Haedar Nashir Kenang Dedikasi Dyah Nur’aini, Tulus dan Gigih
INFOMU.CO | Sukoharjo – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir mengenang Dyah Nur’aini sebagai kader ‘Aisyiyah dan Muhammadiyah yang gigih menjalankan amanah organisasi. Dyah wafat pada Sabtu, 22 Agustus 2026, dalam usia 69 tahun.
Haedar menyampaikan duka atas kepergian Dyah saat melepas jenazah almarhumah di Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah, Minggu (23/8/2026). Ia mengatakan, keluarga besar Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah tentu merasakan kehilangan, tetapi kepergian Dyah merupakan ketetapan Allah SWT yang harus diterima dengan ikhlas, sabar, dan tawakal.
“Tentu kami sangat kehilangan. Tetapi, betapapun duka dan kehilangan, Allah telah menggariskan nazar beliau, Ibu Dyah, untuk menghadap ke hadirat-Nya sesuai dengan ketetapan-Nya,” ujar Haedar.
Ia mengutip QS Yunus ayat 49: “Apabila ajal mereka telah datang, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.”
Karena itu, Haedar mengajak keluarga besar Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah menerima kepergian Dyah dengan keikhlasan, kesabaran, dan ketawakalan.
“Kami dari keluarga besar Muhammadiyah memberikan kesaksian bahwa Mbak Dyah adalah sosok ‘Aisyiyah dan kader Muhammadiyah. Perjalanan hidupnya adalah upaya untuk menjadi hamba Allah sekaligus khalifatullah melalui Persyarikatan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah,” katanya.
Menurut Haedar, kegigihan Dyah selama berkhidmat di Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah menjadi keteladanan yang layak dikenang. Ia berharap seluruh pengabdian almarhumah menjadi amal jariyah yang terus mengalir.
Haedar juga mengenang awal perjalanan pengabdiannya bersama Dyah pada periode 1979–1982. Saat itu, Haedar aktif di Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Wilayah DIY, sedangkan Dyah berkiprah di Tapak Suci.
Hubungan keduanya dalam perjalanan organisasi kemudian berlanjut. Dyah aktif di Nasyiatul ‘Aisyiyah dan dipercaya menjadi ketua umum pada periode 1995–2000. Setelah itu, ia melanjutkan pengabdian di Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah sebagai sekretaris umum.
Haedar mengatakan, dirinya mengetahui langsung kegigihan dan kepedulian Dyah dalam menjalankan amanah di ‘Aisyiyah. Bahkan, almarhumah tetap menjalankan tugas organisasi hingga ke Solo.
“Betapa perjuangan dan kepintaran beliau dalam mengurus ‘Aisyiyah, hingga ke Solo, tidak pernah lelah,” tuturnya.
Haedar menilai ketulusan dan kegigihan merupakan bagian penting dalam menjalankan khidmat. Kesungguhan dalam pengabdian harus diarahkan pada tujuan yang lebih hakiki, yakni memperoleh rida Allah SWT.
“Bahwa kunci khidmat adalah ketulusan dan kegigihan, serta ikhtiar kita yang lebih hakiki berdasarkan ridha Allah,” katanya.
Dyah Nur’aini tercatat pernah menjabat Sekretaris Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah dalam dua periode, yakni 2010–2015 dan 2015–2022.
Di akhir sambutannya, Haedar mengajak keluarga besar Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah mengantarkan almarhumah dengan doa dan keikhlasan.
“Ketika kita mendengar kabar duka ini, kita sedih. Insyaallah kita berada di tempat ini untuk menghantarkan beliau ke pemakaman dengan do’a. Insyaallah Mbak Dyah husnul khatimah dan menjadi ahlul jannah. Kita bersama-sama berdoa untuk melepas kepergian Mbak Dyah,” katanya. (jakartamu)



