ada sesuatu yang lahir kembali dalam diri kita. Lahir kembali cinta kepada ilmu. Lahir kembali semangat berdakwah. Lahir kembali keberanian untuk berbuat baik. Lahir kembali kesediaan untuk berkorban. Lahir kembali kejujuran. Lahir kembali amanah. Lahir kembali kasih sayang. Lahir kembali harapan. Sebab Nabi telah lahir lebih dari empat belas abad yang lalu. Tetapi pertanyaannya, sudahkah nilai-nilai kenabian lahir dalam diri kita? Kita tidak mungkin menjadi Nabi. Kenabian telah berakhir. Tetapi kita dapat menjadi manusia yang membawa nilai kenabian. Kita dapat menjadi jujur di tengah kebohongan. Menjadi amanah di tengah pengkhianatan. Menjadi adil di tengah ketidakadilan. Menjadi teduh di tengah kebencian. Menjadi pemberani di tengah ketakutan. Menjadi cahaya di tengah kegelapan.
Wahai Kader Muhammadiyah
Jika engkau hari ini sedang belajar, belajarlah seperti seorang pencari kebenaran. Jika engkau sedang memimpin, pimpinlah dengan amanah. Jika engkau sedang berdakwah, berdakwahlah dengan kasih sayang. Jika engkau sedang membina kader, didiklah mereka bukan untuk menjadi pengikutmu, tetapi untuk menjadi pelanjut perjuangan. Jika engkau sedang menghadapi masalah, jangan berhenti. Ingatlah, Nabi yang kita teladani bukan hanya menghadapi keberhasilan. Beliau menghadapi penolakan, penghinaan, pemboikotan, ancaman, bahkan kehilangan orang-orang yang dicintainya. Tetapi beliau tidak berhenti.
Seorang kader profetik mungkin lelah, tetapi tidak kehilangan jalan. Mungkin terluka, tetapi tidak kehilangan kasih sayang. Mungkin menghadapi penolakan, tetapi tidak kehilangan keberanian. Mungkin tidak dihargai, tetapi tidak berhenti berbuat baik. Maka, setiap kali kita mengenang kelahiran Nabi Muhammad, jangan hanya berkata:
“Nabi telah lahir.” Tanyakan pula kepada diri kita: “Sudahkah nilai Nabi lahir dalam diriku?”
Sudahkah lahir kejujuran? Sudahkah lahir amanah? Sudahkah lahir keberanian? Sudahkah lahir kasih sayang? Sudahkah lahir semangat untuk membela yang lemah? Sudahkah lahir kesediaan untuk mengabdi? Sebab seorang kader Muhammadiyah bukan sekadar lahir untuk menjadi anggota organisasi. Ia harus lahir kembali sebagai manusia profetik.
Manusia yang membawa iman ke dalam tindakan. Ilmu ke dalam peradaban. Akhlak ke dalam kepemimpinan. Dan dakwah ke dalam kehidupan. Muhammad telah lahir membawa cahaya. Kini, tugas kita bukan sekadar merayakan cahaya itu. Tugas kita adalah memastikan sebagian dari cahaya itu menyala dalam diri kita. Dan dari diri seorang kader, cahaya itu diteruskan kepada kader yang lain. Dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dari satu ranting ke ranting yang lain. Dari satu kampung menuju peradaban. Sampai akhirnya dunia mengetahui bahwa masih ada manusia-manusia yang berjalan mengikuti jejak Muhammad. Bukan dengan mengaku paling mencintainya. Tetapi dengan berusaha menyerupai akhlaknya. Itulah kader profetik. Itulah kader Muhammadiyah. Dan mungkin, itulah makna terindah dari kelahiran Nabi: bukan sekadar Muhammad yang lahir dalam sejarah, tetapi nilai-nilai Muhammad yang terus lahir dalam jiwa setiap generasi.
Wallahu a’lam bish shawab



