PWMJATENG.COM, Di halaman Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), langkah-langkah teratur para pendekar muda terdengar sebagai harmoni pembentukan jiwa. Pagi itu, mentari menjadi saksi hadirnya tamu istimewa: Mr. Gijs Alber, pelatih Tapak Suci asal Belanda bersabuk biru. Kehadirannya menjadi bukti sahih bahwa Tapak Suci telah melampaui batas geografis; ia tak lagi hanya milik Indonesia, tapi telah menjadi milik dunia.
Dalam Tapak Suci, jenjang sabuk bukanlah sekadar penanda kemahiran teknik, melainkan perjalanan transformasi karakter:
- Sabuk Dasar: Kesucian niat dan kerendahan hati untuk mulai belajar.
- Sabuk Kuning & Biru: Pertumbuhan kompetensi yang diiringi pengabdian.
- Sabuk Hitam: Kematangan fisik, mental, dan spiritual yang paripurna.

Latihan setiap Ahad pagi di bawah bimbingan Pendekar Muhammad Munsyarif adalah denyut nadi kedisiplinan. Di sini, keringat adalah saksi bisu proses pembelajaran mental: bangkit setelah jatuh dan tetap tenang di bawah tekanan.
Visi ini sejalan dengan dorongan Prof. Masrukhi (Rektor Unimus) yang secara konsisten menjadikan Tapak Suci sebagai wahana strategis pembinaan mental juang mahasiswa. Unimus tidak hanya membentuk kecerdasan intelektual, tetapi juga menumbuhkan kecerdasan emosional, spiritual, dan sosial dalam satu kesatuan utuh.

Dari halaman Unimus, mahasiswa dipersiapkan menjadi duta karakter bangsa. Tapak Suci menjadi jendela diplomasi budaya, di mana nilai-nilai luhur Islam dan kemanusiaan disemaikan. Setiap jurus yang diperagakan adalah pesan perdamaian dan ketangguhan yang mampu berdiri sejajar di kancah global tanpa kehilangan jati diri.
Setiap Ahad pagi, latihan ini bukan sekadar rutinitas. Ia adalah ikhtiar yang berulang, nilai yang ditanamkan, dan harapan yang ditumbuhkan. Dari Unimus, Tapak Suci terus melangkah—mengakar kuat di tanah sendiri, dan menjulang tinggi di panggung dunia
Oleh: Muhammad Yusuf | Humas
Editor: Al-Afasy
The post Tapak Suci Mengakar di Tanah Sendiri, Menjulang di Panggung Dunia appeared first on Muhammadiyah Jateng.







