MENELADANI PENGORBANAN NABI IBRAHIM: DARI SEJARAH MENUJU KEBANGKITAN UMAT
Oleh : Talkisman Tanjung
اَلْحَمْدُ للهِ الًّذِيْ أَمَرَنَا بِالتَّقْوَى وَ نَهَانَا عَنِ اتِّبَاعِ الْهَوَى. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ نِعْمَ الْوَكِيل وَنِعْمَ الْمَوْلَى، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَ صَلَّ اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الْهُدَى وَ عَلَى اَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ أَهْلِ الصِّدقِ وَ الْوَفَا
اَمَّا بَعْدُ: فَيَاأيُّهَا الإِخْوَان، أوْصُيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمْ وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ. وقَالَ أَيْضاً إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ. إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ. صَدَقَ اللهُ العَظِيمْ
اللهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ وللهِ الحَمْد
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.
Hari ini kita berkumpul di lapangan ini dalam suasana Idul Adha. Takbir bergema. Hati bergetar. Mata sebagian orang mungkin berkaca-kaca mengenang dosa dan nikmat Allah yang begitu besar. Berbagai suasana hati akan terlihat pada hari ini. Allah SWT akan benar-benar memastikan siapa dari hamba-hamba-Nya yang menunjukkan baktinya dengan dasar ketaqwaan kepada-Nya.
Sebagai hamba yang tau berterima kasih, maka sudah sepantasnya kita bersyukur kehadhirat Allah SWT, sebagai sang Khaliq yang telah menciptakan kita dalam sesempurna bentuk, dilengkapi dengan berbagai fasilitas, sarana dan prasarana untuk mengharungi gelombang kehidupan didunia ini, yang terkadang tenang, menyejukkan, tetapi juga tidak jarang berupa badai yang tak tertahankan. Itulah model kehidupan yang harus kita lalui sebagai bentuk perjuangan, mengukir amal sholeh, dan menunjukkan kepada sang Khaliq, ya Allah Rabbul ‘Alamiin, inilah amal yang terbaik yang bisa kami persembahkan, semoga Engkau memberikan nilai yang terbaik juga untuk kami.
Shalawat berangkaikan salam, kita mohonkan agar dicurahkan untuk hamba-Nya yang tercinta, Rasulullah SAW, seorang panutan, suri tauladan yang sengaja diutus oleh Allah SWT agar kita ummatnya ini bisa lebih mudah menjalani berbagai gelombang kehidupan yang dahsyat dan menakutkan itu. Sebab tanpa bimbingan, pedoman dan panutan dari Rasulullah SAW, mungkin tidak ada diantara kita yang mampu mengharungi kehidupan ini dengan selamat.
للهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ وللهِ الحَمْد
Hari ini adalah hari raya Idul Adha, hari dimana berbagai bentuk ritual ibadah diperlihatkan, dikerjakan secara bersama-sama, dan puncak dari segala ibadah akan menguji keimanan dan ketaqwaan kita masing-masing. Idul Adha bukan sekadar hari makan daging. Bukan sekadar hari menyembelih kambing dan sapi. Idul Adha adalah madrasah kehidupan. Madrasah pengorbanan. Tetapi ia adalah Madrasah keikhlasan, Madrasah tauhid.
Hari ini kita diajak membuka kembali lembaran sejarah agung keluarga Nabi Ibrahim AS. Sebuah keluarga yang diuji dengan ujian yang tidak ringan. Tetapi semua bentuk ujian itu dilalui dengan nilai cumlaud, berkat dorongan Taqwa yang luar biasa tertanam pada diri pribadi masing-masing tokoh dan panutan kita ini.
Kalau kita hari ini kadang sudah mengeluh hanya karena harga cabai naik, harga barang-barang kebutuhan pokok melambung tinggi dan berbagai persoalan kebutuhan hidup didunia mengalami masalah, kita semua sudah galau dan cenderung tidak terkendali lagi. Namun Nabi Ibrahim diuji dengan perintah menyembelih anaknya sendiri, beliau menghadapi dengan tenang, melakukan analisa spiritual yang mendalam, akhirnya menemukan satu keputusan bahwa perintah Allah itu harus dilaksanakan tanpa keraguan.
