Filosofi Lebah: Hidup untuk Menghasilkan Madu, Bukan Racun
(Tulisan ke-66 dari Beberapa Tulisan Bertemakan Kader)
Oleh: Amrizal, S.Si., M.Pd. – Wakil Ketua MPKSDI PWM Sumatera Utara / Dosen Universitas Negeri Medan
Mengapa Allah memilih lebah?
Di hutan yang sama hidup harimau yang gagah. Ada gajah yang perkasa. Ada elang yang terbang tinggi. Ada singa yang disebut raja hutan. Namun tidak satu pun dari mereka diabadikan menjadi nama sebuah surah dalam Al-Qur’an. Allah justru memilih seekor makhluk kecil yang sering luput dari perhatian manusia. Lebah. Makhluk yang tubuhnya hanya beberapa sentimeter itu ternyata memperoleh kemuliaan yang tidak dimiliki banyak makhluk lainnya. Barangkali Allah ingin mengajarkan kepada manusia bahwa kemuliaan tidak diukur oleh besarnya tubuh, tingginya jabatan, atau kerasnya suara. Kemuliaan diukur oleh sebesar apa manfaat yang diberikan.
Allah berfirman,
“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah, ‘Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibuat manusia. Kemudian makanlah dari segala macam buah-buahan, lalu tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan bagimu.’ Dari perutnya keluar minuman yang bermacam-macam warnanya; di dalamnya terdapat obat bagi manusia. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berpikir.” (QS. An-Nahl: 68–69)
Perhatikan bagaimana ayat itu ditutup.
“Tanda-tanda bagi orang-orang yang berpikir.”
Artinya, lebah bukan sekadar makhluk.
Ia adalah guru. Guru kehidupan. Guru kepemimpinan. Guru kaderisasi.
Lebah Hanya Hinggap pada Bunga yang Baik
Lebah memiliki kemampuan memilih. Ia tidak hinggap di tempat yang busuk. Ia mencari bunga yang sehat. Ia memilih nektar terbaik. Yang lebih mengagumkan, ketika hinggap pada bunga, lebah tidak merusaknya. Ia mengambil secukupnya. Lalu pergi.
Bahkan tanpa disadari, ia membantu penyerbukan sehingga bunga itu justru menghasilkan buah.
Begitulah seorang kader Muhammadiyah. Ke mana pun ia datang, kehadirannya tidak menjadi beban. Ia tidak membawa konflik. Tidak memperkeruh suasana. Tidak mengambil keuntungan dengan merugikan orang lain. Ia meninggalkan tempat yang dikunjunginya dalam keadaan lebih baik daripada sebelumnya. Ia datang membawa ilmu. Pulang meninggalkan manfaat.
Dari Yang Manis, Lahirlah Yang Menyembuhkan
Lebah hanya mengumpulkan sari bunga. Yang keluar dari tubuhnya bukan racun.
Tetapi madu. Allah menyebut madu sebagai obat bagi manusia. Betapa indah pelajaran itu.
Apa yang keluar dari diri seseorang bergantung pada apa yang ia konsumsi setiap hari. Jika hati dipenuhi Al-Qur’an, ilmu, zikir, dan pengajian, yang keluar adalah kebijaksanaan. Jika pikiran dipenuhi prasangka, iri hati, fitnah, dan kebencian, yang keluar adalah racun. Lisan seorang kader seharusnya seperti madu. Menguatkan. Menenangkan. Menyembuhkan. Bukan memperkeruh keadaan. Bukan memperbesar masalah. Bukan memecah ukhuwah. Muhammadiyah membutuhkan kader yang setiap perkataannya menghadirkan harapan. Bukan keresahan.
Lebah Tidak Pernah Bekerja Sendirian
Seekor lebah mungkin tampak kecil. Namun ribuan lebah mampu membangun sarang yang luar biasa. Tidak ada perebutan panggung. Tidak ada perlombaan mencari pujian. Tidak ada saling menjatuhkan. Masing-masing memahami tugasnya. Masing-masing bekerja dengan penuh tanggung jawab. Tidak ada satu lebah pun yang berkata, “Aku lebih penting daripada yang lain.” Bukankah inilah hakikat berjamaah? Muhammadiyah tidak dibangun oleh tokoh-tokoh besar semata. Ia dibangun oleh ribuan kader yang bekerja dalam diam. Guru yang mengajar. Dokter yang melayani. Dosen yang meneliti. Relawan yang membantu korban bencana. Takmir yang memakmurkan masjid. Pengurus ranting yang menghidupkan pengajian. Mereka mungkin tidak pernah tampil di panggung. Namun justru merekalah yang menjaga denyut kehidupan persyarikatan.
Lebah Tidak Mengumpulkan Madu untuk Dirinya Sendiri
Inilah pelajaran yang paling menyentuh. Lebah menghabiskan hidupnya mengumpulkan madu.
Namun madu itu bukan untuk dirinya. Ia menjadi obat bagi manusia. Begitulah hakikat dakwah.
Seorang kader sejati tidak hidup untuk mengumpulkan kehormatan bagi dirinya. Ia mengumpulkan manfaat bagi umat. Ilmu yang dipelajarinya menjadi cahaya bagi orang lain. Rezeki yang diperolehnya menjadi jalan berbagi. Jabatan yang diembannya menjadi amanah pelayanan. Seluruh hidupnya berubah menjadi madu. Bukan untuk dirinya. Tetapi untuk sesama.
Ketika Kader Berubah Menjadi Tawon
Alam juga mengajarkan pelajaran melalui kebalikannya. Ada serangga yang lebih sibuk menyengat daripada menghasilkan madu. Kehadirannya lebih sering menimbulkan ketakutan daripada manfaat. Barangkali dalam kehidupan organisasi pun demikian. Ada orang yang merasa bangga karena kritiknya paling keras. Status medianya paling pedas. Komentarnya paling tajam. Namun setelah semua kegaduhan itu berlalu, organisasi tidak menjadi lebih baik. Tidak ada kader baru yang lahir. Tidak ada pengajian yang bertambah. Tidak ada amal usaha yang berkembang. Yang tersisa hanyalah luka. Muhammadiyah tidak dibangun dengan kemarahan. Muhammadiyah dibangun oleh ilmu, akhlak, dan kerja nyata. Kritik tetap diperlukan. Namun kritik seorang kader harus seperti madu. Menyembuhkan. Bukan meracuni. Memperbaiki. Bukan mempermalukan.
Menjadi Lebah yang Dicintai Langit
Kelak, manusia tidak akan diingat karena kerasnya suaranya. Tetapi karena manisnya manfaat yang ditinggalkan. Lebah tidak pernah meminta bunga mengingat namanya. Ia cukup memastikan bunga itu menjadi buah. Begitulah kader Muhammadiyah. Ia tidak sibuk menghitung berapa kali disebut. Ia tidak resah ketika orang lain memperoleh penghargaan. Ia tidak kecewa ketika amalnya tidak diketahui manusia. Karena ia memahami bahwa Allah mengetahui setiap tetes madu yang dihasilkannya. Barangkali inilah sebabnya Allah mengabadikan lebah dalam Al-Qur’an. Bukan karena tubuhnya yang kecil. Melainkan karena hidupnya yang seluruhnya menjadi manfaat. Maka jadilah seperti lebah. Datang membawa ketenangan. Bergaul tanpa merusak. Bekerja tanpa mencari tepuk tangan. Menghasilkan madu, bukan racun.
Sebab kader Muhammadiyah yang sejati bukanlah mereka yang paling sering terdengar suaranya.
Melainkan mereka yang kehadirannya membuat umat menjadi lebih sehat, lebih kuat, dan lebih tercerahkan. Seperti madu yang mengalir dari seekor lebah kecil, manfaat seorang kader yang ikhlas dapat menjadi obat bagi sebuah peradaban.
Wallāhu a’lam bi al-shawāb.




