Green Leadership Muhammadiyah Berkemajuan dalam Tema Besar “Cerdas Bangsa Semesta Bercahaya”
Oleh : Jufri
Di tengah dunia yang menghadapi berbagai krisis; kerusakan lingkungan, polarisasi sosial, kemiskinan, hingga kegersangan moral, tema besar Muktamar Muhammadiyah “Cerdas Bangsa Semesta Bercahaya” bukan sekadar slogan seremonial. Tema ini adalah arah gerakan, bahkan peta jalan peradaban. Di dalamnya terkandung gagasan besar tentang kepemimpinan masa depan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kesadaran ekologis, spiritual, dan kemanusiaan. Inilah yang dapat disebut sebagai green leadership Muhammadiyah berkemajuan.
Muhammadiyah sejak awal bukan hanya gerakan dakwah dalam arti sempit. Ia adalah gerakan tajdid yang memadukan akal sehat, ilmu pengetahuan, amal sosial, dan nilai-nilai keislaman. Karena itu, ketika dunia berbicara tentang keberlanjutan lingkungan dan masa depan bumi, Muhammadiyah sesungguhnya telah lama meletakkan dasar-dasar etikanya melalui konsep Islam berkemajuan.
Green leadership bukan hanya soal menanam pohon atau mengurangi sampah plastik. Lebih dalam dari itu, green leadership adalah cara berpikir dan cara memimpin yang memandang manusia sebagai penjaga kehidupan. Pemimpin tidak hanya mengejar pertumbuhan organisasi, tetapi juga memastikan keberlanjutan nilai, keberlanjutan alam, dan keberlanjutan generasi.
Dalam konteks Muhammadiyah, green leadership tampak pada keberanian membangun peradaban ilmu tanpa merusak moralitas. Membangun amal usaha tanpa kehilangan ruh keikhlasan. Mengembangkan teknologi tanpa tercerabut dari nilai kemanusiaan. Sebab kecerdasan yang tidak melahirkan cahaya hanya akan melahirkan kesombongan baru.
Tema “Cerdas Bangsa Semesta Bercahaya” memberi pesan bahwa kecerdasan harus menghadirkan terang bagi semua. Bukan hanya untuk kelompok tertentu, bukan hanya untuk elite organisasi, tetapi untuk semesta kehidupan. Kata “semesta” menunjukkan keluasan visi Muhammadiyah. Gerakan ini tidak berpikir sempit dan eksklusif, tetapi memandang kemajuan sebagai milik bersama.
Karena itu green leadership dalam Muhammadiyah berkemajuan menuntut beberapa hal penting. Pertama, kepemimpinan yang berpikir jangka panjang. Pemimpin jangan hanya sibuk pada agenda sesaat atau popularitas sementara, tetapi harus menyiapkan generasi yang kuat secara ilmu, akhlak, dan kepedulian sosial.
Kedua, kepemimpinan yang hemat konflik dan kaya solusi. Organisasi besar akan selalu memiliki dinamika, tetapi energi persyarikatan jangan habis hanya untuk pertarungan internal. Muhammadiyah dibangun oleh semangat amal, bukan kegaduhan.
Ketiga, kepemimpinan yang sederhana namun berdampak. Green leadership tidak identik dengan kemewahan simbolik, tetapi kekuatan memberi manfaat. Dalam tradisi Muhammadiyah, banyak tokoh besar justru hidup sederhana namun melahirkan karya besar.
Keempat, kepemimpinan yang ramah terhadap ilmu dan perubahan. Muhammadiyah adalah gerakan fikiran dan rasional. Karena itu, green leadership harus membuka ruang inovasi, kreativitas, dan pemikiran baru tanpa kehilangan fondasi nilai Islam.
Di era digital hari ini, green leadership juga berarti kemampuan memanfaatkan teknologi untuk pencerahan, bukan sekadar pencitraan. Media sosial seharusnya menjadi ruang mencerdaskan umat, memperkuat optimisme bangsa, dan menyebarkan nilai wasathiyah, bukan arena saling menjatuhkan.
Muhammadiyah berkemajuan membutuhkan pemimpin yang tidak hanya mampu berbicara besar di podium, tetapi juga mampu menghadirkan keteduhan dalam tindakan. Pemimpin yang mampu menjadi teladan dalam kesederhanaan, ketulusan, dan kerja nyata.
Akhirnya, tema “Cerdas Bangsa Semesta Bercahaya” mengingatkan bahwa masa depan bangsa tidak cukup dibangun dengan kecerdasan teknis semata. Bangsa ini membutuhkan cahaya moral, cahaya ilmu, dan cahaya keteladanan. Dan Muhammadiyah, dengan seluruh kekuatan amal usahanya, memiliki tanggung jawab besar untuk terus menyalakan cahaya itu melalui kepemimpinan hijau yang berkemajuan, mencerahkan, dan membebaskan.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni





