WARTAPTM.ID, YOGYAKARTA – Komoditas mete yang selama ini identik sebagai camilan kini mulai dilirik sebagai sumber energi masa depan. Inovasi ini digagas oleh dosen Agribisnis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Cahyo Wisnu Rubiyanto, yang mengembangkan mete di Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi bahan baku biofuel untuk industri penerbangan.
Melalui proyek pengembangan perkebunan seluas 3.000 hektare, mete dari NTT diproyeksikan menjadi feedstock Sustainable Aviation Fuel (SAF), bahan bakar ramah lingkungan yang tengah menjadi fokus global dalam upaya menekan emisi karbon sektor aviasi.
Gagasan ini dipaparkan Cahyo dalam forum internasional UMY Summer School 2026 di Yogyakarta. Ia menilai mete memiliki nilai strategis yang jauh melampaui fungsi konvensionalnya sebagai produk pangan.
“Selama ini mete hanya dipandang sebagai komoditas konsumsi. Padahal, potensinya jauh lebih besar, termasuk sebagai sumber energi alternatif yang berkelanjutan,” papar Cahyo dalam agenda seminar internasional UMY Summer School 2026, Sabtu (13/6/2026).
Proyek ini tidak berjalan sendiri. UMY menggandeng perusahaan Jepang, Nishihara Soji Holdings, sebagai mitra utama dalam pendanaan dan pengembangan. Kolaborasi ini menjadi contoh bagaimana inovasi lokal dapat terhubung dengan jaringan global.
Namun, menurut Cahyo, keberhasilan proyek tidak hanya ditentukan oleh teknologi atau investasi. Ia menekankan pentingnya pendekatan Sustainable Livelihood Approach (SLA) yang menempatkan masyarakat sebagai bagian utama dari ekosistem pengembangan.
Pendekatan ini mencakup lima aspek penting, yakni modal manusia, alam, sosial, finansial, dan fisik. Dari kelima aspek tersebut, modal sosial disebut sebagai faktor yang paling menentukan, terutama dalam membangun kolaborasi lintas negara.
“Banyak orang fokus pada modal finansial, padahal tanpa kepercayaan, kerja sama tidak akan berjalan. Modal sosial menjadi fondasi utama,” jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa pembangunan modal sosial harus dimulai dari individu, melalui penguatan kapasitas diri seperti pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman. Hal ini menjadi dasar untuk membangun kepercayaan dalam kerja sama internasional.
Selain proyek mete di NTT, Cahyo juga terlibat dalam pengembangan komoditas kakao Indonesia untuk pasar global bersama perusahaan Jepang, Nikko. Pengalaman tersebut membawanya merumuskan konsep “Five C” sebagai kunci sukses kolaborasi internasional.
Kelima prinsip tersebut meliputi curiosity (rasa ingin tahu), communication (komunikasi), consistency (konsistensi), contribution (kontribusi), dan collaboration (kolaborasi). Menurutnya, kemampuan ini semakin penting di tengah dunia yang semakin terhubung.
“Keberhasilan di tingkat global tidak lagi hanya ditentukan oleh nilai akademik. Yang lebih penting adalah kemampuan membangun jaringan dan komunikasi lintas budaya,” pungkasnya.
Melalui inovasi ini, mete tidak lagi sekadar komoditas lokal, tetapi berpotensi menjadi bagian dari solusi global untuk energi berkelanjutan. Di sisi lain, proyek ini juga membuka peluang peningkatan kesejahteraan masyarakat NTT melalui pengelolaan sumber daya yang lebih produktif dan berkelanjutan.
The post Dari Mete NTT ke Bahan Bakar Pesawat, Inovasi Dosen UMY Tembus Kolaborasi Internasional appeared first on Warta PTM.



