Muhammadiyah Tidak Sedang Kekurangan Amal Usaha. Muhammadiyah Sedang Menghadapi Krisis Kaderisasi.
(Tulisan ke-59 dari Beberapa Tulisan Terkait Kaderisasi)
Oleh : Amrizal – Wakil Ketua MPKSDI PWM Sumut / Dosen Universitas Negeri Medan
Kita sering bangga ketika berbicara tentang Muhammadiyah. Kita menyebut ribuan sekolah, ratusan perguruan tinggi, rumah sakit yang terus bertambah, jaringan pelayanan sosial yang luas, serta berbagai kontribusi Muhammadiyah bagi bangsa. Dan memang kita berhak bangga.
Selama lebih dari satu abad, Muhammadiyah telah membuktikan dirinya sebagai salah satu gerakan Islam terbesar di dunia.
Tetapi izinkan saya mengajukan satu pertanyaan yang mungkin tidak nyaman:
Apakah pertumbuhan amal usaha kita hari ini diikuti oleh pertumbuhan kader yang sama kuatnya?
Ataukah sebenarnya kita sedang menikmati hasil kaderisasi masa lalu sambil perlahan kehilangan fondasi kaderisasi untuk masa depan?
Pada masa awal Muhammadiyah, kaderisasi bukan program tambahan.
Kaderisasi adalah napas gerakan.
Generasi awal Muhammadiyah tidak lahir dari kemapanan organisasi. Mereka lahir dari pengajian, pembinaan, pergulatan pemikiran, dan pengorbanan.
Mereka bukan datang untuk mencari posisi.
Mereka datang karena panggilan perjuangan.
Mereka membangun sekolah ketika belum ada gedung.
Mereka mendirikan rumah sakit ketika belum ada dana.
Mereka menghidupkan ranting ketika belum ada fasilitas.
Mereka mewarisi cita-cita, bukan kenyamanan.
Pada masa perkembangan Muhammadiyah, kaderisasi melahirkan banyak tokoh. Dari rahim Muhammadiyah lahir ulama, guru, dokter, akademisi, aktivis sosial, birokrat, politisi, dan pemimpin bangsa. Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah, Pemuda Muhammadiyah, Hizbul Wathan, dan Tapak Suci menjadi jalur-jalur pengkaderan yang hidup.
Pengajian ranting ramai.
Cabang menjadi pusat pembinaan.
Rumah guru Muhammadiyah menjadi tempat diskusi.
Masjid menjadi pusat kaderisasi.
Organisasi bergerak karena kader.
Dan kader lahir karena pembinaan.
Tetapi hari ini kita perlu jujur.
Ada gejala yang tidak boleh terus-menerus kita sembunyikan di balik kebanggaan statistik amal usaha. Kita sedang menghadapi persoalan kaderisasi yang serius.
Tidak di semua tempat. Tetapi cukup banyak untuk membuat kita khawatir.
Hari ini tidak sedikit ranting yang kesulitan mencari pimpinan baru.
Nama-nama yang muncul dalam musyawarah sering kali nama yang sama.
Periode berganti.
Orangnya tetap.
Jabatan berpindah.
Pelakunya tetap.
Beban organisasi berputar pada lingkaran kecil yang semakin menua. Sementara kader muda yang siap menggantikan belum cukup tersedia. Di banyak tempat, regenerasi terjadi bukan karena kaderisasi berhasil. Tetapi karena kader senior sudah terlalu lelah untuk melanjutkan.
Kita juga harus jujur melihat kenyataan di cabang dan ranting. Banyak ranting hidup karena satu atau dua keluarga. Banyak cabang bergerak karena beberapa orang yang terus memikul beban organisasi. Ketika mereka sakit, pindah, atau wafat, aktivitas organisasi ikut melemah. Ini bukan tanda organisasi yang kuat. Ini tanda kaderisasi yang belum berjalan sebagaimana mestinya.
Lebih jauh lagi, kita menghadapi tantangan baru. Angkatan muda Muhammadiyah tumbuh di era yang berbeda. Mereka hidup dalam dunia yang serba cepat, serba instan, dan serba terukur.
Mereka bertanya:
“Apa manfaatnya bagi saya?”
“Apa yang saya dapatkan?”
“Apa keuntungan yang bisa diperoleh?”
Pertanyaan-pertanyaan yang dahulu berada di pinggir kini sering berada di pusat. Bukan berarti generasi muda lebih buruk. Mereka hanya lahir dalam zaman yang berbeda. Tetapi organisasi harus jujur mengakui bahwa pragmatisme semakin kuat. Tidak sedikit yang aktif ketika ada sertifikat.
Aktif ketika ada jaringan.
Aktif ketika ada peluang karier.
Aktif ketika ada panggung.
Tetapi menghilang ketika yang dibutuhkan adalah kerja sunyi. Padahal Muhammadiyah dibangun justru oleh orang-orang yang bekerja jauh sebelum ada penghargaan.
Kita juga perlu membicarakan sesuatu yang lebih sensitif.
Lemahnya internalisasi ideologi Persyarikatan.
Hari ini tidak sedikit warga Muhammadiyah yang mengenal sekolah Muhammadiyah tetapi tidak mengenal paham agama Muhammadiyah. Mengenal rumah sakit Muhammadiyah tetapi tidak memahami cita-cita Muhammadiyah. Mengenal kampus Muhammadiyah tetapi tidak memahami Kepribadian Muhammadiyah. Bahkan di sebagian Amal Usaha Muhammadiyah, jumlah orang yang bekerja atas nama Muhammadiyah jauh lebih banyak daripada orang yang memahami Muhammadiyah.
AUM berkembang.
Tetapi ideologi tidak selalu tumbuh seiring perkembangannya.
Gedung bertambah.
Tetapi pengajian ideologis tidak selalu bertambah.
Jumlah pegawai meningkat.
Tetapi jumlah kader tidak selalu meningkat.
Ini adalah persoalan yang harus diakui dengan jujur.
Di akar rumput, tantangan itu bahkan lebih terasa. Pengajian rutin semakin sulit menarik generasi muda. Kajian ideologi sering kalah oleh hiburan digital. Budaya membaca melemah. Tradisi diskusi berkurang. Kader yang mengenal sejarah Muhammadiyah secara mendalam semakin sedikit. Padahal gerakan yang kehilangan ingatan sejarah biasanya akan kehilangan arah masa depan.
Sementara itu, kita sering terpesona oleh keberhasilan yang tampak.
Kita merayakan pembangunan gedung.
Kita merayakan akreditasi.
Kita merayakan capaian angka.
Semua itu penting.
Tetapi jarang sekali kita bertanya: Berapa kader ideologis yang lahir tahun ini? Berapa pimpinan ranting muda yang berhasil dibina? Berapa guru AUM yang memahami manhaj Muhammadiyah secara baik? Berapa mahasiswa yang berubah menjadi kader persyarikatan setelah lulus? Pertanyaan-pertanyaan ini jauh lebih menentukan masa depan daripada sekadar jumlah bangunan yang berhasil didirikan.
Karena sesungguhnya ancaman terbesar Muhammadiyah di masa depan bukanlah kompetisi dengan organisasi lain. Bukan pula perubahan teknologi. Bukan bahkan keterbatasan dana.
Ancaman terbesar adalah jika Muhammadiyah menjadi besar secara institusi tetapi mengecil secara ideologi. Menjadi kaya secara aset tetapi miskin kader. Menjadi kuat secara administrasi tetapi lemah dalam regenerasi. Menjadi terkenal di ruang publik tetapi kehilangan ruh gerakan di akar rumput.
Maka autokritik ini tidak boleh berhenti pada keluhan.
Kita harus kembali menjadikan kaderisasi sebagai prioritas utama Persyarikatan.
Bukan proyek sampingan.
Bukan agenda seremonial.
Bukan sekadar pelatihan sesekali.
Tetapi pusat dari seluruh gerak Muhammadiyah. Karena sejarah menunjukkan bahwa Muhammadiyah tidak dibesarkan oleh gedung. Muhammadiyah dibesarkan oleh manusia. Dan masa depan Muhammadiyah tidak akan ditentukan oleh berapa banyak aset yang berhasil kita wariskan.
Masa depan Muhammadiyah akan ditentukan oleh apakah kita berhasil mewariskan ideologi, nilai, militansi, dan semangat berjuang kepada generasi berikutnya.
Sebab ketika sebuah organisasi kehilangan kader, ia masih bisa bertahan beberapa tahun dengan aset yang dimilikinya.
Tetapi ketika sebuah organisasi kehilangan ruh kaderisasinya, sesungguhnya ia sedang menabung krisis yang baru akan terlihat satu atau dua dekade kemudian.
Dan mungkin, jika kita tidak mulai jujur hari ini, krisis itu sedang tumbuh diam-diam di tengah kita.
Wallahu a’lam bish shawab



