Generasi Z membutuhkan pendekatan yang lebih ringan dan kontekstual dalam memahami fikih Islam. Hal tersebut disampaikan Ayi Yunus Rusyana dalam peluncuran dan bedah buku Fikih Gen Z di Masjid At-Taqwa Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), Kamis (5/11/2026).
Selama dua jam, Ayi Yunus mengulas latar belakang penulisan buku tersebut sekaligus menjelaskan pentingnya menghadirkan pemahaman fikih yang dekat dengan kehidupan sehari-hari generasi muda.
Ia mengungkapkan, buku Fikih Gen Z berangkat dari berbagai persoalan yang dihadapi anak muda, terutama dalam menyikapi ibadah dan pergaulan sosial. Sejumlah isu yang menjadi perhatian antara lain hukum mendengarkan musik, jilbab dan cadar, lukisan serta video yang menampilkan makhluk bernyawa, hingga kepekaan sosial dan kepedulian terhadap sesama.
“Topik yang ditemukan banyak, lalu disaring ke dalam beberapa isu. Yang banyak dan ramai dibicarakan seperti soal mendengarkan musik halal atau haram, jilbab dan cadar, lukisan dan video yang berisi makhluk bernyawa, dan persoalan kepekaan sosial, khususnya berbagi terhadap sesama,” paparnya.
Menurut Ayi Yunus, Gen Z memiliki karakter yang menyukai sesuatu yang praktis, sederhana, dan menarik. Mereka tumbuh bersama media sosial serta terbiasa dengan gaya komunikasi yang cepat dan akrab dengan dunia digital.
Karena itu, pendekatan pembelajaran fikih perlu menyesuaikan karakter generasi tersebut. Jika generasi sebelumnya banyak mempelajari fikih melalui buku-buku tebal dan hafalan, Gen Z membutuhkan metode yang lebih komunikatif.
“Perlu pendekatan dengan storytelling yang ringan disertai contoh-contoh nyata yang juga mereka rasakan dalam kesehariannya,” ujar Sekretaris Dewan Pengawas Lazismu Pusat tersebut.
Dalam bedah buku itu, Ayi Yunus turut mengulas materi bersuci atau thaharah dan filantropi Islam. Menurutnya, kreativitas Gen Z dalam kegiatan sosial menjadi hal menarik, termasuk penggunaan istilah populer, keterlibatan influencer, hingga penyelenggaraan kegiatan yang disertai doorprize dan giveaway.
Ia menilai kreativitas tersebut dapat menjadi sarana untuk menarik perhatian dan menggerakkan kepedulian masyarakat. Gen Z dinilai memiliki kemampuan merespons persoalan kemanusiaan dengan cepat melalui penggalangan dana.
Meski demikian, ia menekankan pentingnya kolaborasi dengan mitra yang terpercaya, khususnya lembaga filantropi, agar kegiatan pengumpulan dana dapat berjalan dengan baik.
“Gen Z harus bisa membedakan infak yang sukarela, sedekah yang tidak hanya uang dan zakat yang memiliki ketentuan,” pungkasnya.
Ayi Yunus juga mengingatkan pentingnya memahami pihak yang mengorganisasi kegiatan sosial, baik individu, sponsor, maupun lembaga. Pemahaman tersebut diperlukan agar masyarakat dapat mengetahui tujuan dan mekanisme penggalangan dana.
Diskusi berlangsung interaktif dengan sejumlah pertanyaan dari peserta. Gavin, siswa SMA Muhammadiyah 1 Semarang, bertanya mengenai praktik wudhu yang hanya dilakukan dengan membasahi anggota tubuh. Sementara itu, Ratih, mahasiswa keperawatan Unimus, mengajukan pertanyaan tentang fikih bagi orang yang sibuk hingga meninggalkan salat.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Ayi Yunus menjelaskan pentingnya salat sebagai jeda di tengah kesibukan kehidupan. Ia mengingatkan bahwa ibadah tidak hanya berkaitan dengan kewajiban, tetapi juga menjadi ruang bagi seseorang untuk menenangkan diri.
“Jika tidak ada jeda dalam hidup, kapan punya waktu untuk mengosongkan hidup dari dunia sejenak. Kita harus bisa melepaskan beban itu, dengan salat secara medis hati dan otak kita tenang. Tetapi bila meninggalkannya tentu ada konsekuensi secara hukum Islam,” bebernya.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Badan Pengurus Lazismu Pusat, Ahmad Imam Mujadid Rais, menyampaikan pentingnya membaca buku bagi Gen Z. Menurutnya, kebiasaan membaca dapat menjadi salah satu cara untuk memperluas pengetahuan dan menumbuhkan pemahaman fikih Islam.
“Memperbanyak pengetahuan tentang fikih Islam merupakan salah satu cara untuk menumbuhkan kesadaran dan pemahaman melalui kebiasaan membaca,” katanya.
Wakil Rektor III Unimus, Eny Wanaryati, juga menyambut baik peluncuran dan bedah buku tersebut. Ia menilai buku Fikih Gen Z dapat menjadi sumber pengetahuan bagi generasi muda.
“Judulnya sangat bagus. Ada banyak khazanah pengetahuan yang perlu ditimba oleh Gen-Z,” ujarnya seraya mengajak peserta untuk membaca buku tersebut lebih lanjut.
Peluncuran dan bedah buku Fikih Gen Z merupakan bagian dari rangkaian Muhammadiyah Zakat Summit (MZS) 2026 di Semarang, Jawa Tengah. Agenda nasional Lazismu tersebut dijadwalkan dibuka pada Jumat (6/11/2026) untuk memperkuat gerakan zakat di Indonesia. (*)
Artikel Lazismu Luncurkan Fikih Gen Z, Ayi Yunus Tekankan Pendekatan Ringan dan Kontekstual pertama kali tampil pada PWMU.CO.





