Ketika Pohon Kelapa Tumbang, Katak Pun Ikut Memanjat
Oleh: Jufri
Sejarah mengajarkan bahwa hampir setiap pemimpin yang pernah mencapai puncak kekuasaan akan menghadapi kenyataan yang sama. Ketika berada di atas, orang-orang datang mendekat. Mereka memuji, mendukung, bahkan mengaku sebagai orang yang paling setia. Namun ketika kekuasaan mulai memudar, tidak sedikit yang perlahan menjauh, bahkan berbalik arah.
Pada masa Presiden Soeharto, misalnya, begitu banyak orang berada di lingkaran kekuasaan. Mereka tampak loyal dan hampir tidak pernah berbeda pendapat. Karier, jabatan, fasilitas, dan berbagai kesempatan terbuka karena kedekatan dengan pusat kekuasaan.
Namun, ketika Reformasi 1998 bergulir dan Presiden Soeharto mengundurkan diri, suasana berubah begitu cepat. Sebagian orang yang dahulu menikmati berbagai keuntungan justru tampil sebagai pengkritik paling keras. Seolah-olah mereka tidak pernah menjadi bagian dari sistem yang sama.
Fenomena seperti ini sesungguhnya bukan hanya terjadi di Indonesia.
Dalam sejarah Romawi, Julius Caesar dikelilingi banyak pendukung. Namun ketika situasi politik berubah, sebagian orang terdekatnya justru ikut dalam konspirasi yang mengakhiri hidupnya. Nama Brutus kemudian menjadi simbol bahwa kedekatan tidak selalu identik dengan kesetiaan.
Di Inggris, Winston Churchill dikenang sebagai pemimpin yang membawa negaranya memenangkan Perang Dunia II. Namun tidak lama setelah kemenangan itu, rakyat memilih pemimpin lain melalui pemilu. Jasa besar ternyata tidak selalu menjamin kekuasaan akan bertahan.
Di Uni Soviet, Mikhail Gorbachev dipuji dunia karena membuka jalan perubahan melalui glasnost dan perestroika. Akan tetapi, ketika Uni Soviet runtuh, ia juga menghadapi kritik, bahkan dari sebagian orang yang sebelumnya berada di lingkaran kekuasaan.
Hal serupa juga dapat ditemukan dalam berbagai organisasi, perusahaan, bahkan kehidupan sehari-hari. Ketika seseorang sedang memiliki jabatan, banyak orang datang mendekat. Namun ketika masa jabatan berakhir, hubungan itu sering kali ikut memudar. Ternyata tidak semua kedekatan dibangun di atas persahabatan, melainkan karena kepentingan.
Orang Minangkabau memiliki sebuah ungkapan yang sangat menarik:
“Ketika pohon kelapa tumbang, katak pun ikut memanjat.”
Ungkapan ini menggambarkan perilaku manusia yang mudah mengikuti arah angin. Selama pohon masih tegak, banyak yang berteduh di bawahnya. Namun ketika pohon itu tumbang, mereka yang dahulu menikmati keteduhannya justru ikut memanjatnya, bahkan terkadang menjadi orang pertama yang menyalahkan pohon tersebut.
Apabila yang bersikap demikian adalah mereka yang sejak awal memang menjadi lawan atau pihak yang merasa dirugikan, mungkin hal itu masih dapat dipahami sebagai bagian dari dinamika kehidupan.
Namun apabila yang melakukannya adalah orang-orang yang selama ini memperoleh karier, jabatan, fasilitas, bahkan membangun masa depan melalui kekuasaan yang sama, di situlah ironi kehidupan tampak begitu nyata.
Begitulah dunia. Sejarah terus berulang. Yang berubah hanyalah nama, tempat, dan zamannya.
Karena itu, setiap orang yang sedang memegang amanah kepemimpinan hendaknya tidak terlalu larut dalam pujian. Ketika lampu sedang menyala terang, banyak orang akan datang mendekat. Mereka mengaku sahabat, loyalis, bahkan bersedia berdiri di barisan paling depan.
Namun ketika cahaya mulai redup dan muncul cahaya lain yang lebih terang, sebagian orang akan berpindah tanpa banyak penjelasan.
Maka jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa semua orang di sekitar kita benar-benar mencintai pribadi kita. Sebagian mungkin memang tulus. Namun sebagian lainnya mungkin lebih mencintai jabatan, pengaruh, fasilitas, atau akses yang kita miliki.
Di sinilah pentingnya kerendahan hati. Sebab kekuasaan hanyalah amanah. Jabatan memiliki batas waktu. Popularitas akan memudar. Pengaruh pun suatu saat akan berkurang.
Yang akan tetap dikenang bukanlah seberapa banyak orang memuji ketika kita berkuasa, melainkan siapa yang tetap menghormati kita ketika seluruh atribut kekuasaan telah tiada.
Pepatah Arab mengingatkan:
“Ad-daulatu yaumān; yaumun laka wa yaumun ‘alaik.”
“Kekuasaan itu ibarat dua hari; suatu hari ia berpihak kepadamu, pada hari yang lain ia bisa berbalik meninggalkanmu.”
Karena itu, bagi yang sedang berada di puncak, janganlah sombong.
Dan bagi yang berada di sekitar kekuasaan, jagalah integritas. Kesetiaan kepada nilai jauh lebih mulia daripada kesetiaan yang lahir karena kepentingan.
Sebab sejarah selalu berulang.
Ketika pohon kelapa tumbang, katak pun ikut memanjat.
Silaturahmi. Kolaborasi. Sinergi. Harmoni.




