PWMJATENG.COM, MANOKWARI — Di tengah tantangan krisis iklim, sebuah sekolah di Manokwari mendobrak batasan dengan meresmikan kurikulum konservasi yang inklusif, di mana 70 persen siswanya justru berasal dari latar belakang agama non-Muslim.
SMAMCO Manokwari kini menjadi simbol nyata pendidikan konservasi Indonesia yang inklusif. Mayoritas siswanya, sekitar 60 hingga 70 persen, merupakan anak asli Papua yang memeluk agama non-Muslim. Sekolah ini membuktikan bahwa pendidikan karakter inklusif mampu berjalan berdampingan dengan nilai religius.
“Kami ingin anak-anak belajar di luar kelas agar memahami cara menjaga, merawat, dan terlibat langsung dalam konservasi sejak dini,” ujar Kepala SMAMCO Manokwari, Maesarah. Ia berkomitmen menghadirkan sekolah ramah lingkungan yang membumi bagi seluruh siswa.
Tiga Pilar Pendidikan Masa Depan
Kurikulum konservasi sekolah ini menerapkan tiga prinsip utama yang adaptif bagi perkembangan siswa. Ketiga pilar tersebut meliputi belajar rasa, belajar karakter, dan belajar karya. Melalui konsep ini, siswa menumbuhkan empati mendalam terhadap lingkungan di sekitarnya.
Sekolah ini mengintegrasikan materi kurikulum sekolah hijau yang sangat kontekstual. Siswa mempelajari konservasi hutan, satwa endemik Papua, hingga pengelolaan pangan lokal. Pembelajaran berlangsung dinamis melalui praktik langsung di alam dan riset sederhana.
“Krisis iklim dan kerusakan lingkungan tidak bisa diselesaikan hanya dengan teori. Anak-anak harus dibiasakan hidup bersama alam, memahami ekosistemnya, dan membangun kesadaran bahwa menjaga bumi adalah tanggung jawab bersama,” jelas Direktur EcoBhinneka Muhammadiyah, Hening Parlan.
Kolaborasi untuk Kelestarian
Kehadiran SMAMCO merupakan hasil kerja sama strategis berbagai pihak. Kolaborasi melibatkan pemerintah daerah, WWF-Indonesia, serta jaringan EcoBhinneka Muhammadiyah. Kemitraan ini memastikan keberlanjutan modul dan pelatihan bagi para guru dalam tiga tahun ke depan.
Semangat gotong royong menjadi kunci percepatan pembangunan fisik sekolah. Hanya dalam waktu empat bulan, 13 bangunan sekolah berdiri megah berkat dukungan masyarakat. Hal ini mencerminkan tingginya antusiasme warga terhadap inovasi pendidikan lingkungan di Manokwari.
“SMAMCO Manokwari memiliki ciri khas yang sangat baik karena mengintegrasikan pendidikan dengan konservasi lingkungan. Ini selaras dengan arah kebijakan pemerintah dalam membangun generasi yang unggul sekaligus memiliki kesadaran menjaga alam,” tegas Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed.
SMAMCO kini melangkah lebih jauh dengan capaian prestasi di bidang seni dan lingkungan. Keberhasilan siswa dalam lomba berkebun di lahan kering menjadi bukti nyata efektivitas kurikulum tersebut. Sekolah ini pun siap menjadi model bagi lembaga pendidikan lain di seluruh Indonesia.
Kontributor : Farah Adiba
Editor: Al-Afasy
The post Bukan Sekadar Sekolah, SMAMCO Manokwari Jadi Simbol Toleransi dan Harapan Baru di Tanah Papua appeared first on Muhammadiyah Jateng.




