Kurban, Kaderisasi, dan Krisis Orientasi Kader Muhammadiyah
(Tulisan ke-56 dari Beberapa Tulisan Bertema Kaderisasi)
Oleh: Amrizal – Wakil Ketua MPKSDI PWM Sumut / Dosen Universitas Negeri Medan
Bulan Zulhijjah selalu datang membawa pesan besar. Ia tidak hanya menghadirkan ibadah haji dan penyembelihan hewan kurban. Ia juga membawa pertanyaan tajam bagi setiap orang yang mengaku beriman. Apa yang sungguh-sungguh siap kita korbankan? Apa yang benar-benar kita cintai? Dan untuk apa hidup ini kita arahkan?
Bagi Muhammadiyah, pertanyaan itu terasa makin mendesak. Sebab gerakan ini lahir, tumbuh, dan besar dari napas pengorbanan. Muhammadiyah tidak dibangun oleh orang-orang yang mencari aman. Ia tidak dibesarkan oleh kader yang takut rugi. Ia tidak diwariskan oleh generasi yang menjadikan organisasi sebagai tangga jabatan. Muhammadiyah berdiri karena ada orang-orang yang rela memberi, bahkan ketika mereka sendiri hidup dalam keterbatasan.
Para pendahulu Muhammadiyah memahami dakwah sebagai jalan hidup. Mereka tidak bertanya lebih dahulu, “Saya dapat apa?” Mereka bertanya, “Apa yang bisa saya berikan?” Mereka tidak menunggu fasilitas untuk bergerak. Mereka tidak menunggu pujian untuk bekerja. Mereka tidak menunggu posisi untuk berbuat. Mereka bergerak karena merasa bertanggung jawab kepada Allah, umat, dan masa depan bangsa.
Di banyak tempat, kita masih mendengar kisah guru Muhammadiyah yang mengajar dengan gaji kecil, tetapi tetap menjaga martabat ilmunya. Kita mendengar kisah aktivis persyarikatan yang menjual harta, mewakafkan tanah, membuka sekolah, membangun masjid, mendirikan panti asuhan, dan merawat umat tanpa banyak bicara tentang pengorbanannya. Mereka mungkin tidak dikenal luas. Nama mereka tidak selalu tercatat dalam buku sejarah. Tetapi jejak mereka nyata. Di atas keikhlasan merekalah Muhammadiyah berdiri tegak.
Hari ini, kita perlu jujur. Nilai pengorbanan itu mulai menipis. Bukan hilang sepenuhnya, tetapi melemah. Kita masih punya banyak kader tulus. Kita masih punya banyak penggerak yang bekerja sunyi. Namun, gejala pergeseran orientasi tidak boleh diabaikan. Ia tampak dalam percakapan, dalam perilaku organisasi, dalam cara sebagian kader memandang kepemimpinan, bahkan dalam cara sebagian Angkatan Muda Muhammadiyah memaknai amanah.
Dulu, menjadi pimpinan berarti siap lebih lelah, lebih banyak memberi, dan lebih sering disalahpahami. Kini, pada sebagian orang, menjadi pimpinan mulai dipandang sebagai status. Kursi organisasi menjadi simbol gengsi. Jabatan menjadi alat memperluas pengaruh pribadi. Rapat menjadi panggung. Foto kegiatan menjadi bukti eksistensi. Amanah tidak lagi selalu dimaknai sebagai beban moral, tetapi sebagai akses sosial.
Ini kritik pahit. Tetapi Muhammadiyah tidak boleh takut pada kritik ke dalam. Justru karena kita mencintai Muhammadiyah, kita harus berani membersihkan cermin sendiri. Tidak ada gerakan yang akan rusak hanya karena dikritik. Gerakan akan rusak ketika ia kehilangan keberanian untuk mengakui penyakitnya.