Kalau kita hari ini panik karena sinyal HP hilang beberapa jam, Siti Hajar ditinggalkan oleh suami tercintanya di sebuah lembah yang tidak menggambarkan adanya tanda-tanda kehidupan, yaitu lembah Bakkah, tidak ada manusia yang lain, tanpa air, tanpa kehidupan, beliau mampu melaluinya dengan sukses tanpa mengeluh sedikitpun. Beliau berjuang dengan didasari keyakinan dan ketaqwaan bahwa Allah SWT tidak akan mengabaikan dan membiarkan mereka mati ditengah alam yang tak berkehiupan itu.
Kalau kita hari ini berat bangun Subuh untuk melaksanakan Shalat Subuh karena dingin, atau karena alasan-alasan yang lain,tanpa ada yang tersakiti dan tertindas, maka Nabi Ismail a.s sebagai salah seorang figure idola dan panutan semua ummat justru rela lehernya disembelih demi taat kepada perintah Allah SWT.
للهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ وللهِ الحَمْد
Sejarah Besar Nabi Ibrahim AS
Jamaah yang dimuliakan Allah.
Nabi Ibrahim hidup di tengah masyarakat penyembah berhala. Ayahnya sendiri seorang designer dan teknokrat patung yang terkenal. Lingkungannya rusak. Akidah manusia hancur. Tetapi Ibrahim muda tidak ikut hanyut. Aqidah Nabi Ibrahim a.s tak obahnya seperti ikan ditengah lautan, meskipun seluruh alam disekitar kehidupannya asin, namun ikan itu sendiri tetap tawar tidaklah asin. Dia tidak sedikitpun terpengaruh oleh lingkungannya. Sangat berbeda dengan generasi-generasi kita hari ini. Mereka selalu menganggap yang datangnya dari luar itu adalah sesuatu yang baik untuk kesuksesannya, padahal justru ketika dia terjun menyatu dengan budaya dan kebiasaan luar tersebut, pada saat itu juga mereka telah menceburkan dirinya kepada kehancuran.
Allah SWT berfirman:
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا هَٰذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنْتُمْ لَهَا عَاكِفُونَ
“Ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya dan kaumnya: Patung-patung apakah ini yang kalian tekun menyembahnya?”
(QS. Al-Anbiya: 52)
Ibrahim melawan arus. Beliau tidak takut walaupun sendirian. Kebenaran akan selalu tegak meskipun hanya kita sendiri yang mendirikannya.
Pelajaran penting bagi umat hari ini:
Jangan ikuti hal-hal yang salah hanya karena ramai orang melakukannya. Tetapi tetaplah fokus untuk mencapai tujuan, yaitu ridha Allah SWT. Hari ini banyak “berhala modern”:
uang, jabatan, popularitas, media sosial, gaya hidup, bahkan hawa nafsu. Semua itu akan mengganggu dan menghalangi kita untuk bisa sampai kepantai tujuan.
Ada orang yang sangat takut kehilangan jabatan, tetapi tidak takut meninggalkan shalat. Ada orang yang rajin mengecek WhatsApp, tetapi jarang membuka Al-Qur’an. Ada yang hafal jadwal liga bola, tetapi lupa jadwal pengajian. Inilah penyakit zaman hari ini.
Nabi Ibrahim mengajarkan keberanian menjaga iman di tengah kerusakan zaman. Kita lihat bagaimana beliau mampu bertahan dengan aqidah atau tauhid yang ditegakkannya. Meskipun sendiri tak berteman, tetapi keyakinannya kuat dan teguh bagaikan batu karang ditengah lautan, sekuat apapun ombak dan badai menghantam, dan itu terjadi terus menerus dalam jangka waktu yang panjang, karang tersebut tetap berdiri kokoh tak tergoyahkan.
للهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ وللهِ الحَمْد
Kisah Dibakar Hidup-Hidup
Jamaah rahimakumullah.
Karena menghancurkan berhala, Nabi Ibrahim dihukum bakar hidup-hidup oleh Raja Namrud. Api dinyalakan besar sekali.Semua masyarakat dikumpulkan untuk menyaksikan pelaksanaan hukuman kepada Nabi Ibrahim karena beliau tetap tegar mempertahankan tauhidnya ditengah praktek syirik dan kezholiman yang sedang berada dititik puncaknya
Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya tertindas dan terzholimi , Allah berfirman:
قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ
“Kami berfirman: Wahai api, jadilah dingin dan penyelamat bagi Ibrahim.”
(QS. Al-Anbiya: 69)
Subhanallah.
Kalau Allah sudah menolong: api menjadi dingin laut bisa terbelah, di padang pasir yang tandus dan berbatu-batuan bisa keluar air, itulah air zam-zam.
Maka jangan terlalu takut menghadapi hidup ini. Ketika badai kehidupan itu menerpa dengan kencang dan kuatnya, boleh kita goyah, tetapi jaga jangan sampai tumbang, dan segeralah pegang kendali, kembalilah fokus kepada haluan, tujuan kita harus sampai kepantai kebahagiaan.
Kadang manusia hari ini sedikit diuji langsung mengeluh: “Ya Allah berat kali hidup ini…”
Padahal para nabi diuji jauh lebih berat. Dan tidak satupun diantara kita bisa menyamai ujian yang datang kepada para Nabi dan Rasul.
Rasulullah SAW bersabda:
أَشَدُّ النَّاسِ بَلَاءً الْأَنْبِيَاءُ
“Manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi.”
(HR. Tirmidzi)
للهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ وللهِ الحَمْد
Kisah Siti Hajar dan Nabi Ismail
Jamaah yang dirahmati Allah.
Salah satu kisah paling menyentuh dalam sejarah manusia adalah ketika Nabi Ibrahim meninggalkan Siti Hajar dan Ismail di tanah Makkah yang tandus.
Bayangkan… Seorang ibu sendirian. Membawa bayi kecil. Tidak ada air. Tidak ada pohon. Tidak ada manusia. Dan boleh dikatakan tidak ada kehidupan.
Siti Hajar bertanya kepada suaminya tercinta Nabi Ibrahim a.s :
“Apakah ini perintah Allah?”
Ketika Ibrahim menjawab: “Ya.” Dan dalam riwayat lain disebutkan Nabi Ibrahin hanya berisyarat dengan mengangguk, Maka Siti Hajar berkata:
“Kalau begitu Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.”
Hari ini sedikit saja usaha sepi, sebagian orang langsung putus asa. Sedikit saja hasil kebun turun, langsung hilang semangat.
Padahal Siti Hajar mengajarkan: Orang beriman boleh menangis, tetapi tidak boleh putus asa. Beliau berlari antara Shafa dan Marwah tujuh kali mencari air. Dan dari perjuangan itulah lahir air zamzam, yang sampai hari ini membawa keberkahan dan kemanfaatan bagi ummat manusia.
Pelajaran penting:
Doa harus disertai usaha. Kadang ada orang maunya sukses tetapi malas bergerak. Mau sawit bagus tetapi rumput tidak dibersihkan. Mau anak pintar tetapi HP dibelikan terus, Al-Qur’an tidak diajarkan. Mau keluarga harmonis tetapi ego tidak dikurangi. Apa yang kita lakukan selalu berupa hal-hal yang bertentangan dengan kesuksesan dan keberhasilan. Ketika kegagalan dan kehancuran datang, kita sering mencari kambing hitam, bisa saja yang disalahkan adalah pihak sekolah, atau mungkin yang lebih luas lagi yang disalahkan adalah lingkungan yang bobrok dan tak bermoral, padahal sesungguhnya kesalahan itu ada pada diri kita sebagai orang tua yang tidak amanah menjaga titipan Allah SWT. Yang kita pikirkan cuma isi perut anak kita, tetapi isi batin dan hatinya berupa keimanan dan ketaqwaan tak pernah kita sentuh. Na’uuzubillah.
للهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ وللهِ الحَمْد
Ujian Terbesar: Menyembelih Nabi Ismail
Jamaah Idul Adha rahimakumullah.
Ujian terbesar Nabi Ibrahim adalah ketika diperintahkan menyembelih putranya sendiri.
Allah berfirman:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ
“Maka ketika anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersama ayahnya, Ibrahim berkata: Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.”
(QS. Ash-Shaffat: 102)
Lalu Nabi Ismail menjawab:
يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
“Wahai ayahanda, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
(QS. Ash-Shaffat: 102)
Subhanallah…
Ini hasil pendidikan tauhid dalam keluarga, yang akan mampu menahan dahsyatnya gelombang dan badai kehidupan didunia ini, dan akan berakhir ditaman syurganya Allah SWT.
Hari ini banyak orang tua sibuk mencarikan dan mengumpulkan harta untuk warisan, tetapi lupa mewariskan iman dan taqwa kepada generasi-generasinya. Hal ini terbukti berapa banyak angkatan muda kita hari ini yang tidak hanya sekedar mengabaikan shalat, tetapi justru tidak pandai sama sekali melaksanakan shalat.
Sibuk membelikan motor, tetapi lupa mengajari shalat. Sibuk mencarikan sekolah mahal, tetapi lupa mendidik akhlak.
Akibatnya:
anak pintar tetapi kasar, anak cerdas tetapi tidak hormat kepada orang yang lebih tua, anak hebat teknologi tetapi lemah iman.
Anak-anak kita hari ini banyak yang tidak beradab. Maka pilihlah sekolah yang didalamnya diajarkan pelajaran yang akan membentuk anak kita punya adab sekaligus menyadari dirinya sebagai seorang hamba yang wajib untuk taat dan beribadah kepada sang Khaliq. Serahkanlah anak kita kepada guru yang tidak hipokrit dan munafik, tetapi guru yang ikhlas untuk mendidik anak kita bisa menjadi manusia yang berakhlaq, bermoral dan beribadah. Jangan hanya tergiur dengan penampilan-penampilan duniawi, yang tidak akan pernah membawa ketenangan, kenyamanan dan kebahagiaan yang sejati. Alasan yang paling mendasar adalah, sekecil apapun noda hitam kita torehkan kepada generasi atau anak kita, semua akan dipertanggunjawabkan kepada Allah SWT.
للهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ وللهِ الحَمْد
Makna Qurban untuk Masa Kini
Jamaah yang dimuliakan Allah.
Qurban bukan hanya menyembelih hewan. Tetapi menyembelih: kesombongan, kerakusan, egoisme, kemalasan, dan cinta dunia berlebihan.
Allah SWT berfirman:
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ
“Daging dan darah hewan qurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.”
(QS. Al-Hajj: 37)
Hari ini manusia banyak ingin dilayani, tetapi sedikit yang mau berkorban. Padahal bangsa besar lahir dari pengorbanan. Ulama dahulu berjalan kaki berbulan-bulan mencari ilmu. Para pejuang rela kehilangan nyawa demi bangsa. Pendiri-pendiri organisasi Islam rela dihina demi dakwah. Berbagai fitnah ditimbulkan dan disebarkan, padahal dia tau fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan.
Maka apapun bentuk pengorbanan yang kita berikan dan persembahkan kepada Allah SWT, semuanya tidak akan berarti dan tidak akan dipandang oleh Allah, kecuali apabila semuanya kita dasari dengan ketaqwaan kepada-Nya.
Kisah Teladan yang Menyentuh
Jamaah rahimakumullah.
Ada kisah seorang ibu miskin yang menabung sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun agar bisa berqurban. Ketika ditanya: “Mengapa bersusah payah berqurban?” Beliau menjawab:
“Saya ingin anak-anak saya belajar bahwa agama ini harus diperjuangkan.”
للهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ وللهِ الحَمْد
Bukan besar kecil hewannya yang Allah lihat. Tetapi besar kecil keikhlasannya. Kadang ada orang mampu beli sapi, tetapi berat berqurban untuk bangun Subuh. Ada yang mudah membeli kambing, tetapi sulit memaafkan saudaranya. Maka Idul Adha harus melahirkan perubahan akhlak. Jika tidak, berarti kita masih tergolong dalam kelompok besar yaitu orang-orang yang tidak dipandang sama sekali oleh Allah SWT. Na’udzubillah….
Tantangan Masa Depan Umat
Jamaah yang dirahmati Allah.
Hari ini umat menghadapi berbagai penyakit masyarakat :
narkoba, judi online, pinjaman ribawi, kerusakan moral, fitnah media sosial, dan lunturnya akhlak serta moralnya.
Banyak rumah tangga rusak bukan karena miskin, tetapi karena hilang kesabaran. Banyak anak jauh dari orang tua bukan karena jarak, tetapi karena hilang perhatian. Maka Idul Adha mengajarkan: Kembali kepada Allah adalah solusi terbesar kehidupan.
Kalau keluarga ingin selamat: hidupkan shalat.
Kalau masyarakat ingin damai: hidupkan kepedulian.
Kalau bangsa ingin kuat: hidupkan kejujuran.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.
Mari jadikan Idul Adha tahun ini sebagai momentum perubahan. Mari sembelih:
ego kita, kesombongan kita, kemalasan kita, dendam kita, dan cinta dunia yang berlebihan. Semoga Allah menjadikan kita umat yang kuat imannya, kokoh keluarganya, luas kepeduliannya, dan besar pengorbanannya.
Diakhir khutbah ini marilah kita merenung dan bermunajat kepada Allah SWT, kita lakukan introspeksi dan evaluasi diri, barangkali masih banyak sisi kehihidupan kita yang belum sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah SWT. Hari raya akan berlalu. Takbir akan berhenti.
Daging qurban akan habis.
Tetapi nilai pengorbanan harus tetap hidup. Jangan sampai setelah Idul Adha: masjid kembali sepi, Al-Qur’an kembali berdebu, shalat kembali terlambat, dan hati kembali keras.
Ingatlah…
Kematian tidak pernah menunggu tua. Kuburan tidak membedakan kaya dan miskin.
Yang dibawa hanyalah: iman, amal, dan keikhlasan. Marilah kita berdo’a kepada Allah SWT, dengan menundukkan hati, pikiran dan peasaan kita , bahwa semuanya itu adalah kecil dan hanya Allahlah yang Maha besar, Maha Agung Maha segalanya.
اMarilah kta bermunajat kepada Allah SWT :
الحَمْدُ لله عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وأَصْحَابِهِ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ! اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمْ، إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ مُحَمَّدٍ اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِوَالْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتْ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْن، اَللّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيْمَانًا كَامِلاً وَيَقِيْنًا صَادِقًا وَرِزْقًا وَاسِعًا وَقَلْبًا خَاشِعًا وَلِسَانًا ذَاكِرًا وَحَلاَلاً طَيِّبًا وَ تَوْبَةً نَصُوْحًا. اَللّهُمَّ اجْعَلْ حَجَّنَا حَجًّا مَبْرُوْرًا وَسَعْيًا مَشْكُوْرًا وَذَنْبًا مَغْفُوْرًا وَعَمَلاً صَالِحًا مَقْبُوْلاً وَتِجَارَةً لَنْ تَبُوْرَ
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ إِلَيْهَا مَعَادُنَا
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ شَبَابَنَا شَبَابًا صَالِحًا، وَنِسَاءَنَا نِسَاءً صَالِحَاتٍ، وَاحْفَظْ بِلَادَنَا مِنَ الْفِتَنِ وَالْمَصَائِبِ
اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَالله, اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَر.
*** Penulis Talkisman Tanjung, Tokoh Muhammadiyah, domisili Batahan, Mandailing Natal
ُ



