Masjid Perlu Menjadi Ruang yang Menarik bagi Generasi Z
INFOMU.CO | Bandung – Masjid perlu hadir sebagai ruang yang dekat dengan kehidupan generasi muda. Bagi Generasi Z, masjid dapat dikembangkan sebagai tempat beribadah sekaligus ruang berkumpul, belajar, berdiskusi, dan berkarya.
Anggota Lembaga Pengembangan Pesantren Pimpinan Pusat Muhammadiyah Cecep Taufiqurrohman menyampaikan hal tersebut dalam Gerakan Subuh Mengaji pada Jumat (04/09). Menurutnya, upaya mendekatkan generasi muda dengan masjid perlu dimulai dengan menciptakan suasana yang aman, ramah, kreatif, dan mendidik.
“Masjid itu harus menjadi ruang yang aman, ramah, kreatif, dan mendidik bagi anak-anak muda,” kata Cecep.
Menurutnya, masjid dapat menyediakan berbagai kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan generasi muda, seperti mentoring, komunitas, olahraga, literasi, kewirausahaan, dan dakwah digital. Program tersebut dapat menjadi pintu masuk bagi anak muda untuk mengenal dan menjadikan masjid sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Cecep menilai generasi muda juga perlu dilibatkan sebagai pelaku dalam aktivitas masjid. Mereka perlu memperoleh ruang untuk mengelola kegiatan, bukan sekadar hadir sebagai peserta pengajian.
“Anak-anak muda itu jangan hanya dilibatkan sebagai objek kegiatan masjid, tetapi mereka juga harus diaktifkan sebagai pengelola masjid. Diaktifkan sebagai orang-orang yang menghidupkan masjid,” ujarnya.
Masjid sebagai Third Place
Cecep menawarkan gagasan agar masjid menjadi third place bagi generasi Z. Konsep tersebut merujuk pada ruang ketiga setelah rumah dan tempat belajar atau bekerja, yang dapat digunakan untuk berinteraksi, membangun komunitas, dan mengembangkan diri.
“Ketika mereka diberi tanggung jawab untuk mengelola media sosial, membuat podcast, membuat desain, melakukan dokumentasi, melakukan event-event tertentu, ada komunitas olahraga, ada kajian, ada fundraising, kegiatan sosial dan lain-lainnya, maka anak-anak muda akan sangat tertarik ke masjid,” jelasnya.
Menurut Cecep, Muhammadiyah memiliki modal organisasi yang kuat untuk mengembangkan konsep tersebut. Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), dan Nasyiatul Aisyiyah dapat didorong untuk kembali menghidupkan masjid melalui berbagai kegiatan yang sesuai dengan karakter generasi muda.
Ia menilai masjid-masjid Muhammadiyah sebenarnya memiliki potensi besar untuk menjadi ruang pembinaan generasi muda. Potensi tersebut dapat dikembangkan terutama di masjid yang berada di lingkungan amal usaha Muhammadiyah, seperti sekolah, perguruan tinggi, dan rumah sakit.
“Harusnya Muhammadiyah itu tidak susah mencari pengisi masjid,” katanya.
Cecep mengingatkan bahwa ketika generasi muda Muhammadiyah semakin jauh dari masjid, ruang aktivitas tersebut berpotensi diisi oleh kelompok lain. Karena itu, keterlibatan generasi muda perlu menjadi perhatian bersama warga Muhammadiyah.
Menurutnya, masjid perlu dirancang agar aktivitasnya terasa relevan dengan kehidupan anak muda. Masjid dapat menyediakan ruang untuk berdiskusi, membaca, mengerjakan tugas, belajar bersama, membangun komunitas, dan menjalankan kegiatan kreatif.
“Ruang untuk membaca, mengerjakan tugas, belajar bersama, komunitas, kegiatan kreatif. Jadi jangan sampai masjid itu setelah salat langsung ditutup, dikunci,” tuturnya.
Masjid yang Meaningful hingga Digital
Untuk menggambarkan karakter masjid yang sesuai bagi generasi Z, Cecep menggunakan akronim MASJID. M berarti meaningful, A accessible, S social, J joyful, I inspiring, dan D digital.
“Masjid bagi Genz itu M-nya adalah meaningful. A-nya itu adalah accessible, S-nya itu adalah sosial, J-nya itu adalah joyful, I-nya itu inspiring, dan D-nya itu digital,” paparnya.
Meaningful berarti masjid memberikan makna bagi kehidupan anak muda yang sedang mencari kebenaran. Accessible berarti masjid mudah diakses. Social menunjukkan fungsi masjid sebagai tempat membangun komunitas yang nyaman. Joyful berarti menghadirkan kegembiraan yang positif. Inspiring berarti melahirkan inspirasi dan keteladanan. Sementara digital berarti masjid hadir di ruang digital yang menjadi bagian dari kehidupan Generasi Z.
Konsep tersebut menunjukkan bahwa pendekatan kepada generasi muda perlu menyentuh pengalaman mereka secara langsung. Masjid dapat tetap menjadi tempat ibadah sekaligus menyediakan ruang yang memungkinkan anak muda belajar, berinteraksi, mengembangkan kreativitas, dan memberi kontribusi.
Cecep menekankan bahwa generasi muda perlu ditempatkan sebagai subjek pembinaan. Masjid dapat menjadi tempat bagi mereka untuk menemukan ruang berkontribusi sekaligus membangun kedekatan dengan kehidupan keislaman dan Persyarikatan.
“Jadi di masjid itu ibadah juga tempat ilmu pengetahuan. Di situ juga ada komunitas yang aman bagi anak-anak muda. Kemudian di situ mereka terbangun kreativitasnya. Kemudian lahirlah kontribusi dari anak-anak muda,” pungkasnya. (muhammadiyah.or.id)