Yang paling mengkhawatirkan adalah ketika kader mulai takut miskin karena ber-Muhammadiyah. Takut kehilangan peluang karena aktif di persyarikatan. Takut rugi waktu, rugi tenaga, rugi uang, dan rugi relasi bahkan takut perasaan terluka. Maka dakwah berubah menjadi kegiatan sampingan. Kaderisasi berubah menjadi formalitas. Organisasi berubah menjadi ruang transaksi. Semua dihitung dengan ukuran untung rugi dunia.
Padahal Muhammadiyah sejak awal mengajarkan Islam yang mencerahkan. Islam yang membebaskan manusia dari penyembahan kepada materi, jabatan, dan pujian. Jika kader Muhammadiyah sendiri mulai terikat kuat pada orientasi dunia, maka apa bedanya gerakan ini dengan kelompok biasa yang hanya mengejar posisi dan pengaruh?
Bulan Zulhijjah memaksa kita kembali kepada makna kurban. Nabi Ibrahim memberi pelajaran bahwa cinta kepada Allah harus lebih tinggi daripada cinta kepada apa pun. Kurban bukan sekadar menyembelih hewan. Kurban adalah keberanian menyembelih ego. Menyembelih ambisi pribadi. Menyembelih hasrat ingin dipuji. Menyembelih ketakutan miskin. Menyembelih kecintaan berlebihan kepada jabatan.
Di tubuh Muhammadiyah, kurban harus diterjemahkan secara nyata. Kader yang berkurban adalah kader yang tetap bekerja meski tidak disebut namanya. Ia tetap hadir meski tidak diberi tempat di depan. Ia tetap membina meski tidak masuk daftar pimpinan. Ia tetap menolong meski tidak difoto. Ia tetap menjaga persyarikatan meski tidak mendapatkan keuntungan pribadi.
Masalah besar kita hari ini bukan kekurangan orang pintar. Muhammadiyah punya banyak sarjana, akademisi, profesional, pengusaha, politisi, dan tokoh publik. Masalah kita bukan kekurangan forum. Kita punya banyak rapat, musyawarah, seminar, pelatihan, dan pengajian. Masalah kita juga bukan kekurangan struktur. Muhammadiyah memiliki jaringan yang luas dan rapi.
Masalah kita adalah krisis orientasi. Untuk apa semua ilmu, jabatan, forum, dan struktur itu digunakan? Untuk membesarkan Muhammadiyah atau membesarkan nama pribadi? Untuk melayani umat atau mengamankan posisi? Untuk membangun peradaban atau sekadar menjaga lingkaran pengaruh?
Angkatan Muda Muhammadiyah perlu menjadi perhatian serius. AMM adalah rahim masa depan persyarikatan. Jika orientasi AMM sehat, masa depan Muhammadiyah punya harapan. Tetapi jika AMM terjebak dalam politik posisi, konflik geng, dan perebutan pengaruh, maka kita sedang menyiapkan krisis panjang.
Kader muda tidak boleh dididik hanya pandai berbicara, tetapi lemah berbuat. Tidak cukup mahir membuat kegiatan, tetapi miskin kedalaman ideologi. Tidak cukup lihai membangun jaringan, tetapi rapuh dalam keikhlasan. Tidak cukup pandai tampil di media sosial, tetapi malas membina umat di akar rumput. Muhammadiyah tidak membutuhkan kader yang hanya sibuk mencari panggung. Muhammadiyah membutuhkan kader yang siap menjadi tiang.
Kaderisasi harus kembali ke inti. Ia bukan sekadar pelatihan berjenjang. Ia bukan hanya administrasi perkaderan. Ia bukan hanya sertifikat, foto bersama, dan laporan kegiatan. Kaderisasi adalah proses membentuk manusia yang berilmu, beriman, berakhlak, berani, disiplin, dan rela berkorban. Jika kaderisasi gagal membentuk orientasi hidup, maka ia hanya melahirkan aktivis yang ramai, tetapi kosong.
