Guru Berkemajuan, Sekolah Berdaya Saing: UMTS Satukan Guru Muhammadiyah Padangsidimpuan dan Tapanuli Selatan
INFOMU.CO | Padangsidimpuan — Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan (UMTS) menggelar seminar bertema “Peningkatan Daya Saing Pendidikan Muhammadiyah Tapanuli Selatan” pada Sabtu, 22 Agustus 2026, bertempat di Ruang Seminar UMTS, Kota Padangsidimpuan.
Kegiatan ini menjadi ruang penguatan kapasitas dan pola pikir para guru Muhammadiyah dalam menghadapi tantangan pendidikan yang semakin dinamis. Seminar tersebut diikuti oleh 215 guru-guru sekolah Muhammadiyah dari jenjang SD, SMP, hingga SMA se-Kota Padangsidimpuan dan Kabupaten Tapanuli Selatan.
Seminar turut dihadiri Rektor UMTS, Assoc. Prof. Dr. Darliana Sormin, M.A., Wakil Rektor I Aisyah Nurmi, M.Pt., serta Wakil Rektor II Dra. Samsidar, M.A, Ketua Majelis Dikdasmen PDM Kota Padangsidimpuan dan Tapanuli Selatan, Seluruh Kepala Sekolah Muhammadiyah Se-Kota Padangsidimpuan dan Tapanuli Selatan. Adapun narasumber utama dalam kegiatan ini adalah Dr. Abdul Ghofur, yang menyampaikan materi bertajuk “Membangun Growth Mindset Guru Muhammadiyah Menuju Sekolah Berdaya Saing Global.”
Dalam sambutannya, Rektor UMTS, Assoc. Prof. Dr. Darliana Sormin, M.A., menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan langkah penting dalam membangun kualitas sumber daya manusia di lingkungan pendidikan Muhammadiyah.
Menurutnya, seminar ini merupakan kegiatan pertama yang dilaksanakan di luar rangkaian Baitul Arqam. Kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi pembekalan bagi para guru untuk penguatan dalam pengembangan kualitas Sumber Daya Manusia sebelum mengikuti Baitul Arqam dan fokus pada Pengelolaan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).
“Ini adalah kegiatan pertama yang kita lakukan di luar Baitul Arqam. Kegiatan ini bertujuan untuk penguatan Sumber Daya Manusia, sebelum guru-guru melaksanakan Baitul Arqam dan fokus pada pengelolaan Amal Usaha Muhammadiyah,” ujarnya.
Lebih lanjut, Rektor menegaskan bahwa institusi pendidikan Muhammadiyah di Kota Padangsidimpuan dan Kabupaten Tapanuli Selatan harus berani melakukan perubahan. Menurutnya, perubahan tidak akan terjadi apabila seluruh elemen pendidikan masih berada dalam zona nyaman.
Untuk itu, guru dan pengelola lembaga pendidikan Muhammadiyah dituntut memiliki pemikiran berkemajuan, keberanian keluar dari zona nyaman, serta kemampuan membangun kolaborasi.
“Institusi pendidikan Muhammadiyah di Kota Padangsidimpuan dan Tapanuli Selatan harus berubah. Untuk berubah, kita harus keluar dari zona nyaman, memiliki pemikiran berkemajuan dan membangun kolaborasi,” tegasnya.
Rektor berharap kegiatan semacam ini tidak berhenti pada satu momentum, tetapi dapat dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai wadah peningkatan kompetensi guru sekaligus memperkuat hubungan dan ukhuwah di antara warga pendidikan Muhammadiyah.
Ia juga berharap kegiatan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk melahirkan guru-guru yang semakin kompeten, adaptif, dan mampu membawa sekolah Muhammadiyah menghadapi persaingan pendidikan yang semakin luas.
Sementara itu, dalam materi yang disampaikan, Dr. Abdul Ghofur mengajak para guru untuk membangun growth mindset, yaitu pola pikir yang terbuka terhadap proses belajar, perubahan, tantangan, dan pengembangan diri secara berkelanjutan.
Ia mengawali pemaparannya dengan mengutip ungkapan filsuf René Descartes, “Cogito, ergo sum” atau “Aku berpikir, maka aku ada.”
Menurut Dr. Abdul Ghofur, ungkapan tersebut dapat menjadi salah satu indikator penting dalam membangun growth mindset. Guru harus memiliki kesadaran untuk berpikir, merefleksikan diri, belajar, dan terus mengembangkan kapasitasnya.
Ia menekankan bahwa seorang guru tidak cukup hanya hadir secara fisik di dalam kelas. Guru harus hidup berkesadaran dalam menjalankan profesinya.
Kesadaran tersebut, menurutnya, mencakup beberapa hal penting, yaitu sadar sebagai insan beriman, berkesadaran sebagai guru, berkesadaran terhadap peserta didik, berkesadaran untuk terus belajar, berkesadaran sebagai bagian dari Muhammadiyah, serta berkesadaran untuk memberi dampak.
“Guru harus hidup berkesadaran. Sadar sebagai insan beriman, sadar sebagai guru, sadar terhadap peserta didik, sadar untuk terus belajar, sadar sebagai bagian dari Muhammadiyah, dan sadar untuk memberikan dampak,” jelasnya.
Dr. Abdul Ghofur juga mengingatkan bahwa sekolah Muhammadiyah harus memiliki karakter dan keunggulan yang membedakannya dari lembaga pendidikan lainnya. Diferensiasi menjadi salah satu kunci agar sekolah Muhammadiyah mampu bertahan dan memenangkan persaingan di tengah perubahan dunia pendidikan.
“Jika sekolah-sekolah Muhammadiyah tidak memiliki diferensiasi, maka akan kalah bersaing dengan sekolah lainnya,” tegasnya.
Karena itu, guru dituntut tidak hanya menjadi pelaksana pembelajaran, tetapi juga menjadi penggerak perubahan di lingkungan sekolah. Guru harus mampu melihat potensi, membaca perubahan zaman, dan menciptakan pengalaman pendidikan yang relevan dengan kebutuhan peserta didik.
Di penghujung materinya, Dr. Abdul Ghofur meneguhkan bahwa guru Muhammadiyah setidaknya memiliki tiga peran utama, yakni sebagai pentransfer pengetahuan, pelatih keterampilan, serta pembentuk karakter dan kepribadian yang baik.
Ketiga peran tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun pendidikan Muhammadiyah yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu melahirkan generasi yang memiliki keterampilan, karakter, nilai-nilai keislaman, dan kesiapan menghadapi tantangan global.
Seminar “Peningkatan Daya Saing Pendidikan Muhammadiyah Tapanuli Selatan” diharapkan menjadi titik awal bagi lahirnya gerakan bersama untuk meningkatkan mutu pendidikan Muhammadiyah di Kota Padangsidimpuan dan Kabupaten Tapanuli Selatan.
Melalui guru yang memiliki growth mindset, berkesadaran, berkemajuan, dan berorientasi pada dampak, sekolah-sekolah Muhammadiyah diharapkan mampu keluar dari zona nyaman, membangun keunggulan yang khas, memperkuat kolaborasi, serta tumbuh menjadi institusi pendidikan yang semakin kompetitif dan berdaya saing global. ( amin aziz )





