PWMJATENG.COM, Paciran — Khutbah Idul Adha di Desa Sidokumpul, Paciran, Jawa Timur menghadirkan pesan spiritual yang sangat mendalam bagi ribuan jemaah. Dr. M. Sholihin Fanani selaku khatib menegaskan bahwa umat Islam harus mampu mengambil hikmah Idul Adha untuk memotong ego sosial dalam diri mereka.
Menurut Sholihin, momentum tahunan ini bukan sekadar ritual menyembelih hewan kurban tanpa makna. Ibadah mulia tersebut justru menjadi refleksi penting untuk melahirkan perubahan perilaku yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Filosofi “TITAH” dalam Ibadah Kurban
Guna memudahkan jemaah, Sholihin merangkum esensi Idul Adha tersebut ke dalam konsep “TITAH”. Akronim ini terdiri dari empat pilar utama, yaitu Tauhid, Ikhlas, Taawun, dan Akhirat.
Pilar pertama, Tauhid, merujuk pada keteladanan Nabi Ibrahim AS yang memiliki keimanan luar biasa kokoh. Fondasi ketauhidan yang kuat ini wajib menjadi landasan utama dalam kehidupan pribadi, keluarga, hingga bernegara. Selanjutnya, pilar kedua adalah Ikhlas yang menjadi penentu utama apakah Allah SWT menerima amal ibadah manusia atau tidak.
“Setiap amal hendaknya berjalan semata-mata karena Allah, bukan demi mengejar pujian manusia,” ujar Sholihin di hadapan jemaah yang memadati lokasi salat.
Esensi Idul Adha untuk Solidaritas
Pilar ketiga dalam konsep tersebut adalah Taawun yang berarti saling tolong-menolong antar-sesama manusia. Prinsip ini menegaskan bahwa setiap individu tidak boleh hidup egois dan hanya mementingkan diri sendiri. Melalui semangat berbagi daging kurban, umat Islam sebenarnya sedang mengasah arti kurban yang sesungguhnya untuk memperkuat solidaritas.
Sementara itu, pilar terakhir adalah Akhirat. Pengingat ini menyadarkan manusia bahwa kehidupan dunia ini hanya bersifat sementara, sehingga setiap orang perlu menyiapkan bekal terbaik. Sholihin kemudian mengutip hadis Rasulullah SAW mengenai tiga perkara yang pahalanya tidak akan terputus setelah manusia meninggal dunia. Ketiga hal tersebut meliputi sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, serta doa dari anak yang saleh.
Aksi Nyata Warga Sidokumpul
Penerapan nyata dari khutbah Idul Adha yang sejuk ini langsung terlihat dalam aktivitas sosial masyarakat Desa Sidokumpul. Panitia kurban setempat sukses menyembelih enam ekor sapi dan 70 ekor kambing untuk warga.
Seluruh paket daging tersebut langsung didistribusikan secara merata kepada masyarakat yang berhak menerima. Antusiasme warga ini membuktikan bahwa masyarakat memahami hikmah Idul Adha secara utuh dengan cara menghadirkan kebermanfaatan nyata bagi lingkungan sekitar.
Kontributor: Hendra
Editor: Ayma
The post Mengenal Konsep TITAH: Hikmah Idul Adha yang Jadi Kunci Pengikis Sifat Egois appeared first on Muhammadiyah Jateng.




