Muhammadiyah, Kritik dan Kedewasaan Berkemajuan
Oleh : Jufri
Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi Islam terbesar dan tertua di Indonesia, dengan segala kesuksesan dan keberhasilannya, kerap mendapatkan pujian dan pengakuan. Muhammadiyah dikenal sebagai organisasi yang rapi dalam tata kelola, memiliki aset yang besar, serta memiliki administrasi dan kejelasan aset yang relatif baik.
Namun, Muhammadiyah juga tidak luput dari kritik. Ada yang menilai Muhammadiyah kurang gesit karena sudah menjadi organisasi besar. Ada pula yang melihat Muhammadiyah terlalu berkonsentrasi mengembangkan amal usaha sehingga dikhawatirkan mulai menjauh dari semangat awal berdirinya. Kritik lain tentu masih banyak.
Tetapi, baik pujian maupun kritik sesungguhnya adalah bentuk perhatian dan kepedulian masyarakat. Pujian memberi penghargaan atas apa yang telah dilakukan, sementara kritik menjadi pengingat agar Muhammadiyah tidak berhenti berbenah.
Karena itu, yang penting bukan bagaimana membuat Muhammadiyah terbebas dari kritik. Itu hampir mustahil. Yang lebih penting adalah bagaimana warga Muhammadiyah meresponsnya.
Di sinilah kita bisa belajar dari Stoikisme: manusia tidak selalu mampu mengendalikan apa yang dikatakan orang lain, tetapi mampu mengendalikan bagaimana ia meresponsnya.
Jangan langsung bereaksi.
Kritik kadang membuat kita defensif. Apalagi jika yang dikritik adalah sesuatu yang kita kerjakan dengan penuh kecintaan. Kita ingin segera menjawab, membantah, bahkan menyerang balik.
Padahal, tidak semua kritik harus dijawab seketika.
Ada kritik yang perlu dijawab dengan penjelasan, ada yang harus dijawab dengan perbaikan, dan ada pula yang cukup dijawab dengan ketenangan.
Diam sejenak bukan berarti kalah. Menahan diri justru memberi kesempatan kepada akal untuk bekerja lebih baik daripada emosi.
Pisahkan kritik dari harga diri.
Kritik terhadap program bukan berarti serangan terhadap pribadi. Kritik terhadap kebijakan tidak otomatis berarti kebencian kepada orang yang membuatnya.
Muhammadiyah membutuhkan budaya berbeda pendapat tanpa harus bermusuhan. Perbedaan pandangan adalah sesuatu yang wajar dalam organisasi besar. Yang penting, perbedaan itu tidak menghilangkan adab dan persaudaraan.
Setelah tenang, tanyakan: apakah kritik ini benar?
Kalau benar, mengapa harus marah?
Kalau ada kekurangan, mengapa tidak diperbaiki?
Tentu tidak semua kritik benar. Karena itu kritik harus diuji dengan ilmu, tabayun, dan pertimbangan yang jernih. Jangan menerima kritik hanya karena kita sedang tidak menyukai sesuatu, tetapi jangan pula menolaknya hanya karena kritik itu menyakitkan.
Ambillah emasnya, buang pasirnya.
Jika ada kritik tentang tata kelola, evaluasi tata kelola. Jika ada kritik tentang dakwah, lihat kembali efektivitas dakwah. Jika ada yang mengingatkan bahwa Muhammadiyah terlalu sibuk dengan amal usaha, tanyakan dengan jujur: apakah amal usaha kita masih menjadi instrumen dakwah, atau jangan-jangan gerakan mulai sibuk melayani amal usahanya sendiri?
Pertanyaan seperti ini memang tidak selalu nyaman. Tetapi organisasi yang sehat tidak takut bercermin.
Merangkul Kader
Ada hal lain yang juga penting dalam kehidupan Muhammadiyah sebagai organisasi sosial dan dakwah.
Para pengurus bukanlah pekerja atau pegawai yang bisa diperintah dengan pola hubungan kerja. Mereka adalah kader yang bekerja karena cinta, kepedulian dan panggilan untuk berbuat bagi persyarikatan.
Mereka memberikan waktu, tenaga dan pikiran tanpa berharap imbalan sebagaimana seorang pekerja menerima upah.
Karena itu, kader tidak cukup hanya diberi tugas.
Mereka harus dirangkul.
Bahasa kepemimpinan pun semestinya sederhana: tolong, mohon maaf dan terima kasih.
“Tolong” menunjukkan bahwa kita membutuhkan bantuan.
“Maaf” menunjukkan bahwa kita tidak selalu benar.
“Terima kasih” menunjukkan bahwa pengorbanan mereka dihargai.
Kita mungkin bisa memerintah pegawai karena ada hubungan kerja. Tetapi kader bergerak karena kecintaan terhadap perjuangan. Karena itu, pendekatannya harus berbeda.
Jangan sampai orang yang datang dengan semangat membantu justru pulang membawa kekecewaan. Jangan sampai kader yang telah bertahun-tahun berjuang memilih menjauh hanya karena merasa tidak dihargai.
Semakin tinggi posisi seseorang dalam kepemimpinan, semestinya semakin besar pula kemampuannya merangkul.
Pemimpin bukan sekadar orang yang mampu memberi perintah. Pemimpin adalah orang yang mampu membuat orang lain bergerak dengan senang hati karena merasa dihargai, dipercaya dan menjadi bagian penting dari perjuangan.
Muktamar ke-49 dan Kedewasaan Berorganisasi
Menjelang Muktamar ke-49 Muhammadiyah dan Aisyiyah di Sumatera Utara, refleksi seperti ini menjadi penting.
Muktamar bukan sekadar memilih pimpinan. Ia adalah momentum untuk mengevaluasi perjalanan: apa yang sudah berhasil, apa yang belum, apa yang harus diteruskan, dan apa yang perlu diperbaiki.
Kita tidak perlu datang dengan perasaan bahwa kelompok kita paling benar atau gagasan kita paling hebat.
Datanglah dengan pikiran terbuka dan hati lapang.
Sebab setelah Muktamar selesai, Muhammadiyah tetap harus bekerja. Sekolah harus berjalan, rumah sakit harus melayani, dakwah harus bergerak, cabang dan ranting harus hidup, kaderisasi harus dilakukan, dan persoalan umat tidak menunggu hasil Muktamar.
Karena itu, Islam Berkemajuan bukan hanya keberanian untuk bergerak maju, tetapi juga keberanian untuk mengevaluasi diri.
Berani mengakui kekurangan. Mau mendengar. Mau dikoreksi. Mau belajar. Dan bersedia memperbaiki diri.
Muhammadiyah tidak harus menjadi organisasi yang sempurna. Tetapi Muhammadiyah harus menjadi organisasi yang terus belajar.
Pujian kita terima sebagai penghargaan.
Kritik kita terima sebagai bahan evaluasi.
Yang benar kita pertahankan.
Yang kurang kita perbaiki.
Yang tidak lagi relevan kita tinggalkan.
Dan yang dibutuhkan zaman tetapi belum kita miliki, harus berani kita ciptakan.
Pada akhirnya, organisasi besar bukanlah organisasi yang tidak pernah dikritik.
Organisasi besar adalah organisasi yang mampu mengubah pujian menjadi energi untuk bersyukur dan kritik menjadi energi untuk berbenah.
Semoga Muktamar ke-49 Muhammadiyah dan Aisyiyah tidak hanya melahirkan kepemimpinan baru, tetapi juga energi baru, gagasan baru dan semangat baru untuk menjadikan Muhammadiyah semakin berkemajuan, semakin dekat dengan umat, dan semakin bermanfaat bagi bangsa dan kemanusiaan.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni



