Ustaz Adi Hidayat Ungkap Penyakit Jiwa dan Jalan Kembali ke Fitrah
Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa seseorang yang tampak waras dan normal justru kerap terjebak dalam tindakan tercela, seperti korupsi, menyakiti orang lain, atau melontarkan kata-kata kasar?
Dalam penjelasannya, Ustaz Adi Hidayat menguraikan bahwa di dalam jiwa manusia hanya ada dua potensi utama yang saling bertolak belakang.
“Kalau bukan potensi kebaikan, maka lawannya yang menjadi tidak baik. Potensi kebaikan itu disebut takwa. Lawannya yang sering dimanfaatkan oleh setan itu disebut fujur,” ujarnya merujuk pada dinamika internal manusia.
“Allah itu kalau sudah bersumpah berarti sangat serius. Karena tanpa sumpah pun sudah serius. Saking pentingnya kita mengenali diri kita dan mampu mendalami tentang keadaan jiwa kita supaya tidak sakit jiwanya,” tegasnya.
Bukan Sekadar Hilang Kesadaran
Ustaz Adi Hidayat meluruskan pemahaman umum yang sering keliru mengenai definisi penyakit jiwa. Penyakit ini tidak selalu identik dengan kondisi kejiwaan klinis di mana seseorang tidak sadar atas perbuatannya.
Penyakit ini, lanjutnya, tidak tersembunyi. Ia terlihat jelas melalui anggota tubuh (jawarih). Provokasi negatif yang bersemayam di jiwa akan diteruskan oleh akal, lalu bermanifestasi melalui lisan yang mengucapkan kata tak pantas, atau tangan yang melakukan pencurian, korupsi, dan tindakan mencederai orang lain.
“Penampakan jiwanya sakit itu ada pada anggota tubuhnya, karena cara kerja jiwa itu akan ditembuskan kepada akal, lalu ke seluruh bagian tubuh untuk bersikap,” tambahnya.
“Salat itu kalau benar dikerjakan, mampu membebaskan pelakunya dari dua sumber keburukan, baik fahsya ataupun mungkar. Itulah rahasianya kenapa anak usia 7 tahun diajarkan salat pertama kali. Karena diharapkan anak itu tumbuh menjadi pribadi yang baik di masa depan,” paparnya. (tabligh)




