PWMJATENG.COM, SURAKARTA – Konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel berpotensi mempengaruhi stabilitas ekonomi global, termasuk Indonesia. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dinilai dapat memicu kenaikan harga energi dunia.
Guru Besar Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta (FEB UMS), Prof. Muhammad Sholahuddin, mengatakan konflik di kawasan tersebut berkaitan langsung dengan jalur distribusi energi global, khususnya di Selat Hormuz.
“Konflik di Timur Tengah, terutama yang mengancam Selat Hormuz, berdampak besar karena hampir 20 persen pasokan minyak dunia melewati jalur tersebut,” ujar Sholahuddin, Selasa (10 Maret 2026).
Dampak Konflik Timur Tengah terhadap Pasokan Energi
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan minyak paling penting di dunia. Jalur ini berada di kawasan yang memiliki pengaruh geopolitik kuat dari Iran.
Ketika situasi keamanan di wilayah tersebut memanas, distribusi minyak dunia berpotensi terganggu. Kondisi ini dapat memicu lonjakan harga energi secara global.
Risiko bagi Ekonomi Indonesia
Sholahuddin menjelaskan Indonesia masih bergantung pada impor minyak untuk memenuhi kebutuhan energi nasional.
Sekitar separuh kebutuhan minyak domestik masih berasal dari impor. Karena itu, gejolak harga minyak dunia akan langsung mempengaruhi kondisi ekonomi dalam negeri.
“Ketika pasokan dari Timur Tengah terganggu, harga minyak akan naik. Dampaknya tidak hanya pada sektor energi, tetapi juga transportasi dan biaya logistik,” jelasnya.
Kenaikan harga energi juga berpotensi meningkatkan harga berbagai barang kebutuhan lain. Produk seperti pupuk, elektronik, hingga barang impor dapat terdampak karena bergantung pada rantai distribusi global.
Menurutnya, kelompok masyarakat berpenghasilan rendah menjadi pihak yang paling rentan merasakan dampak tersebut.
“Gangguan energi global akan meningkatkan biaya logistik dan premi asuransi risiko perang. Dampaknya merembet ke pasar keuangan dan harga barang yang akhirnya paling terasa bagi masyarakat kelas bawah,” ungkapnya.
Momentum Kemandirian Energi Nasional
Meski demikian, Sholahuddin menilai situasi ini dapat menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat kemandirian ekonomi nasional.
Salah satu langkah penting adalah mengurangi ketergantungan pada impor energi dan memperkuat produksi dalam negeri.
Ia menilai Indonesia memiliki potensi besar mengembangkan energi alternatif, terutama energi surya, karena wilayahnya berada di kawasan tropis dengan paparan sinar matahari melimpah.
“Indonesia seharusnya mulai mengembangkan energi alternatif, seperti pembangkit listrik tenaga surya. Dengan begitu, ketergantungan terhadap energi berbasis minyak dapat berkurang,” jelasnya.
Peran Perguruan Tinggi dalam Inovasi Ekonomi
Sholahuddin juga menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dalam menghadapi dinamika global.
Menurutnya, kampus memiliki banyak hasil riset dan inovasi yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat ekonomi nasional.
“Jika hasil penelitian dihilirisasi melalui kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, media, dan investor, maka hal itu dapat memperkuat kemandirian ekonomi Indonesia,” katanya.
Terkait kekhawatiran munculnya perang dunia ketiga, ia menilai kemungkinan tersebut masih relatif kecil selama konflik tidak meluas ke banyak negara.
“Kemungkinan perang dunia ketiga masih kecil selama konflik tidak meluas. Masyarakat tidak perlu terlalu khawatir secara berlebihan,” ujarnya.
Ia pun mengajak masyarakat tetap tenang dan optimistis menghadapi dinamika global dengan memperkuat ekonomi domestik.
“Yang terpenting adalah memperkuat kemandirian ekonomi, mengurangi ketergantungan impor, serta memanfaatkan inovasi dari perguruan tinggi untuk kemajuan bangsa,” pungkasnya.
Kontributor: Fika
Editor: Al-Afasy
The post Guru Besar UMS Soroti Dampak Konflik Iran–Amerika–Israel terhadap Ekonomi Global dan Indonesia appeared first on Muhammadiyah Jateng.