Kita juga perlu mengkritik budaya organisasi yang kadang ikut memelihara orientasi jabatan. Terlalu sering kita menilai kader dari posisi, bukan kontribusi. Terlalu sering kita memberi ruang kepada yang dekat dengan pusat kuasa, bukan yang tekun bekerja. Terlalu sering kita kagum pada retorika, bukan keteladanan. Akibatnya, sebagian kader belajar bahwa yang penting bukan menjadi berguna, tetapi menjadi terlihat.
Ini berbahaya. Sebab gerakan Islam tidak boleh dibangun di atas pencitraan. Muhammadiyah harus tetap menjadi gerakan amal, bukan gerakan tampilan. Harus menjadi gerakan ilmu, bukan gerakan slogan. Harus menjadi gerakan pelayanan, bukan gerakan perebutan tempat.
Namun kritik ini tidak boleh berhenti sebagai keluhan. Zulhijjah mengajarkan bahwa refleksi harus melahirkan tindakan. Jika kita melihat nilai pengorbanan melemah, maka kita harus menyalakannya kembali. Mulai dari diri sendiri. Mulai dari pimpinan. Mulai dari kader muda. Mulai dari ruang kecil tempat kita berkhidmat.
Pimpinan Muhammadiyah perlu memberi teladan hidup sederhana. Jangan sampai kader muda mendengar ceramah tentang pengorbanan, tetapi melihat praktik hidup yang penuh perburuan fasilitas. Jangan sampai mereka diajak ikhlas, tetapi menyaksikan seniornya berebut pengaruh. Keteladanan adalah kurikulum kaderisasi yang paling kuat.
AMM perlu membangun budaya baru. Budaya yang menghormati kerja sunyi. Budaya yang menilai kader dari integritas. Budaya yang tidak memuja jabatan. Budaya yang berani menolak politik transaksional. Budaya yang menjadikan ilmu, akhlak, dan pengabdian sebagai ukuran utama kepemimpinan.
Setiap kader perlu bertanya kepada dirinya sendiri. Apakah saya mencintai Muhammadiyah hanya ketika diberi posisi? Apakah saya tetap mau bekerja ketika nama saya tidak disebut? Apakah saya masih hadir ketika tidak ada keuntungan? Apakah saya sedang berjuang untuk dakwah, atau sedang memakai dakwah untuk kepentingan diri?
Pertanyaan ini mungkin tidak nyaman. Tetapi justru di situlah letak penyucian. Muhammadiyah tidak akan kuat hanya dengan bangunan besar, kampus megah, rumah sakit maju, dan jaringan luas. Semua itu penting. Tetapi tanpa kader yang ikhlas, berani, dan rela berkorban, semua capaian itu bisa kehilangan ruh.
Zulhijjah adalah waktu untuk kembali menata niat. Kurban bukan hanya ibadah tahunan. Ia adalah panggilan untuk memperbaiki arah perjuangan. Bagi kader Muhammadiyah, berkurban berarti berani memberi lebih banyak daripada mengambil. Berani melayani lebih lama daripada menuntut. Berani bekerja tanpa tepuk tangan. Berani miskin secara fasilitas, tetapi kaya dalam kebermanfaatan.
Masa depan Muhammadiyah tidak ditentukan oleh banyaknya orang yang ingin menjadi pimpinan. Masa depan Muhammadiyah ditentukan oleh banyaknya kader yang siap berkorban tanpa harus menjadi pimpinan. Jabatan bisa berganti. Struktur bisa berubah. Tetapi ruh pengabdian harus tetap hidup.
Jika ruh itu padam, Muhammadiyah akan ramai secara organisasi, tetapi sepi secara perjuangan. Jika ruh itu menyala, Muhammadiyah akan tetap menjadi cahaya bagi umat dan bangsa.
Maka pada bulan Zulhijjah ini, mari kita bertanya dengan jujur. Apa yang sudah kita korbankan untuk Muhammadiyah? Bukan apa yang sudah Muhammadiyah berikan kepada kita. Sebab kader sejati tidak datang untuk mengambil cahaya. Ia datang untuk ikut menyalakannya.
Wallahu a’lam bish shawab





