Ikan Besar di Kolam Kecil
(Tulisan ke-70, dari Beberapa Tulisan Bertema Kaderisasi)
Oleh : Amrizal – Wakil Ketua MPKSDI PWM Sumatera Utara / Dosen Universitas Negeri Medan
” Lebih baik menjadi ikan besar di kolam kecil daripada menjadi ikan kecil di kolam besar”
Kalimat ini sering saya sampaikan dalam berbagai forum kaderisasi Muhammadiyah. Sebagian
orang mungkin memahaminya sebagai ajakan untuk mencari tempat yang nyaman atau
menghindari persaingan. Padahal maknanya justru sebaliknya. Pesan ini adalah ajakan agar
setiap kader berani mengambil peran, memikul tanggung jawab, dan menghadirkan manfaat
nyata di mana pun ia berada.
Di dalam kehidupan organisasi, sering kita jumpai fenomena yang menarik. Banyak orang ingin
berada di lingkaran besar, dekat dengan tokoh besar, tampil di panggung besar, dan terlibat
dalam kegiatan besar. Namun tidak semua orang siap memikul amanah besar. Tidak sedikit yang
lebih sibuk mengejar posisi daripada membangun kapasitas. Akibatnya, ketika kesempatan
datang, mereka hanya menjadi penonton di tengah keramaian.
Menjadi ikan kecil di kolam besar memang terlihat membanggakan. Kita merasa berada di
lingkungan yang hebat. Kita bisa berfoto dengan tokoh terkenal, hadir dalam forum bergengsi,
atau menyebut nama organisasi besar yang kita ikuti. Namun sering kali kontribusi kita sangat
kecil. Kita hadir, tetapi tidak memberi pengaruh. Kita menjadi bagian dari kerumunan, tetapi
tidak menjadi bagian dari perubahan.
Sebaliknya, menjadi ikan besar di kolam kecil mengajarkan keberanian untuk mengambil peran.
Di ranting yang sederhana, seseorang bisa menjadi penggerak pengajian. Di cabang yang kecil,
ia bisa menjadi pelopor kaderisasi. Di sebuah sekolah atau amal usaha yang belum berkembang,
ia bisa menjadi motor perubahan. Mungkin tempatnya tidak terkenal, tetapi manfaatnya terasa.
Muhammadiyah sendiri lahir dari semangat seperti ini. KH. Ahmad Dahlan tidak menunggu
menjadi tokoh nasional sebelum bergerak. Beliau memulai dari sebuah surau kecil di Kauman.
Pengajiannya tidak dihadiri ribuan orang. Muridnya tidak berjumlah puluhan ribu. Namun dari
ruang kecil itulah lahir gerakan besar yang kemudian mengubah wajah umat dan bangsa.
Sejarah selalu membuktikan bahwa perubahan besar hampir selalu dimulai dari ruang-ruang
kecil. Amal usaha Muhammadiyah yang hari ini megah pada awalnya hanyalah bangunan
sederhana. Pimpinan yang hari ini disegani dahulu adalah kader biasa yang tekun mengurus
kegiatan ranting. Tokoh yang hari ini menjadi rujukan pemikiran dahulu adalah anak muda yang
rajin hadir dalam pengajian dan perkaderan.
Karena itu, seorang kader jangan terlalu sibuk mencari panggung yang besar. Carilah tempat di
mana dirinya bisa bertumbuh dan memberi manfaat. Sebab ukuran keberhasilan kader bukanlah
seberapa besar panggung yang ia miliki, melainkan seberapa besar dampak yang ia berikan.
Dalam dunia kaderisasi, ada penyakit yang cukup berbahaya, yaitu keinginan untuk melompat
terlalu cepat. Baru selesai mengikuti satu pelatihan, sudah ingin menjadi pimpinan. Baru
mengenal organisasi beberapa tahun, sudah ingin berada di posisi strategis. Baru belajar
berbicara, sudah ingin menjadi tokoh.
Padahal pohon yang kuat tidak tumbuh dalam semalam. Akar harus menghunjam terlebih dahulu
sebelum batang menjulang tinggi. Begitu pula kader Muhammadiyah. Ia harus ditempa oleh
waktu, diuji oleh amanah, dan dibentuk oleh pengalaman. Semua proses itu biasanya terjadi di
"kolam-kolam kecil" yang sering dianggap tidak penting.
Ranting adalah kolam kecil itu.
Cabang adalah kolam kecil itu.
Pengajian adalah kolam kecil itu.
Darul Arqam adalah kolam kecil itu.
Baitul Arqam adalah kolam kecil itu.
Di sanalah karakter ditempa. Di sanalah kesabaran diuji. Di sanalah kemampuan memimpin
diasah. Di sanalah seorang kader belajar bekerja tanpa tepuk tangan dan tanpa sorotan kamera.
Ironisnya, banyak orang ingin memimpin organisasi besar, tetapi tidak pernah berhasil
menghidupkan satu pengajian ranting. Ingin berbicara tentang peradaban, tetapi tidak mampu
mengelola satu kegiatan kaderisasi. Ingin mengubah bangsa, tetapi belum mampu mengubah
dirinya sendiri.
Pesan "ikan besar di kolam kecil" sesungguhnya mengajarkan filosofi kepemimpinan yang
sangat mendalam. Kepemimpinan bukan dimulai dari jabatan, tetapi dari kebermanfaatan.
Seorang pemimpin sejati tidak menunggu panggung besar untuk bekerja. Ia bekerja di mana pun
ditempatkan. Ia menyalakan cahaya meskipun hanya di sebuah ruangan kecil.
Kader yang besar adalah kader yang mampu menjadi solusi bagi lingkungannya. Ketika ranting
membutuhkan penggerak, ia hadir. Ketika cabang membutuhkan tenaga, ia datang. Ketika umat
membutuhkan bantuan, ia bergerak. Ia tidak bertanya seberapa besar jabatannya, tetapi seberapa
besar manfaat yang bisa diberikannya.
Dalam perspektif Islam, ukuran kemuliaan seseorang bukanlah popularitasnya, melainkan
ketakwaan dan amal salehnya. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa manusia terbaik adalah
yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Karena itu, tidak ada istilah tempat kecil untuk
berbuat kebaikan. Yang ada hanyalah hati yang besar atau hati yang sempit.
Kader Muhammadiyah harus memiliki mental pembangun, bukan mental penumpang. Mental
pembangun selalu bertanya, "Apa yang bisa saya lakukan?" Sedangkan mental penumpang selalu
bertanya, "Apa yang bisa saya dapatkan?"
Mereka yang bermental pembangun tidak takut memulai dari bawah. Mereka tidak malu menjadi
pengurus ranting. Mereka tidak gengsi mengurus pengajian. Mereka tidak keberatan bekerja di
daerah yang jauh dari pusat perhatian. Sebab mereka memahami satu hal: sejarah tidak ditulis
oleh mereka yang mencari sorotan, tetapi oleh mereka yang menghadirkan manfaat.
Hari ini Muhammadiyah membutuhkan lebih banyak ikan besar di kolam-kolam kecil.
Muhammadiyah membutuhkan kader yang mau membesarkan ranting, menghidupkan cabang,
memakmurkan masjid, menguatkan kaderisasi, dan mengembangkan amal usaha. Sebab
kekuatan Muhammadiyah tidak ditentukan oleh megahnya kantor wilayah atau pusat, tetapi oleh
hidupnya denyut gerakan di akar rumput.
Maka kepada para kader muda, jangan berkecil hati jika hari ini amanahmu masih sederhana.
Jangan merasa kecil jika tempat pengabdianmu belum terkenal. Jangan minder jika namamu
belum dikenal banyak orang.
Fokuslah menjadi pribadi yang bertumbuh. Perbesar kapasitasmu. Perluas manfaatmu. Kuatkan
integritasmu. Jadilah solusi di tempatmu berada.
Sebab sejarah membuktikan, mereka yang hari ini menjadi pemimpin besar adalah orang-orang
yang dahulu bersedia menjadi ikan besar di kolam-kolam kecil.
Dan sering kali, justru dari kolam kecil itulah lahir gelombang besar yang mengubah dunia.
Wallahu a’lam bish shawab (***)



