Bukan Sekadar Bertahan, Namun Berproses di Dalam Pusaran Persyarikatan
( Dialog Kader Respons terhadap Amrizal di Yogyakarta)
Oleh: Jufri
Keterlibatan dalam pusaran Muhammadiyah bukan sekadar soal hadir di forum, tercatat sebagai pengurus, atau aktif dalam kegiatan rutin. Ia lebih menyerupai arus besar yang membawa seseorang untuk terus belajar, diuji, sekaligus dimatangkan.
Bagi saya, ini bukan cerita tentang “bertahan”. Ini adalah cerita tentang berproses.
Saya merasakan pertumbuhan itu sejak usia muda. Dari Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM, yang kini menjadi Ikatan Pelajar Muhammadiyah), saya mulai mengenal disiplin organisasi, belajar berbicara di depan forum, dan memahami arti tanggung jawab.
Berlanjut ke Pemuda Muhammadiyah, saya belajar tentang dinamika kepemimpinan, keberanian bersikap, dan pentingnya menjaga idealisme dalam realitas sosial.
Kemudian di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, saya benar-benar ditempa. Di sana saya belajar berpikir kritis, mengasah nalar akademik, sekaligus menjaga api spiritualitas agar tidak padam oleh perdebatan intelektual. Di IMM, saya memahami bahwa gerakan tidak cukup hanya dengan semangat, tetapi harus ditopang oleh gagasan yang kuat dan argumentasi yang jernih.
Namun jalan saya tidak sepenuhnya lurus dan “organik” di dalam Muhammadiyah. Berbeda dengan Amrizal yang tumbuh lebih organik dan konsisten dalam satu tarikan nafas persyarikatan, saya justru mengalir. Saya melewati dan bersentuhan dengan berbagai organisasi lain, berdialog dengan banyak latar, dan menyerap beragam perspektif.
Pengalaman itu bukan menjauhkan saya dari Muhammadiyah, justru mematangkan pandangan saya terhadapnya. Dari luar dan dari dalam, saya belajar melihat Muhammadiyah bukan hanya sebagai rumah ideologis, tetapi sebagai gerakan yang memiliki kekuatan sekaligus tantangan. Saya belajar mencintai bukan karena fanatisme sempit, tetapi karena kesadaran yang lahir dari perbandingan dan pengalaman.
Di dalam pusaran itu, saya tidak sekadar “ikut organisasi”. Saya dibentuk.
Antara Jabatan dan Pertumbuhan
Terlalu sering keberhasilan diukur dari seberapa cepat seseorang naik posisi. Seolah-olah semakin tinggi jabatan, semakin tinggi pula kontribusi. Padahal, dalam persyarikatan, yang jauh lebih penting adalah pertumbuhan kedalaman:
apakah kita semakin sabar, semakin jernih berpikir, semakin luas empati?
Jabatan bisa selesai dalam satu periode. Tetapi keteladanan akan tinggal lebih lama dari masa bakti.
Kita belajar bahwa memimpin tidak selalu berarti duduk di depan. Kadang ia berarti bekerja dalam diam, menyiapkan konsep, merapikan administrasi, atau sekadar memastikan kegiatan berjalan baik tanpa sorotan.
Forum dan Makna
Rapat-rapat sering padat oleh laporan. Agenda tersusun rapi. Target dipaparkan. Tetapi jarang kita berhenti sejenak untuk bertanya:
“Apakah ini benar-benar membawa manfaat yang berkelanjutan?”
Persyarikatan lahir bukan hanya untuk bergerak, tetapi untuk memberi arah. Amal usaha bukan sekadar institusi, melainkan alat dakwah. Gerakan bukan hanya rutinitas, tetapi panggilan sejarah.
Di sinilah pentingnya ruang refleksi. Bukan untuk mengkritik tanpa solusi, tetapi untuk memastikan bahwa setiap langkah tetap berpijak pada nilai.
Bukan Bertahan, Tetapi Bertumbuh
Bertahan seolah-olah hanya soal tidak keluar.
Berproses berarti terus berubah menjadi lebih matang.
Dalam pusaran persyarikatan, saya belajar bahwa loyalitas sejati bukan diukur dari lamanya berada di dalam, tetapi dari kesediaan untuk terus memperbaiki diri. Kita mungkin berbeda gaya, berbeda jalan, bahkan berbeda pengalaman. Tetapi selama orientasinya adalah manfaat yang berkelanjutan, maka kita sedang berjalan dalam arah yang sama.
Jika ada yang harus terus kita dorong, maka itu adalah orientasi pada manfaat yang berkelanjutan.
Bukan hanya program yang selesai, tetapi dampak yang hidup.
Bukan hanya kegiatan yang ramai, tetapi perubahan yang nyata.
Keterlibatan dalam pusaran persyarikatan pada akhirnya bukan tentang “bertahan” atau “naik”. Ia tentang bertumbuh bersama nilai. Tentang tetap setia pada cita-cita, meski dinamika terus berubah.
Karena dalam pusaran itu, saya ditempa sejak remaja—
tidak selalu lurus, tidak selalu seragam,
tetapi justru kaya oleh perjalanan.
Dan dari perjalanan itulah saya memahami: di Muhammadiyah, saya bukan sekadar bertahan. Saya sedang berproses.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni





