Oleh: Drs. H. Wahyudi, M.Pd. (Wakil Ketua PWM Jateng)
Kata riḍha berasal dari bahasa arab berupa kata dasar al-riḍha (الرضا(yang berarti senang, suka, rela. Al-riḍha merupakan lawan dari kata al-sukht (السخط (yang berarti kemarahan, kemurkaan, rasa tidak suka. Riḍha merupakan pelepasan ketidak senangan dari dalam hati, sehingga yang tinggal adalah kebahagiaan dan kesenangan. Żunnun Al-Miṣri mengatakan bahwa “riḍha ialah kegembiraan hati dalam menghadapi ketentuan Allah. Ibnu ujaibah berkata, “riḍha adalah menerima kehancuran dengan wajah tersenyum, atau bahagianya hati ketika ketetapan terjadi, atau tidak memilih-milih apa yang telah diatur dan ditetapkan oleh Allah, atau lapang dada dan tidak mengingkari apa-apa yang datang dari Allah.
Orang yang riḍha terhadap cobaan dan musibah yang menimpanya sebenarnya ia juga merasakan sebagaimana yang dirasakan manusia pada umumnya. Tetapi dia riḍha dengan akal dan imannya, karena dia meyakini besarnya pahala dan balasan atas musibah dan cobaan tersebut. Oleh karena itu dia tidak menolaknya dan tidak gelisah. Abu Ali Ad-Daqqaq berkata, “riḍha bukan berarti tidak merasakan bencana. Akan tetapi, riḍha itu berarti tidak menolak qaḍa dan taqdir.
Rabiah Al-Adawiyyah pernah ditanyai mengenai riḍha, yakni kapan seorang hamba menjadi riḍha. Rabiah menjawab, “bila kegembiraannya di waktu ditimpa bencana sama dengan kegembiraannya di kala mendapat karunia”. Maqam riḍha lebih tinggi dari maqam sabar, karena dalam pengertian sabar masih terkandung pengakuan tentang adanya sesuatu yang menimbulkan penderitaan, sedangkan bagi seseorang yang telah berada pada maqam riḍha, ia tidak lagi membedakan antara yang disebut musibah dan apa yang disebut nikmat, semua itu diterimanya dengan rasa senang
Ridha Jalan Menuju Kebahagiaan
Riḍha merupakan kondisi hati. Jika seorang mukmin mempraktekkannya, maka dia akan mampu menerima semua kejadian yang ada di dunia dan berbagai macam musibah dengan iman yang mantap, jiwa yang tenteram dan hati yang tenang. Bahkan, dia akan sampai pada tingkat yang lebih tinggi dari itu, yaitu merasakan kebahagiaan dan kesenangan terhadap pahitnya takdir. Ridha adalah konsep spiritual Islam yang berarti menerima segala ketentuan Allah dengan hati lapang, senang, dan ikhlas, baik dalam keadaan suka maupun duka. Ridha merupakan sikap mental terpuji yang meyakini bahwa apa pun yang Allah tetapkan adalah yang terbaik bagi hamba-Nya. Menggapai ridha Ilahi adalah puncak pencapaian spiritual di mana seorang hamba tidak lagi sekadar mengejar pahala atau menghindari siksa, melainkan mencari “persetujuan” dan cinta kasih Allah. Ketika Allah ridha, maka kebahagiaan sejati (as-sa’adah) otomatis akan mengikuti sebagai konsekuensi logis.
Rasulullah saw menjelaskan bahwa orang yang riḍha terhadap ketetapan Allah adalah orang yang paling merasakan kebahagiaan dan ketenteraman, serta paling jauh dari kesedihan, kemarahan dan kegelisahan (Abdul Qadir Isa: 2011). Rasulullah saw juga menjelaskan bahwa riḍha adalah salah satu penyebab utama bagi kebahagiaan seorang mukmin di dunia dan akhirat, sebagaimana kemarahan adalah penyebab kesengsaaan di dunia dan akhirat. Rasulullah saw bersabda : “salah satu kebahagiaan anak adam Adam adalah riḍa-Nya atas apa yang telah ditakdirkan Allah kepadanya. Dan salah satu kesengsaraan anak Adam adalah meninggalkan istikharah kepada Allah dan kebenciannya terhadap apa yang telah ditakdirkan Allah kepadanya”. (HR. Tirmiżi).
Rasulullah saw telah mengajari para sahabatnya dan menanamkan pada hati mereka riḍha kepada Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan Muhammad saw sebagai Nabi dan Rasul. Barang siapa menghiasi dirinya dengan riḍha terhadap Allah sebagai Tuhannya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad saw sebagai Nabi dan Rasulnya, maka dia akan merasakan manisnya iman, menikmati lezatnya keyakinan dan memperoleh kebahagiaan yang abadi. Rasulullah bersabda: Artinya: dari Al-Abbas bin Abdul Muṭṭalib, bahwasanya dia mendengar Rasulullah bersabda: akan merasakan manisnya iman orang yang riḍha menjadikan Allah sebagai Rabb dan Islam sebagai agama dan Muhammad sebagai Nabi” Abu Isa berkata: “ (H.R. al-Tirmizi).
Berdasarkan uraian di atas, bahwa riḍha mampu membantu seseorang untuk menemukan makna kebahagiaan sejati yakni dengan penerimaan dirinya terhadap kondisi yang menimpanya sehingga hilang perasaan negatif terhadap dirinya, tidak merasa rendah diri, dan tidak membenci dirinya. Riḍha juga mampu memberikan implikasi ketenangan jiwa atas segala keputusan Allah dan lapang dada serta merasa senang dalam setiap situasi, dan pada akhirnya akan dapat merasakan kebahagiaan dan kesenangan terhadap pahitnya takdir yang menimpanya.
The post Menggapai Ridho Ilahi Meraih Kebahagiaan Sejati appeared first on Muhammadiyah Jateng.




