Pengkaderan Utama dan Pengkaderan Fungsional: Menjaga Napas panjang Muhammadiyah Tetap Hidup
Oleh: Jufri
Salah satu kekuatan Muhammadiyah yang membuatnya mampu bertahan lebih dari satu abad adalah sistem pengkaderannya. Amal usaha boleh berkembang, gedung boleh bertambah megah, dan jumlah anggota boleh terus meningkat. Namun, tanpa kader yang terus dipersiapkan, semua itu hanya akan menjadi bangunan tanpa ruh. Karena itulah kaderisasi merupakan investasi terbesar Persyarikatan.
Dalam Sistem Perkaderan Muhammadiyah (SPM), secara umum dikenal dua bentuk pengkaderan, yaitu pengkaderan utama dan pengkaderan fungsional. Keduanya memiliki karakteristik yang berbeda, tetapi tujuan akhirnya sama, yakni melahirkan kader Muhammadiyah yang memiliki integritas, kompetensi, militansi, serta mampu menjadi pelopor, pelangsung, dan penyempurna amal usaha Persyarikatan.
Pengkaderan utama merupakan proses kaderisasi yang diselenggarakan secara terencana, sistematis, dan berjenjang. Materi, metode, instruktur, waktu, serta kompetensi yang ingin dicapai telah disusun secara baku. Bentuknya antara lain Baitul Arqam, Darul Arqam, dan berbagai jenjang pengkaderan resmi lainnya. Melalui proses ini, peserta memperoleh penguatan akidah, ibadah, akhlak, ideologi Muhammadiyah, kepemimpinan, wawasan kebangsaan, hingga kemampuan mengelola organisasi.
Sementara itu, pengkaderan fungsional lebih menekankan proses pembelajaran melalui pengalaman nyata. Tidak selalu dibatasi oleh kurikulum atau jadwal tertentu, tetapi berlangsung dalam kehidupan sehari-hari di Muhammadiyah. Pengajian rutin, rapat organisasi, kegiatan dakwah, pelayanan kesehatan, pendidikan, kegiatan sosial, penanggulangan bencana, hingga keterlibatan dalam kepanitiaan merupakan bagian dari pengkaderan fungsional. Di sanalah seorang kader belajar bekerja sama, menyelesaikan persoalan, mengambil keputusan, serta meneladani para senior yang lebih dahulu berkiprah.
Dalam praktiknya, kedua bentuk pengkaderan ini saling melengkapi. Pengkaderan utama memberikan arah, landasan ideologi, dan pemahaman yang benar tentang Muhammadiyah. Sementara pengkaderan fungsional menjadi ruang implementasi nilai-nilai tersebut dalam kehidupan organisasi dan pengabdian kepada masyarakat.
Bahkan tidak sedikit kader Muhammadiyah yang mengakui bahwa mereka dibentuk bukan hanya oleh ruang kelas saat Darul Arqam, tetapi juga oleh pengalaman panjang menghadiri pengajian, mendampingi kegiatan ranting, mengelola amal usaha, berdiskusi dengan para tokoh, hingga menghadapi berbagai dinamika organisasi. Semua itu adalah sekolah kehidupan yang tidak kalah penting dibandingkan materi yang tertulis dalam modul.
Karena itu, jangan pernah merasa selesai menjadi kader hanya karena telah mengikuti Baitul Arqam atau Darul Arqam. Sebaliknya, jangan pula merasa kecil hati jika belum berkesempatan mengikuti pengkaderan utama. Teruslah hadir dalam setiap aktivitas Persyarikatan, karena setiap langkah pengabdian adalah bagian dari proses kaderisasi.
Muhammadiyah membutuhkan keduanya. Pengkaderan utama melahirkan pemahaman yang kokoh, sedangkan pengkaderan fungsional melahirkan kematangan pengalaman. Ibarat dua sisi mata uang, keduanya tidak dapat dipisahkan. Ketika keduanya berjalan seiring, maka akan lahir kader-kader yang bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual, sosial, dan organisatoris.
Kaderisasi Muhammadiyah bukanlah kegiatan sesaat, melainkan proses sepanjang hayat. Selama seorang warga Muhammadiyah masih mau belajar, beramal, dan mengabdi, selama itu pula ia sedang ditempa menjadi kader yang membawa semangat Islam Berkemajuan, untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya serta menghadirkan cerdas bangsa, semesta bercahaya.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni



