Yogyakarta, Padang Panjang, Medan dan Makassar: Jalan Panjang Dakwah Islam Berkemajuan
(Menjelang Muktamar ke-49 Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah)
Oleh : Jufri
Ada kalanya sebuah perjalanan organisasi perlu dibaca kembali, bukan hanya untuk mengenang masa lalu, tetapi untuk memahami dari mana kita berasal dan ke mana kita akan melangkah.
Menjelang Muktamar ke-49 Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, saya kira penting bagi kita menengok kembali jejak dakwah Islam berkemajuan melalui empat kota yang memiliki arti penting dalam perjalanan Muhammadiyah: Yogyakarta, Padang Panjang, Medan dan Makassar.
Empat kota itu berbeda secara geografis, budaya dan karakter masyarakatnya. Namun ada satu benang merah yang menghubungkannya: dakwah, pendidikan, kaderisasi dan perjuangan membangun peradaban.
Dan di antara empat kota tersebut, ada satu nama yang seolah menjadi benang merah sejarah: Buya Hamka.
Hamka bukan sekadar pernah berada di kota-kota tersebut. Ia belajar, berdakwah, mengajar, menulis, berorganisasi dan membangun Muhammadiyah. Perjalanan Hamka menjadi gambaran kecil tentang bagaimana gagasan Islam berkemajuan bergerak dari satu daerah ke daerah lain, dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Yogyakarta: Tempat Membuka Cakrawala
Muhammadiyah lahir di Yogyakarta melalui pemikiran besar KH Ahmad Dahlan. Dari Kauman, Yogyakarta, Ahmad Dahlan tidak hanya mengajarkan Islam sebagai pengetahuan, tetapi berusaha menghadirkan Islam sebagai kekuatan pembebasan dari kebodohan, keterbelakangan dan kemiskinan.
Yogyakarta kemudian menjadi salah satu pusat penting pembaruan pemikiran Islam di Indonesia.
Di kota inilah Hamka muda menemukan cakrawala baru. Pada 1924, ia datang ke Yogyakarta dan berinteraksi dengan tokoh-tokoh pergerakan dan pembaruan Islam. Ia belajar antara lain kepada Ki Bagus Hadikusumo dan bersentuhan dengan gagasan para tokoh pergerakan pada masa itu.
Pertemuan itu memberi pengaruh besar terhadap cara berpikir Hamka. Islam baginya tidak cukup hanya dipahami sebagai ibadah individual, tetapi harus hadir dalam pendidikan, kehidupan sosial dan perjuangan membangun masyarakat.
Dari Yogyakarta, Hamka pulang ke Sumatera bukan sekadar membawa pengalaman, tetapi membawa cara pandang baru tentang bagaimana Islam harus bergerak.
Hari ini, tradisi itu diteruskan melalui perguruan tinggi Muhammadiyah di Yogyakarta, antara lain Universitas Ahmad Dahlan dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Universitas Ahmad Dahlan memiliki akar panjang dalam pendidikan Muhammadiyah sejak 1960 dan kemudian berkembang menjadi universitas. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta juga tumbuh sebagai salah satu pusat pendidikan tinggi Muhammadiyah yang memainkan peran penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan kaderisasi.
Di sinilah kita memahami bahwa kampus Muhammadiyah sesungguhnya adalah perpanjangan tangan dakwah melalui ilmu.
Padang Panjang: Ketika Dakwah Menjadi Pendidikan
Dari Yogyakarta, kita bergerak ke Padang Panjang.
Kota kecil di Sumatera Barat ini memiliki posisi istimewa dalam sejarah Muhammadiyah. Tradisi pembaruan Islam di Minangkabau bertemu dengan gerakan Muhammadiyah dan melahirkan dinamika intelektual yang sangat kuat.
AR Sutan Mansur menjadi salah satu tokoh penting dalam perkembangan Muhammadiyah di Sumatera Barat. Ia juga memiliki hubungan penting dengan perjalanan intelektual Hamka.
Pada 1925, Hamka turut mendirikan Tabligh Muhammadiyah di Padang Panjang. Di kota ini ia aktif dalam tabligh, pendidikan dan kepenulisan. Ia kemudian terlibat dalam pengembangan berbagai kegiatan Muhammadiyah, termasuk pendidikan kader mubalig.
Padang Panjang menunjukkan bahwa dakwah Muhammadiyah bukan hanya soal mimbar.
Dakwah harus melahirkan manusia terdidik.
Karena itu, pendidikan menjadi salah satu jalan utama Muhammadiyah dalam mengubah masyarakat.
Jejak tersebut terus berlanjut hingga hari ini melalui Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat yang memiliki sejarah panjang dari tradisi pendidikan tinggi Muhammadiyah di Sumatera Barat, termasuk akar perguruan Muhammadiyah di Padang Panjang.
