PWMJATENG.COM, JEJU — Universitas Muhammadiyah Surakarta terus menancapkan pengaruhnya dalam peta persaingan perguruan tinggi di tingkat internasional. Mereka mendelegasikan sejumlah pakar teknologi untuk merancang kiblat kurikulum masa depan yang adaptif. Oleh karena itu, kampus ini mengambil peran aktif dalam lokakarya bertajuk Capacity-Building Workshop on AI and DX in TVET di Jeju, Korea Selatan, pada 26–30 April 2026.
Pada awalnya, Cheju Halla University bersama SEAMEO TED menginisiasi forum elit tersebut untuk mengumpulkan para pengambil kebijakan se-ASEAN. Seketika itu juga, suasana diskusi hangat langsung tercipta saat perwakilan UMS mulai memaparkan peta jalan digitalisasi kampus. Dua dosen Teknik Informatika, Dr. Irma Yuliana dan Aris Rakhmadi, hadir menjadi motor penggerak delegasi Indonesia.
Berdasarkan hasil pertemuan bilateral, misi utama delegasi ini berfokus pada penguatan kurikulum teknologi modern. Pihak manajemen menginginkan adanya lompatan besar dalam implementasi Pendidikan Berbasis AI. Alhasil, forum internasional ini bermuara pada penandatanganan berkas kerja sama resmi antara kedua belah pihak melalui skema program Regional Innovation System & Education (RISE).
Keuntungan Strategis Program Kemitraan RISE
Merespon keberhasilan kerja sama tersebut, Irma Yuliana menyatakan bahwa program kemitraan ini membuka banyak pintu kesempatan baru bagi civitas akademika. Sebab, platform RISE mengintegrasikan dunia akademik, pelaku industri, serta pemerintah daerah secara padu. Menurut beliau, kesepakatan ini mencakup agenda pertukaran mahasiswa, riset kolaboratif berskala internasional, hingga kuliah umum daring.
“Kerja sama ini membuka peluang pengembangan kolaborasi dalam bidang pertukaran mahasiswa, riset internasional, hingga penguatan ekosistem pendidikan digital,” ujar Irma dalam keterangan pers, Sabtu (23/5).
Lebih lanjut, kedua utusan universitas menyerap berbagai materi esensial terkait ekosistem pembelajaran pintar selama lokakarya. Mereka mempelajari sistem analisis data belajar (learning analytics) serta teknologi replika digital (digital twin) berbasis sensor jarak jauh. Sebaliknya, para pemateri dari Korea juga mengapresiasi kesiapan infrastruktur digital yang kini tertanam di lingkungan Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Pergeseran Paradigma Menuju AI Transformation
Terkait dengan tantangan masa depan, para praktisi global mengingatkan pentingnya perubahan cara pandang kepemimpinan lembaga. Mantan Presiden Tashkent University, Yongwook Jun, menegaskan bahwa kecerdasan buatan kini berperan sebagai kekuatan utama dunia. Melalui pendekatan baru, teknologi ini akan merombak total arah pengembangan kompetensi sumber daya manusia secara global.
Kenyataannya, dunia teknologi kini mulai bergeser dari sekadar transformasi digital pendidikan menuju fase AI Transformation (AX). Direktur Diquest Inc., Donghun Lee, menjelaskan bahwa fase AX ini akan mengintegrasikan algoritma pintar ke dalam seluruh proses pengambilan keputusan. Meskipun demikian, Lee menjamin bahwa peran dasar guru tetap aman dan tidak akan tergantikan oleh mesin.
Sebagai penutup, langkah konkret penandatanganan kerja sama ini menjadi fondasi kokoh bagi perwujudan kolaborasi global UMS. Pihak rektorat kini bersiap menyusun tim teknis khusus untuk menurunkan poin-poin kesepakatan ke dalam program studi. Komitmen kuat ini bergulir demi melahirkan ekosistem kampus yang tidak hanya cerdas teknologi, tetapi tetap menjunjung tinggi nilai-nilai humanis.
Kontributor: Fika
Editor: ayma
The post Gandeng Kampus Korea, UMS Matangkan Sistem Pendidikan Berbasis AI appeared first on Muhammadiyah Jateng.



