Workshop Guru Seni Budaya Muhammadiyah se-Sumatera Utara Digelar, Dorong Kompetensi dan Kreativitas
INFOMU.CO, Medan – Lembaga Seni Budaya (LSB) Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui LSB PWM Sumut dan LSB PDM Kota Medan, menggelar Workshop Peningkatan Kompetensi Guru Seni Budaya di Sekolah Muhammadiyah se-Sumatera Utara, Jumat-Ahad, 11-13 September 2026.
Kegiatan yang berlangsung di Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Sumatera Utara ini diikuti sekitar 60 peserta, mulai dari guru TK ABA, SD, SMP, hingga SMA/SMK Muhammadiyah dari berbagai daerah di Sumatera Utara.
Workshop tersebut menjadi ruang penguatan kapasitas guru seni budaya sekaligus mendorong lahirnya kreativitas seni di lingkungan pendidikan Muhammadiyah.
Sejumlah tokoh turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Wakil Ketua LSB Pimpinan Pusat Muhammadiyah Kusen, M.Ag., Ph.D atau yang akrab disapa Kyai Cepu, Wakil Ketua PDM Kota Medan bidang LSB Alban, M.Pd., Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan, OK Zulfani Anhar, S.Pd., seniman legendaris Cak Badrie, Ketua LSB PWM Sumatera Utara Padian Adi, SH., MH, Sekretaris Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Kota Medan Hidayati, S.Sos., M.I.Kom, Ketua LSB PDM Kota Medan Yudha Pratama, serta para guru peserta workshop.
Turut hadir Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan, OK Zulfani Anhar, S.Pd., yang menyampaikan dukungan Pemerintah Kota Medan terhadap kegiatan tersebut.
Menurut OK Zulfani, Pemko Medan melalui Dinas Kebudayaan sangat terbuka untuk berkolaborasi dengan Muhammadiyah dalam berbagai program pemajuan kebudayaan.
“Kami Pemko Medan melalui Dinas Kebudayaan sangat mendukung penuh, apalagi kegiatan ini mengikutsertakan guru-guru seni Muhammadiyah di Sumatera Utara. Kami siap berkolaborasi dengan program-program kebudayaan,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Ketua PDM Kota Medan bidang LSB, Alban, M.Pd., mengatakan kegiatan tersebut merupakan salah satu program penting dalam meningkatkan kompetensi guru seni di lingkungan Muhammadiyah.
Menurutnya, pelaksanaan workshop selama tiga hari diharapkan mampu meningkatkan kompetensi guru seni budaya, baik di Kota Medan maupun Sumatera Utara secara umum.
Dalam sambutan sekaligus membuka acara workshop ini, wakil ketua LSB PP Muhammadiyah Kyai Cepu mengatakan geliat seni budaya di lingkungan Muhammadiyah mulai menunjukkan perkembangan yang positif.
Ia menyebut berdasarkan penelitian mengenai seni pertunjukan di berbagai pimpinan Muhammadiyah di Indonesia, mulai muncul komunitas dan kegiatan seni yang sebelumnya belum berkembang.
Menurutnya, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa Muhammadiyah secara perlahan mulai membangun gerakan kebudayaan yang lebih kuat.
“Pelan-pelan, insyaallah mulai berkebudayaan. Karena kemajuan tanpa kebudayaan adalah bar-bar,” ujar Kyai Cepu.
Ia juga menjelaskan bahwa penguatan seni dan sastra perlu dimulai sejak usia dini. Untuk jenjang TK dan SD, misalnya, sastra dapat dikenalkan melalui dongeng, pantun, syair, dan berbagai bentuk karya sederhana yang dekat dengan dunia anak.

Perkuat Seni Budaya Menjelang Muktamar ke-49
Ketua LSB PWM Sumatera Utara, Padian Adi, menegaskan peningkatan kapasitas guru seni menjadi bagian penting dalam persiapan Sumatera Utara sebagai tuan rumah Muktamar ke-49 Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah.
Menurutnya, keberadaan guru seni yang kompeten sangat dibutuhkan untuk menghadirkan berbagai kreativitas seni dalam rangkaian kegiatan Muktamar.
“Memang kita dalam kaitan persiapan Muktamar, Sumatera Utara menjadi tuan rumah. Ini menjadi pekerjaan besar kita untuk meningkatkan kapasitas guru-guru seni di Sumatera Utara, khususnya Kota Medan,” ujarnya.
Ia mengatakan kehadiran seniman dan pemateri berpengalaman dalam workshop diharapkan dapat menjadi referensi sekaligus motivasi bagi para peserta.
Selain untuk kebutuhan kegiatan Muktamar, Padian berharap penguatan kompetensi guru seni berdampak langsung kepada peserta didik di sekolah Muhammadiyah.
Ia menyebut antusias guru dari berbagai daerah cukup tinggi. Peserta tidak hanya berasal dari Kota Medan, tetapi juga sejumlah daerah di Sumatera Utara.
Selama tiga hari, peserta mendapatkan berbagai materi yang berkaitan dengan seni dan budaya, di antaranya kebudayaan, sastra, seni lukis, fikih kebudayaan, serta penciptaan seni dan lagu.
Ia juga menegaskan bahwa LSB ke depan tidak hanya menjadi lembaga yang bersifat konsumtif, tetapi mampu menjadi penggerak seni dan budaya yang produktif di lingkungan Muhammadiyah. (AH/bess)