Sejarah ini mengajarkan satu hal penting: gagasan akan lebih panjang umur ketika dilembagakan menjadi pendidikan.
Makassar: Dakwah yang Menyeberangi Pulau
Perjalanan Hamka kemudian membawa kita ke Makassar.
Pada awal 1930-an, Hamka mendapat tugas Muhammadiyah berdakwah ke Makassar dan ikut mempersiapkan Kongres Muhammadiyah ke-21 tahun 1932.
Di sana ia tidak hanya berceramah. Ia menulis, berdiskusi, melakukan pengkajian sejarah Islam di Sulawesi Selatan dan mengembangkan pendidikan mubalig. Tabligh School yang dirintisnya menjadi salah satu contoh bagaimana Hamka memandang dakwah secara modern.
Baginya, dakwah harus menghasilkan manusia yang memiliki ilmu, wawasan dan kemampuan menyampaikan Islam kepada masyarakat.
Perjalanan itu kemudian menjadi bagian dari sejarah panjang Muhammadiyah di Sulawesi Selatan.
Universitas Muhammadiyah Makassar yang berdiri pada 1963 menjadi salah satu manifestasi penting dari perjalanan tersebut. Dari lembaga yang pada awalnya memiliki beberapa fakultas, Unismuh berkembang menjadi perguruan tinggi besar dengan berbagai bidang keilmuan.
Tokoh-tokoh perintis seperti Drs. H. Abdul Watif Masri dan para kader Muhammadiyah pada masa awal telah meletakkan fondasi yang kemudian diteruskan oleh generasi berikutnya.
Kini Unismuh Makassar berkembang di bawah kepemimpinan Prof. Dr. H. Ambo Asse, M.A., menjadi salah satu kekuatan pendidikan tinggi Muhammadiyah di kawasan Indonesia Timur.
Artinya, dakwah yang dahulu dibawa oleh para mubalig dengan perjalanan panjang, kini diteruskan melalui kampus, ilmu pengetahuan, riset dan kaderisasi.
Medan: Persimpangan Dakwah, Intelektual dan Kebangsaan
Dari Makassar, perjalanan kita kembali ke Sumatera, menuju Medan.
Medan memiliki tempat penting dalam perjalanan Muhammadiyah dan juga dalam kehidupan intelektual Hamka.
Sejak 1936, Hamka menjadi salah satu tokoh penting dalam perkembangan dakwah dan pemikiran Islam di Medan. Melalui majalah Pedoman Masyarakat, ia menyampaikan gagasan keislaman, kebangsaan, sastra dan kemasyarakatan kepada masyarakat yang lebih luas.
Medan menjadi ruang produktif bagi Hamka untuk menulis dan mengembangkan pemikirannya.
Dari kota inilah lahir banyak karya yang kemudian memperkenalkan Hamka bukan hanya sebagai ulama dan mubalig, tetapi juga sebagai sastrawan dan pemikir.
Pada sisi lain, Muhammadiyah juga terus membangun institusi pendidikan tinggi.
Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara atau UMSU yang berdiri pada 1957 merupakan salah satu bukti bahwa kader-kader Muhammadiyah di Sumatera Utara sejak awal memahami pentingnya pendidikan tinggi sebagai instrumen dakwah.
Di antara tokoh perintisnya terdapat H.M. Bustami Ibrahim, Dr. Darwis Datuk Batu Besar dan sejumlah tokoh Muhammadiyah lainnya yang bekerja dalam keterbatasan tetapi memiliki visi jauh ke depan.
Kini UMSU telah berkembang menjadi salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah penting di Indonesia.
Maka ketika Muktamar ke-49 hadir di Sumatera Utara, sesungguhnya Muhammadiyah sedang kembali ke salah satu tanah yang telah lama menjadi bagian dari perjalanan dakwahnya.
Medan bukan tempat yang baru bagi Muhammadiyah.
Medan adalah salah satu bagian dari sejarah panjang perjuangan itu.
Dari Hamka Kita Belajar Tentang Jalan Dakwah
Jika kita susun perjalanan Hamka, ada garis yang menarik.
Yogyakarta memberinya wawasan.
Padang Panjang memberinya ruang untuk beramal dan membangun pendidikan.
Makassar memberinya pengalaman memperluas dakwah.
Medan memberinya ruang untuk menulis, berpikir dan menyebarkan gagasan.
Empat kota itu menjadi bagian dari perjalanan seorang Hamka yang kemudian dikenal sebagai ulama, mubalig, sastrawan, pemikir, pendidik dan tokoh Muhammadiyah.
Tetapi yang lebih penting dari sekadar perjalanan geografis itu adalah cara Hamka memahami dakwah.
Dakwah baginya bukan hanya berbicara di atas mimbar.
Dakwah adalah pendidikan.
Dakwah adalah tulisan.
Dakwah adalah keteladanan.
Dakwah adalah kaderisasi.
Dakwah adalah keberanian menyampaikan kebenaran.
Dan dakwah adalah usaha menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi kehidupan.
Karena itu, perjalanan Hamka relevan dibaca kembali menjelang Muktamar ke-49 Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah.
Perguruan Tinggi: Estafet Dakwah Masa Kini
Kalau dahulu para pendahulu berdakwah dengan sekolah, surau, tabligh, majalah dan pengajian, maka hari ini Muhammadiyah memiliki jaringan perguruan tinggi yang jauh lebih luas.
Di Yogyakarta ada UAD dan UMY.
Di Sumatera Barat ada Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat dengan akar sejarah pendidikan Muhammadiyah yang kuat.
Di Medan ada UMSU.
Di Makassar ada Unismuh.
Semuanya memperlihatkan bahwa Muhammadiyah tidak hanya mewariskan gagasan, tetapi membangun institusi untuk menjaga keberlanjutan gagasan tersebut.
Di sinilah perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah memiliki tantangan besar.
Dunia berubah.
Teknologi berubah.
Kecerdasan buatan berkembang.
Dunia kerja berubah.
Persoalan lingkungan semakin kompleks.
Ketimpangan sosial belum selesai.
Generasi muda menghadapi tantangan moral dan budaya yang berbeda dengan generasi sebelumnya.
Karena itu, Islam Berkemajuan tidak cukup hanya diwariskan sebagai slogan.
Ia harus diterjemahkan menjadi ilmu, riset, inovasi, teknologi, pendidikan, pengabdian dan keberpihakan kepada masyarakat.
Perguruan tinggi Muhammadiyah harus menjadi tempat bertemunya iman, ilmu dan amal.
Muktamar ke-49: Menyambung Estafet
Karena itu, saya melihat Muktamar ke-49 Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah bukan sekadar agenda organisasi lima tahunan.
Muktamar adalah momentum untuk membaca kembali sejarah.
Dari Yogyakarta kita belajar tentang pembaruan.
Dari Padang Panjang kita belajar tentang pendidikan.
Dari Makassar kita belajar tentang keberanian memperluas dakwah.
Dari Medan kita belajar tentang ketekunan membangun institusi dan memperluas gagasan.
Dan dari Hamka kita belajar bahwa seorang kader tidak boleh berhenti pada satu tempat, satu profesi atau satu bentuk perjuangan.
Ia harus terus bergerak selama masih ada ruang untuk memberikan manfaat.
Muktamar ke-49 yang berlangsung di Sumatera Utara semestinya menjadi kesempatan untuk mempertemukan kembali mata rantai sejarah itu.
Dari Jawa ke Sumatera.
Dari Sumatera ke Sulawesi.
Dari masa lalu menuju masa depan.
Sebab Muhammadiyah tidak didirikan untuk sekadar menjadi organisasi yang besar. Muhammadiyah didirikan untuk menjadi gerakan yang memberi pencerahan.
Tokoh-tokoh masa lalu telah memberikan contoh.
KH Ahmad Dahlan telah meletakkan fondasi.
AR Sutan Mansur telah memperluas gerakan.
Hamka telah membawa dakwah melintasi daerah, melalui ceramah, pendidikan dan tulisan.
Para perintis UMSU, Unismuh dan perguruan tinggi Muhammadiyah lainnya telah membangun institusi dengan segala keterbatasan.
Kini estafet itu berada di tangan kita.
Pertanyaannya bukan lagi seberapa besar sejarah yang sudah kita miliki.
Pertanyaannya adalah:
Seberapa besar sejarah baru yang mampu kita tinggalkan?
Muktamar akan selesai.
Kepemimpinan akan berganti.
Program akan diperbarui.
Generasi akan berganti.
Tetapi jalan dakwah Islam Berkemajuan tidak boleh berhenti.
Yogyakarta, Padang Panjang, Medan dan Makassar bukan sekadar nama kota. Ia adalah jejak perjalanan sebuah gagasan.
Gagasan bahwa Islam harus mencerahkan.
Gagasan bahwa ilmu harus diamalkan.
Gagasan bahwa dakwah harus membangun peradaban.
Dan gagasan bahwa organisasi harus melahirkan generasi yang lebih baik daripada generasi sebelumnya.
Mungkin inilah pesan terpenting yang dapat kita bawa menuju Muktamar ke-49:
Jangan hanya mewarisi sejarah Muhammadiyah. Jadilah bagian dari sejarah Muhammadiyah berikutnya.
Sebab para pendahulu telah berjalan jauh.
Kini, giliran kita meneruskan perjalanan itu.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni



