Pentas di Atas Arus Sungai Deli, Hafiz Taadi Ajak Publik Kembalikan Kejayaan Sungai
- Sultan Deli XIV, Tuanku Aria Mahmud Lamanjiji Saksikan Pementasan Air Mata Sungai
- Ratusan orang saksikan pementasan teater Re/Posisi Zikir untuk Sungai DeliINFOMU.CO | Medan – Deru arus Sungai Deli mengalir tenang sore itu. Di antara riak air dan tepian sungai yang selama ini akrab dengan persoalan sampah serta pencemaran, sebuah panggung tak biasa berdiri. Bukan di gedung kesenian atau auditorium megah, melainkan tepat di atas aliran Sungai Deli. Di lokasi itulah Seniman Teater Nasional, Hafiz Taadi, kembali menampilkan karya terbarunya bertajuk Re/Posisi Zikir Untuk Sungai Deli, dengan pementasan teater berjudul Ibu Air Mata Sungai yang digelar pada 18 hingga 20 Juni 2026.
Pertunjukan teater kontemporer tersebut menjadi ruang refleksi bersama tentang kondisi Sungai Deli yang kian memprihatinkan. Hafiz menggandeng sejumlah aktor lokal, termasuk anak-anak dari sanggar seni di Belawan, untuk menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga sungai yang selama berabad-abad menjadi urat nadi peradaban Kota Medan.
Menurut Hafiz, gagasan pertunjukan lahir dari kegelisahan terhadap renggangnya hubungan masyarakat dengan Sungai Deli. Sungai yang dahulu menjadi pusat kehidupan kini perlahan kehilangan makna akibat pencemaran dan minimnya kepedulian. “Melalui pendekatan seni pertunjukan, kami ingin mengajak masyarakat kembali melihat Sungai Deli bukan sekadar aliran air, tetapi ruang peradaban yang memiliki sejarah, budaya, dan nilai kehidupan yang penting bagi Kota Medan,” ujar Hafiz.
Pertunjukan ini juga melibatkan Komunitas Sanggar Anak Sungai Deli (Sasude) yang dipimpin Lukman Hakim Siagian. Kolaborasi tersebut menghadirkan pertunjukan yang memadukan teater, sastra, musik dramatik, serta multimedia sehingga mampu menyuguhkan pengalaman artistik yang kuat bagi penonton. Hafiz menilai seni memiliki kekuatan untuk menyampaikan pesan lingkungan dengan cara yang lebih menyentuh.
“Kami mencoba menerjemahkan situasi Sungai Deli melalui bahasa seni yang dekat dengan masyarakat. Seni memiliki kemampuan menyentuh sisi emosional sehingga pesan-pesan lingkungan dan kebudayaan dapat diterima lebih mendalam,” katanya.

Sejumlah tokoh turut hadir dalam pertunjukan tersebut, salah satunya Sultan Deli XIV, Tuanku Aria Mahmud Lamanjiji. Kehadirannya menjadi simbol dukungan terhadap upaya pelestarian Sungai Deli. Tuanku Aria mengaku merasa nyaman berada di sekitar sungai dan mengajak masyarakat bantaran untuk kembali membangun hubungan harmonis dengan Sungai Deli. Ia menekankan pentingnya tidak membuang sampah sembarangan serta menghidupkan kembali kegiatan-kegiatan positif, seperti mengaji di lingkungan sekitar sungai.
Menurutnya, Sungai Deli juga menyimpan potensi ekonomi yang besar jika dikelola dengan baik. Adegan yang sangat memukau dari pertunjukan teater Ibu Air Mata Sungai Karya Hafiz Ta’adi yang dipertunjukkan di kawasan Sei Mati Medan diatas sungai Deli (foto: Mafayulie) “Banyak peluang yang bisa membangkitkan ekonomi warga sekitar sungai.
Memang ada pembahasan menjadikan Sungai Deli sebagai kawasan wisata. Banyak ide yang bisa dikembangkan untuk menjadikan daya tarik Sungai Deli ini. Mari kembalikan kejayaan Sungai Deli,” ujarnya. Ia pun berjanji akan membawa gagasan tersebut kepada Pemerintah Kota Medan demi terwujudnya pengelolaan Sungai Deli yang lebih baik. Sementara itu, Founder Sasude, Lukman Hakim Siagian, mengatakan pihaknya selama ini aktif melibatkan anak-anak bantaran sungai dalam berbagai kegiatan edukatif, mulai dari mengaji bersama hingga pendidikan lingkungan.
“Kami berharap kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat kepedulian masyarakat terhadap Sungai Deli. Upaya menjaga sungai tidak bisa dilakukan sendiri, tetapi membutuhkan keterlibatan semua pihak, mulai dari komunitas, seniman, akademisi, hingga masyarakat umum,” ungkap Lukman.
Respon masyarakat terhadap pertunjukan tersebut pun sangat positif. Ratusan warga memadati lokasi pada puncak acara. Riuh tepuk tangan yang menggema di sepanjang bantaran Sungai Deli menjadi pertanda bahwa pesan yang dibawa melalui seni berhasil menyentuh hati banyak orang. Di atas aliran sungai yang selama ini kerap dipandang sebelah mata, seni hadir bukan sekadar sebagai tontonan, tetapi juga sebagai pengingat bahwa Sungai Deli adalah warisan bersama yang layak dijaga dan dikembalikan kejayaannya. (kabarbuen)




