42 Tahun Haedar Nashir di Dunia Jurnalistik: Dari Naskah Dibuang hingga Raih Kartu Wartawan
“Setiap saat kita membutuhkan udara untuk bernapas, setiap hari membutuhkan air untuk diminum, dan setiap saat pula kita membutuhkan informasi. Kehadiran media Muhammadiyah dan sosok Haedar Nashir diharapkan mampu menghadirkan pencerahan serta informasi yang berbobot dan berkualitas,” ujar Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat.
Kecintaan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Haedar Nashir terhadap dunia tulis-menulis dan ilmu pengetahuan telah tumbuh sejak puluhan tahun lalu. Pada 1984, ketika namanya belum dikenal luas, Haedar mulai bergabung dengan Suara Muhammadiyah (SM). Ia datang bukan sebagai tokoh, melainkan sebagai pembelajar yang ingin mengasah kemampuan menulis dan memahami dunia jurnalistik.
Selama hampir lima tahun, Haedar mendapat tempaan dari para redaktur SM. Naskah yang ditulisnya berkali-kali dipenuhi coretan dan koreksi. Bahkan, ada tulisan yang pernah dirobek hingga dibuang ke tempat sampah.
“Kan sakit hati, ya,” kenang Haedar.
Kisah tersebut disampaikan Haedar dalam Puncak Peringatan Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah di Jakarta, Kamis (13/8/2026). Pengakuannya mengundang tawa peserta, tetapi di balik pengalaman tersebut tersimpan proses panjang yang ikut membentuk dirinya sebagai penulis dan insan pers.
Haedar memilih tidak menyerah. Ia terus membaca, menulis, menerima kritik, kemudian kembali memperbaiki tulisannya. Proses tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjangnya di dunia jurnalistik.
Pada masa awal menjadi wartawan, Haedar menjalani pekerjaan jurnalistik dengan sederhana. Ia harus berjalan kaki, menggunakan bus, dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari bahan berita. Baginya, berita bukan sekadar tulisan, tetapi harus diperoleh melalui proses peliputan, verifikasi, dan penyajian yang bertanggung jawab.
Kariernya kemudian berkembang. Dari penulis, Haedar dipercaya menjadi redaktur. Ia juga mulai menulis opini dan menghasilkan buku. Saat menjadi dosen muda di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Haedar mulai mengisi halaman opini Kompas.
Menembus halaman opini Kompas bukan perkara mudah karena setiap tulisan harus melalui seleksi. Namun, perjalanan waktu membawa perubahan. Jika sebelumnya Haedar mengirimkan naskah ke Kompas, pada tahap berikutnya justru dirinya yang diminta untuk menulis.
Meski kemudian dipercaya memimpin Muhammadiyah sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, kecintaan Haedar terhadap dunia pers tidak pernah hilang. Ia tetap menjalankan peran sebagai Pemimpin Redaksi Suara Muhammadiyah dan bahkan meminta agar posisi tersebut tetap dipercayakan kepadanya.
“Karena inilah dunia saya,” ujarnya.
Dari Naskah yang Dibuang hingga Kartu Wartawan
Setelah puluhan tahun berkecimpung dalam dunia jurnalistik, Haedar mengaku memiliki keinginan sederhana yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan, yakni memiliki kartu wartawan.
“Dulu tidak (terpikir untuk memiliki kartu), tapi kok pengen juga ya sekarang,” katanya disambut tawa.
Keinginan tersebut akhirnya terwujud pada Kamis (13/8/2026), bertepatan dengan Peringatan Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah. Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat menyerahkan Kartu Wartawan Utama Khusus kepada Haedar Nashir.
Bagi sebagian orang, kartu tersebut mungkin hanya menjadi tanda pengenal. Namun bagi Haedar, kartu itu memiliki makna lebih dalam. Kartu tersebut menjadi simbol perjalanan panjang selama 42 tahun di dunia pers.
Perjalanan itu dimulai dari naskah yang penuh coretan, tulisan yang pernah dirobek dan dibuang, hingga pengalaman mencari berita dengan berjalan kaki dan naik bus. Dari meja redaksi, halaman opini, buku-buku yang ditulis, sampai akhirnya menerima Kartu Wartawan Utama Khusus.
Haedar: Pers Bukan Sekadar Profesi
Bagi Haedar Nashir, pers tidak hanya berkaitan dengan pekerjaan atau profesi. Dunia jurnalistik memiliki tanggung jawab besar dalam membangun masyarakat yang berpengetahuan dan kritis.
Haedar mengaitkan tradisi literasi dengan ajaran Islam. Wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW diawali dengan perintah membaca atau *iqra* dalam Surah Al-Alaq ayat 1.
“Islam hadir melalui iqra, melalui Surah Al-Alaq ayat 1. Artinya, Islam mempunyai tradisi literasi yang profetik,” kata Haedar.
Menurutnya, pers harus mampu menghadirkan informasi yang benar, baik, dan bermanfaat. Media juga perlu memberikan ruang bagi berbagai sudut pandang agar masyarakat mendapatkan informasi secara utuh.
Karena itu, prinsip *cover both sides* menjadi bagian penting dalam kerja jurnalistik. Media harus memberikan kesempatan kepada pihak-pihak yang berkaitan dengan sebuah persoalan untuk menyampaikan perspektifnya.
Namun, tantangan pers saat ini semakin kompleks. Media harus berhadapan dengan kepentingan ekonomi, politik, pemilik modal, hingga tuntutan publik. Kondisi tersebut semakin rumit ketika kepentingan ekonomi dan politik beririsan dalam kepemilikan media.
“Di situlah bagaimana pers memainkan peran,” ujar Haedar.
Menurutnya, situasi tersebut menjadi ujian bagi independensi, profesionalisme, kecerdasan, dan keberanian para wartawan.
Tantangan Pers di Tengah Banjir Informasi
Selain tantangan dari kepentingan ekonomi dan politik, pers kini menghadapi perubahan besar akibat perkembangan media sosial.
Arus informasi bergerak sangat cepat. Setiap orang dapat membuat dan menyebarkan informasi hanya dalam hitungan detik. Kondisi ini membuat berita yang benar dan informasi palsu sama-sama dapat menyebar dengan cepat.
“Kalau media sosial, itu memang sudah liar, tapi itulah dunia kita saat ini,” kata Haedar.
Karena itu, Haedar menilai peningkatan literasi masyarakat menjadi kebutuhan penting. Masyarakat tidak cukup hanya menerima informasi, tetapi juga harus mampu memeriksa sumber, membandingkan informasi, dan menilai kebenarannya.
Pers profesional memiliki peran penting di tengah kondisi tersebut. Media harus tetap berpegang pada fakta dan menjalankan fungsi jurnalistik secara bertanggung jawab.
Haedar meyakini pers tetap mampu menghadirkan informasi berkualitas meskipun menghadapi berbagai tekanan dan tantangan.
“Dengan kecerdasan, dengan kepiawaian kita, dunia pers untuk tetap menyajikan informasi yang terbaik bagi masyarakat, bagi publik, sesulit apa pun kita akan bisa menampilkan kebenaran,” ujarnya.
Kritik Pers Dibutuhkan Negara
Haedar juga menilai pers memiliki posisi penting dalam kehidupan bernegara. Pemerintah, parlemen, lembaga yudikatif, TNI, maupun Polri membutuhkan pers sebagai sumber informasi, kritik, dan perspektif dari luar lembaga.
Menurutnya, kritik tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman. Kritik justru dapat menjadi sarana bagi lembaga negara untuk melakukan evaluasi dan memperbaiki kebijakan.
“Bangsa akan menjadi lebih maju,” kata Haedar.
Karena itu, ia berharap para pemangku kepentingan memiliki keterbukaan dalam memberikan informasi kepada masyarakat. Di sisi lain, pers juga harus tetap menjaga etika, profesionalisme, dan kepentingan bangsa ketika menjalankan fungsi kontrol sosial.
Berbeda Pandangan, Tetap Menjaga Persatuan
Pandangan Haedar tentang pers pada akhirnya berkaitan erat dengan kehidupan kebangsaan. Indonesia merupakan negara yang dibangun dari keberagaman suku, agama, pandangan, kepentingan, dan latar belakang.
Perbedaan tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling terpecah. Menurut Haedar, bangsa dapat bertahan karena memiliki kehendak bersama. Indonesia memiliki titik temu melalui Pancasila dan UUD 1945.
“Kebangsaan punya persepsi masing-masing dan di situlah bangsa bisa hidup. Bangsa dihidupkan oleh kehendak bersama,” ujarnya.
Dalam konteks tersebut, pers memiliki tanggung jawab untuk tidak memperbesar perbedaan menjadi konflik. Sebaliknya, media diharapkan dapat membantu masyarakat memahami berbagai perspektif, mempertemukan perbedaan pandangan, dan menjaga ruang publik tetap sehat.
Pada akhirnya, pers memiliki tugas yang lebih besar daripada sekadar menyampaikan berita. Pers turut berperan menjaga kualitas demokrasi, memperkuat literasi masyarakat, serta memastikan ruang publik diisi dengan informasi yang benar dan bertanggung jawab.
Perjalanan 42 tahun Haedar Nashir di dunia pers menjadi gambaran bahwa kecintaan terhadap tulisan dapat bertahan melampaui perubahan zaman. Dari naskah yang pernah dicoret dan dibuang ke tong sampah, hingga menerima Kartu Wartawan Utama Khusus, perjalanan tersebut menunjukkan bahwa proses panjang, ketekunan, dan komitmen terhadap literasi dapat meninggalkan jejak yang berarti bagi dunia pers dan masyarakat.
Sumber : kompasiana.com



