
5 Oktober 2026 Dirgahayu TNI ke-81
Ada pesan lama yang rasanya tidak pernah menjadi usang. Pesan itu datang dari Panglima Besar Jenderal Soedirman, seorang tokoh militer sekaligus kader Muhammadiyah yang telah memberikan teladan tentang pengabdian, keteguhan sikap dan kecintaan kepada bangsa.
Jenderal Soedirman pernah berpesan:
«“Pelihara TNI, pelihara angkatan perang kita, jangan sampai TNI dikuasai oleh partai politik manapun juga. Ingatlah, bahwa prajurit kita bukan prajurit sewaan, bukan prajurit yang mudah dibelokkan haluannya, kita masuk dalam tentara, karena keinsyafan jiwa dan sedia berkorban bagi bangsa dan negara.”»
Pesan lainnya juga sangat tegas:
“Tentara hanya mempunyai kewajiban satu, ialah mempertahankan kedaulatan negara dan menjaga keselamatannya. Sudah cukup kalau tentara teguh memegang kewajiban ini, lagipula sebagai tentara, disiplin harus dipegang teguh. Tentara tidak boleh menjadi alat suatu golongan atau orang siapapun juga.”»
Pesan tersebut lahir pada masa ketika republik masih sangat muda dan mempertahankan kemerdekaan bukanlah perkara mudah. Namun justru karena itu, pesan tentang tentara yang tidak menjadi alat golongan atau kekuasaan tertentu menjadi semakin penting untuk terus diingat.
Bagi kader Pemuda Muhammadiyah di seluruh Indonesia, sosok Jenderal Soedirman tentu memiliki tempat tersendiri. Beliau bukan sekadar Panglima Besar TNI pertama, tetapi juga pernah menjadi bagian dari proses perkaderan Muhammadiyah.
Sudirman muda pernah menjadi guru di sekolah Muhammadiyah Cilacap dan merupakan lulusan HIK Muhammadiyah di Solo. Ia aktif dalam Hizbul Wathan, organisasi kepanduan Muhammadiyah yang menempa kedisiplinan, kepemimpinan dan keberanian mengambil sikap. Ia juga pernah menjadi Wakil Ketua Pemuda Muhammadiyah Karesidenan Banyumas.
Mungkin tidak berlebihan jika dikatakan bahwa sebagian karakter kepemimpinan Jenderal Soedirman ditempa dari pengalaman perkaderan tersebut.
Sejarah kemudian mencatat bagaimana Sudirman memimpin perjuangan. Pertempuran Ambarawa pada Desember 1945 menjadi salah satu catatan penting dalam perjalanan perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Tidak lama setelah pembentukan Tentara Keamanan Rakyat pada 5 Oktober 1945, Sudirman terpilih sebagai Panglima Besar pada 12 November 1945.
Yang paling mengesankan adalah keteguhan beliau ketika memimpin perang gerilya. Dalam kondisi sakit keras, ia tetap memilih berada bersama pasukannya. Dengan keterbatasan fisik, beliau tetap menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan hanya soal jabatan, tetapi tentang kesediaan memikul beban ketika keadaan sedang sulit.
Ada pula pesan Jenderal Soedirman kepada aktivis Muhammadiyah yang layak direnungkan:
«“Pangkat dan derajat yang telah didapat oleh para anggota Muhammadiyah hendaknya tidak merubah pendirian sikap menghadapi sesuatu.”»
Pesan ini menarik. Sebab godaan terbesar setelah seseorang memperoleh kedudukan bukan hanya kehilangan keberanian, tetapi juga kehilangan sikap dan prinsip.
Karena itu, mengenang Jenderal Soedirman bukan sekadar mengulang cerita sejarah. Kita sedang mengingat kembali nilai yang pernah diperjuangkannya: pengabdian, disiplin, keberanian, keteguhan prinsip dan kesetiaan kepada bangsa dan negara.
Bagi TNI, pesan terpentingnya adalah tetap menjadi tentara rakyat, tentara negara, bukan tentara milik partai, kelompok atau orang tertentu.
Bagi kader Muhammadiyah, keteladanan Soedirman mengingatkan bahwa kaderisasi tidak berhenti pada kemampuan berbicara atau berorganisasi. Kaderisasi juga harus melahirkan manusia yang memiliki disiplin, keberanian, integritas dan kesediaan berkorban.
Dan bagi bangsa Indonesia, mungkin pesan paling sederhananya adalah: jangan lupakan sejarah.
Sebab bangsa yang melupakan sejarah bukan hanya kehilangan cerita masa lalu, tetapi bisa kehilangan kompas untuk menghadapi masa depan.
Dirgahayu TNI ke-81.
Semoga TNI senantiasa kuat, profesional, dekat dengan rakyat, menjaga kedaulatan negara dan tetap teguh pada jati dirinya sebagai alat negara—bukan alat kekuasaan, bukan alat golongan.
Selamat HUT TNI.
Jangan lupakan pesan Panglima Besar Jenderal Soedirman.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni






