Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah Lepas Kepergian Prof Siti Chamamah Soeratno, Jejak Pengabdiannya Terus Menginspirasi
INFOMU.CO | Yogyakarta – Ribuan warga Muhammadiyah, ‘Aisyiyah, civitas akademika Univeritas Gadjah Mada (UGM), serta masyarakat umum memadati Masjid Gedhe Kauman, Yogyakarta pada Rabu (8/7) untuk mengantarkan kepergian tokoh sekaligus salah satu kader terbaik Persyarikatan, Siti Chamamah Soeratno Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah periode 2000-2005 dan 2005-2010.
Kepergian Siti Chamamah Soeratno meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, kolega, dan keluarga besar Muhammadiyah-‘Aisyiyah. Sosoknya dikenang sebagai ulama intelektual, akademisi, sekaligus kader persyarikatan yang sepanjang hayatnya mendedikasikan diri bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan Muhammadiyah.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyampaikan bahwa almarhumah merupakan seorang ibu, tokoh persyarikatan, guru bangsa, akademisi, dan cendekiawan sejati yang meninggalkan warisan pemikiran dan keteladanan.
“Lahir pada tahun 1941, beliau adalah sosok yang sangat mencintai ilmu, suka berdiskusi, bahkan pandai berdebat dalam hal keilmuan. Keahlian akademisnya diakui secara luas, sangat teliti,” tutur Haedar saat melepas jenazah di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta pada Rabu (8/7).
Haedar juga mengenang kebersamaannya dengan almarhumah ketika sama-sama menjadi penguji disertasi di Universitas Gadjah Mada. Menurutnya, almarhumah merupakan penguji yang menghadirkan suasana akademik yang hangat menggembirakan, namun tetap kritis serta tajam dalam memberikan masukan kepada para mahasiswanya.
Di mata Haedar, pengabdian almarhumah sebagai kader Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah juga sangat luar biasa. Selama puluhan tahun mengenal almarhumah, Haedar bersaksi tentang bagaimana sosok Siti Chamamah menjalankan amanah dengan penuh kesungguhan, tanpa mengenal lelah maupun batas waktu.
“Kalau orang memberi amanah beliau selalu suka mencatat. Beliau juga selalu mengatakan Muhammadiyah itu hebat, ‘Aisyiyah itu hebat karena pemikirannya yang maju melampaui zamannya, dan amaliahnya yang dirasakan langsung,” ujar Haedar.
Kemudian sebagai informasi tambahan Siti Chamamah Soeratno, dalam dunia akademik dikenal sebagai pakar filologi dan sastra Melayu yang meniti karier hingga meraih gelar Guru Besar di Universitas Gadjah Mada. Kepakarannya di bidang filologi melahirkan berbagai karya ilmiah sekaligus menjadi rujukan penting dalam pengembangan khazanah keilmuan dan kebudayaan Indonesia.
Sementara di lingkungan Persyarikatan, jejak pengabdiannya terbentang panjang. Ia tercatat sebagai Ketua Umum Nasyiatul ‘Aisyiyah periode 1965–1985, kemudian mengemban amanah sebagai anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 1995–2000. Selanjutnya, ia dipercaya memimpin Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah selama dua periode, yakni 2000–2005 dan 2005–2010.
Di bawah kepemimpinannya, ‘Aisyiyah terus memperkuat perannya sebagai gerakan perempuan Islam berkemajuan yang aktif dalam bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dan pemberdayaan masyarakat. Keteladanan, keluasan ilmu, serta dedikasi almarhumah menjadi inspirasi bagi generasi penerus dalam melanjutkan dakwah dan amal usaha Persyarikatan.
Usai disalatkan di Masjid Gedhe Kauman, jenazah Siti Chamamah Soeratno diberangkatkan menuju tempat peristirahatan terakhir yaitu di Makam Karangkajen Yogyakarta. Kepergiannya bukan hanya meninggalkan duka bagi keluarga besar Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, tetapi juga kehilangan bagi dunia pendidikan dan keilmuan Indonesia.
Warisan pemikiran, keteladanan, dan semangat pengabdiannya akan terus hidup serta menjadi inspirasi bagi lahirnya kader-kader berilmu yang kelak akan meneruskan pengabdiannya. (muhammadiyah.or.id)



